You are here
Bertemu Presiden Bank Dunia, Jokowi Bahas Stunting Nasional 

Bertemu Presiden Bank Dunia, Jokowi Bahas Stunting

topmetro.news – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima kunjungan kehormatan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (4/7/2018). Mereka pun membahas stunting atau kurang gizi kronis pada anak.

“Presiden Kim fokus pembahasan hari ini adalah isu masalah stunting atau kurang gizi kronis bagi anak-anak. Secara pribadi, saya menganggap isu ini sangat penting,” kata Presiden Jokowi.

Ia mengatakan, Indonesia adalah salah satu negara yang belum mencapai target MDGs 1.2 terkait proporsi penduduk dengan asupan kalori di bawah tingkat konsumsi minimum. Penanganan masalah kekerdilan pada anak-anak, menurut Presiden Jokowi, selain memerlukan teknologi yang tepat, juga keterlibatan semua pihak, pemerintah, swasta, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

“Kita ketahui bersama saat ini, kita berada pada Abad ke-21. Yang merupakan era telepon pintar dan pesawat drone serta kecerdasan entitas ilmiah. Saya yakin, mekanisme yang ada dapat mengatasi stunting di kalangan anak-anak,” ujar Presiden Jokowi.

Ancaman Stunting

Bonus demografi Indonesia akan menjadi beban demografi jika diisi anak yang mengalami kekerdilan. Stunting adalah kondisi anak memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya akibat asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama. Ini sebagai dampak dari pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, kekerdilan bukan hanya masalah kesehatan tetapi bisa menganggu kesinambungan pembangunan.

“Ada sembilan juta anak Indonesia mengalami stunting. Sepertiga anak berusia 2-5 tahun. Ini masalah serius satu dari tiga anak mengalami stunting,” katanya di sela-sela pembukaan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI di Jakarta, Selasa (3/7/2018).

Kekerdilan bisa disebut pula gagal tumbuh kembang pada 1.000 hari pertama kehidupan. Menurutnya, sangat disayangkan bonus demografi akan jadi beban demografi jika diisi manusia tidak produktif.

Mewariskan Kemiskinan

Masalah kekerdilan ini tidak hanya terlihat dari tinggi badan tetapi juga pertumbuhan otak. Jika kelak saat di usia produktif sulit bersaing, maka kemiskinan orang tua akan diwariskan ke generasi berikutnya.

“Perlu pendekatan menyeluruh dan menjadi tugas dan tanggung jawab kita semua, bukan hanya tanggung jawab Kementerian Kesehatan untuk mengatasi masalah ini,” ucapnya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan masalah kekerdilan sudah terjadi lama di Indonesia. Ia pun meminta istilah kekerdilan lebih sering dipakai agar masyarakat memahaminya.

“Di kamus, stunting itu artinya kerdil. Masalah stunting atau kekerdilan itu tidak hanya kerdil fisik tetapi juga otaknya,” katanya saat memberi pengarahan pada Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI di Jakarta, Selasa (3/7/2018).

Kalla menambahkan, masalah kekerdilan bukan hal baru. Hanya saja dengan istilah stunting, bahkan ada kepala desa dan calon gubernur dalam suatu debat bingung dengan istilah stunting.

Kades Bangga Stunting

Menurutnya, ada kepala desa yang justru bangga desanya mendapat predikat banyak anak stunting. Kekurangpahaman dengan istilah itu membuat, masyarakat pun tidak paham.

“Intinya ini masalah bangsa ke depan. Bayi yang lahir jika tidak diberi gizi baik, ASI eksklusif maka 20-30 yang akan datang generasi kerdil. Produktivitas bangsa pun rendah dan bisa merusak ekonomi di masa depan,” ucapnya.

Saat ini Indonesia masuk urutan keempat negara yang masih mengalami kekerdilan anak. Sekitar sembilan juta anak Indonesia mengalami kekerdilan.

Upaya perbaikan gizi diharapkan terus didorong. Kampanye ‘Isi Piringku’ juga perlu digelorakan sesuai dengan situasi masing-masing daerah sebab daerah tentu mempunyai bahan pangan yang beragam. (TM-RED)

sumber: beritasatu.com

69 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment