You are here
Hingga 2019, Harga Minyak Dunia Akan Tetap Stabil Ekonomi & Bisnis 

Hingga 2019, Harga Minyak Dunia Akan Tetap Stabil

Topmetro.News – Harga minyak dunia kemungkinan akan tetap stabil tahun ini dan tahun depan. Itu dipengaruhi lantaran peningkatan produksi dari OPEC dan AS mampu memenuhi tingginya permintaan yang dipimpin Asia. Selain itu harga minyak dunia yang stabil membantu mengimbangi gangguan pasokan dari Iran serta tempat lain.

“Kami perkirakan harga minyak dunia sebagian besar akan tetap berada di kisaran ketat pada paruh kedua 2018 dan 2019. Di satu sisi, produksi serpih AS yang kuat dan kekhawatiran pasar atas perang perdagangan AS-Tiongkok akan membantu menjaga harga,” kata Cailin. Birch, seorang analis di Economist Intelligence Unit,Rabu (1/8/2018).

Harga Minyak Dunia Berimbas pada Persediaan Minyak Global

Menurutnya, imbas penurunan baru-baru ini dalam persediaan minyak global akan membuat harga lebih sensitif terhadap risiko geopolitik, terutama dalam menjaga harga dari penurunan signifikan di bawah level saat ini.

OPEC, organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan negara-negara non-OPEC sepakat untuk meningkatkan pasokan dalam sebuah pertemuan bulan lalu guna memenuhi permintaan global yang meningkat, sayangnya, kelompok itu tidak menentukan target yang jelas untuk peningkatan produksi itu.

Sementara itu, kata para analis, sanksi AS terhadap Iran yang akan berlaku tahun ini akan memaksa penurunan ekspor dan membantu mendukung harga.

“Gangguan terhadap barel Iran akan membebani pasar minyak, karena ada beberapa barel cadangan di pasar yang dapat mengimbangi gangguan besar terhadap pasokan Iran,” kata Edward Bell, analis komoditas Emirates NBD.

Amerika Serikat Tarik Diri Picu Ketidakpastian Pasokan

Sekadar diketahui, Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir internasional dengan Iran pada awal Mei, menimbulkan ketidakpastian atas pasokan minyak global, dan sejak itu telah mempersiapkan untuk bekerja dengan negara-negara lain guna membantu mereka memangkas impor minyak dari Iran.

Akibat sanksi Iran, para analis menilai, penurunan sekitar 500.000-1 juta barel per hari (bph) dalam produksi Iran. Tetapi mereka juga mengatakan, ketegangan perdagangan global yang sedang berlangsung dapat mengurangi permintaan.

“Perang dagang memperlambat pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak, tetapi juga akhirnya meluber ke kelas aset-aset lainnya, terutama ekuitas, yang dapat berdampak pada harga minyak melalui sentimen pasar negatif,” kata Jette Jorgensen dari Global Risk Management Ltd.

Hasil positif atas reformasi subsidi energi yang telah dilakukan Indonesia, menurut Fatih Birol, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) terkait langkah Pemerintah Indonesia dalam mengelola subsidi energi beberapa tahun terakhir telah berada pada jalur yang benar.

Meski begitu, sambung dia, Pemerintah harus mempertimbangkan secara matang dalam memberikan subsidi tepat sasaran kepada masyarakat yang berhak menerima. Jika dilakukan dengan hati-hati, pengelolaan subsidi ini diyakini akan menjadi ‘karpet merah’ bagi kemajuan pengelolaan sektor energi dan mineral. “Perlu didesaian case by case dengan target yang jelas jika subsidi itu memang diperlukan,” saran Fatih.

Di samping itu, tandas Fatih puls, Pemerintah harus mempertimbangkan kondisi global seiring menguatnya permintaan minyak dunia yang lebih tinggi dibandingkan dengan produksinya. Bila tidak segera direspons, hal ini akan berdampak pada penggunaan energi yang boros serta membuat keuangan negara kurang efisien.

Sekadar diketahui, harga minyak dunia jatuh pada Selasa waktu AS atau Rabu pagi WIB. Harga itu menutup penurunan bulanan terbesar dalam dua tahun. Penurunan harga minyak karena kekhawatiran pasokan setelah produksi OPEC mencapai tertinggi 2018 pada Juli.

Patokan globalnya, minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober turun 1,34 dolar AS menjadi menetap di 74,21 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.(*)

57 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment