DI KARO…!!! 9 Siswa SD Korban Pelecehan Seks Oknum Guru

Korban pelecehan seks

Topmetro.News – Korban pelecehan seks yang dilakoni oknum guru kembali terbongkar. Kali ini kasus serupa terjadi di Tanah Karo. Seolah dunia pendidikan daerah ini tercoreng dengan kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakoni seorang guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) No. 0404xx di Kecamatan Kabanjahe.

Korban Mengaku ‘Digituin’ Oknum Guru

Info yang beredar, jumlah korban pun tak tanggung-tanggung. Sedikitnya, 9 orang siswi SD yang masih duduk di bangku kelas I menjadi korban kebiadaban oknum guru berinisial AT (52).

Siswa Trauma Pergi ke Sekolah

Sebagaimana disiarkan metrorakyat, menurut keterangan beberapa orangtua korban, Jumat (15/11/2019 di RSUD Kabanjahe saat mendampingi anaknya yang sedang divisum pihak rumah sakit menjelaskan bagaimana kasus ini terungkap yang awalnya karena ada seorang anak yang enggan ke sekolah.

Sehingga orangtuanya menjadi curiga dan penasaran, setelah ditanya kenapa tak mau sekolah.

artikel untuk Anda | UNTUNG ADA TNI, BERSAMA MASYARAKAT, NKRI UTUH TERJAGA

Anaknya itu mengaku kalau dia digituin gurunya sendiri.

Bak disambar petir, orangtuanya itu langsung menghubungi orangtua lainnya yang anaknya menuntut ilmu di sekolah itu.

“Tentunya, kami sebagai orangtua juga langsung menanyakan hal itu kepada anak kami masing-masing. Ada sekitar 9 anak yang buka mulut karena menjadi korban, anak-anak kami dengan polos mengaku dilecehkan gurunya. Jadi kami sangat keberatan dengan kelakuan guru itu,” ujar mereka.

Lapor ke Kantor Polisi

Dikatakan mereka, malam ini juga usai dari Rumah Sakit yang didampingi Unit UPPA Polres Karo. Mereka akan melaporkan kasus ini, anak-anak juga ikut dibawa ke Kantor Polisi untuk memberi keterangan ke penyidik.

“Mungkin saja masih ada korban lainnya, bila kita sudah melapor pasti ada juga yang akan melapor. Apa gak gila, anak-anak kami ini masih kelas 1 dan dia (red, AT) itu seorang guru. Kalau anak kami digituin, mau jadi apalagi, kan bisa rusak mentalnya. Anak kami disekolahkan bukan untuk digituin,” keluh para orangtua.

Pelaku Diseret Warga

Lebih lanjut dikatakan para orangtua murid, sebelum mereka melapor, ada salah seorang orangtua murid mendatangi rumah pelaku di dekat Kantor Samsat, Sumbul. Pelaku diseret warga dan langsung diserahkan ke Polisi.

“Untung saja tadi malam tidak diamuk warga. Karena siapapun orangtua pasti emosi kalau anaknya digituin. Saya rasa dia ada kelainan seksnya, masak anak didik sendiri dilecehkan. Jika perbuatannya terbukti, kami sebagai orangtua meminta kepada polisi agar diproses dan dihukum seberat-beratnya,” ujar mereka dengan nada emosi.

Ini Komentar Terduga Pelaku

Pantauan wartawan, Unit Perlindungan Anak dan Perempuan Polres Karo ikut mendampingi para siswi SD ke RSUD. Petugas belum dapat memberikan keterangan karena masih dalam tahap penyelidikan.

“Besok pagi saja ya, kami masih sibuk mendampingi anak-anak dan akan kita selidiki dulu,”ujar salah seorang Polwan.

Sementara, terduga pelaku AT disela–sela menjalani pemeriksaan di ruang UPPA Polres Karo, sekira jam 21.00 Wib membantah tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

“Saya tidak ada melakukan pelecehan seksual terhadap anak didik saya sendiri,” ujarnya dengan kepala tertunduk, sebagaimana disiarkan media lokal ini.

Polisi Bilang Kasusnya Masih Proses

Sedang Aiptu Antoni Ginting, Kanit UPPA Polres Karo menyebutkan, kasus itu masih diproses.

Pun begitu, keterangan dari anak-anak sudah selesai, tinggal terduga pelaku yang sedang menjalani pemeriksaan.

baca juga | OKNUM PEJABAT DI PADANG CABULI BOCAH SD

Seperti diwartakan TOPMETRO.NEWS sebelumnya, masa tua Suhardi tampaknya bakal berakhir di penjara. Oknum PNS yang menjabat Kepala Seksi (Kasi) di Pemko Padang-Sumatera Barat ini dilaporkan mencabuli N (10) bocah SD. Untunglah pria 55 tahun itu sudah diringkus polisi.

Berdasarkan laporan orang tua N, putrinya mengalami pelecehan seksual yang dilakoni Suhardi. Peristiwa itu terjadi saat pelaku atau terlapor memanggil korban dan menanyakan orang tua korban.

Namun, saat itu, korban hanya sendirian di rumah. Mengetahui orang tua tidak berada di rumah, Suhardi kemudian memberi korban uang Rp5 ribu.

sumber | metrorakyat

Related posts

Leave a Comment