You are here
Jumlah Bioskop untuk ‘A Man Called Ahok’ Kurang Hiburan 

Jumlah Bioskop untuk ‘A Man Called Ahok’ Kurang

topmetro.news – Tingginya antusias masyarakat untuk menonton Film ‘A Man Called Ahok‘, membuat jumlah bioskop untuk memutar kisah tentang mantan Gubernur DKI itu, ditambah. Informasi ini didapat dari Naning, publicist film yang lagi tayang di bioskop ini.

“Awalnya kami dapat 23 bioskop di Jakarta. Sekarang tambah diputar jadinya 38 bioskop,” ujar Naning.

Di Kota Medan sendiri, film garapan sutradara Putramatuta ini juga sedang diputar di berbagai bioskop, baik jaringan Cinemaxx maupun XXI. Dan berdasarkan amatan topmetro.news, warga Kota Medan juga terlihat antusias ingin menyaksikannya.

Untuk mengetahui jadual pemutarannya di Kota Medan, Anda bisa klik disini.

Sebenarnya film ini mendapat kritik dari Keluarga Ahok menjelang pemutaran perdananya pada tanggal 8 November 2018. Adalah adik kandung Ahok, Fify Lety Tjahaja Purnama yang menyampaikan kritik dimaksud.

Menurut Fify, sosok ayah mereka di fil itu tidak terlalu pas. Kata dia, ada beberapa sisi yang tak sesuai dengan kehidupan asli ayah mereka. Dan untuk menanggapi kritikan itu, Putramatuta selaku sutradara menjelaskan, bahwa film itu merupakan drama keluarga. Bukan dokumenter.

Seputar A Man Called Ahok

A Man Called Ahok adalah sebuah film nasional tahun 2018 yang disutradarai Putramatuta. Film ini dibuat berdasarkan Buku ‘A Man Called #Ahok: Sepenggal Kisah Perjuangan & Ketulusan’.

Buka karya Rudi Valinka itu mengisahkan kehidupan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di Belitung Timur.

Film Produksi The United Team of Art ini diproduseri bersama oleh Ilya Sigma, Emir Hakim, dan Reza Hidayat. Bintang utamanya adalah Daniel Mananta berperan sebagai Ahok dewasa dan Eric Febrian sebagai Ahok remaja.

Selain itu, deretan para pemeran lain dalam film ini antara lain Denny Sumargo, Chew Kin Wah, Sita Nursanti, Donny Damara, Ferry Salim, Eriska Rein, dan Jill Gladys.

Proses syuting film sebagian besar berlokasi di Belitung dan berjalan selama 37 hari mulai Maret hingga April 2018. Dan sesuai jadual, film ini telah diputar serentak di bioskop seluruh Indonesia sejak tanggal 8 November 2018.

Ahok adalah anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya adalah seorang tauke perusahaan pertambangan di Belitung bernama Kim Nam. Ibunya yang penyayang dan tegar bernama Buniarti. Masa kecil hidupnya bahagia dan tidak kekurangan.

BACA JUGA: Gemilang Abetnego Simanjuntak, Ibunda ‘Pergi’ Kini Dia Berjuang Sendiri

Keluarga Anti Korupsi

Bisnis ayahnya di pertambangan sangat baik. Sampai suatu saat Kim Nam harus berhadapan dengan korupsi dan ia tidak mau memberi ‘upeti’ kepada oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut. Bisnisnya perlahan mengalami kemunduran. Kehidupan Ahok yang tadinya serba berkecukupan mulai menjadi sulit.

Kim Nam yang sudah antipati dengan keadaan korupsi di Belitung mengarahkan Ahok untuk menjadi dokter. Namun Ahok mengambil keputusan lain sehingga mengakibatkan hubungan dengan ayahnya menjadi dingin.

Dengan semangat yang masih menggebu, Ahok mulai mengikuti langkah Kim Nam membuka pertambangan di Belitung dengan bermodalkan ilmu yang ia pelajari saat kuliah. Kenyataannya Ahok harus berurusan langsung dengan oknum yang sama, hingga perusahaannya harus gulung tikar.

Selain situasi korupsi yang terus menerus menggerogoti ekonomi keluarga, datang kejadian tragis yang menimpa keluarganya hingga kesehatan Kim Nam yang memburuk. Saat Ahok masih berjuang untuk melawan korupsi, musibah besar datang dan situasi bertambah runyam.

Dalam kondisi kalut, Ahok mengingat pesan ayahnya untuk menjadi pemimpin dan akhirnya ia bertekad untuk terjun ke dunia politik. Perjalanannya dimulai dari menjadi anggota DPRD, hingga ia memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Belitung Timur. Di tengah keyakinannya untuk terus maju, ada pihak yang ingin menjegal dirinya.

Namun ia tetap berpegang teguh pada nasihat dan mimpi Kim Nam untuk memperjuangkan nasib orang banyak. (TM-RAJA)

berbagai sumber

118 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment