You are here
Nurmaya Sidabutar, ‘Oemar Bakrie’ Perempuan, tak Peduli Omongan Orang Tokoh 

Nurmaya Sidabutar, ‘Oemar Bakrie’ Perempuan, tak Peduli Omongan Orang

TOPMETRO.NEWS – Dia punya sepeda mini tua warna pink yang sudah agak kusam. Berdiri ditunjang standar tegak di rumah Nurmaya Sidabutar di bilangan Kebon Nanas, Kota Tangerang.

“Dengan sepeda inilah setiap hari saya menggowes ke sekolah,” ucap ibu empat anak ini membuka kisah.

Kini, guru di kelas tiga di SDN 04 Cikokol Kota Tangerang ini, mengaku suka-duka wanita 58 tahun ini sebagai pengajar telah dilaluinya bersama sepeda tuanya. Kesenangannya menggowes sepeda diakuinya sudah kebiasaan sejak tinggal di kampungnya di Kabupaten Samosir.

“Di kampung kan bertani, saya biasa mengangkut hasil tani dengan sepeda,” kenangnya.

Hobby bersepeda ria, dilanjutkannya di Tangerang, setelah dia menjadi seorang guru. Dia mengaku tidak peduli dengan pandangan orang. Walaupun dia sempat disebut sebagai Oemar Bakrie-nya perempuan.

Nurmaya ke Tangerang, selepas pendidikan sekolah guru atau SPG, sekitar tahun 1980. Awalnya dia bekerja di perusahaan textile yang cukup besar di Tangerang, kala itu. Sekitar setahunan kemudian, kesempatan menjadi guru PNS terbuka di Tangerang.

Selanjutnya dia pun melamar dan diterima, dan pertama kali mengajar di SDN di Gerendeng, Tangerang.
“Saat itu gaji saya di pabrik tiga kali lebih besar dibanding sebagai guru,” kenangnya, tapi itu tak mengendurkan semangatnya mengajar.

Nurmaya pun bercerita, saat menerima gaji rapelnya sebagai PNS, ternyata begitu besar. “Setelah berapa lama saya dipanggil karena ternyata terlalu banyak, akhirnya saya harus mengganti dengan potongan gaji,” kisahnya seperti dilaporkan poskota hari ini.

Sekarang saya sudah siap-siap dengan usaha baru, saya mau berbisnis setelah pensiun,” ucap ibu yang akrab dipanggil ‘mama tua’ oleh warga di sekitar rumahnya. Nurmaya mengaku, ingin sesuatu yang baru usai mengajar lebih dari 35 tahun.

“Kebanggaan saya sebagai guru ketika siswa kita bisa diterima di sekolah favorit tanpa menyogok,” katanya.

Oleh karena itu dia sangat berusaha agar siswanya selalu mampu menyerap pengetahuan yang diberikannya. Sepanjang karier mengajarnya, hampir semua sekolah dasar di Kota Tangerang, pernah disinggahinya sebagai guru.

Nurmaya pernah memperoleh penghargaan saat memenangkan lomba peraga mata pelajaran di kampus Universitas Atmajaya, beberapa tahun silam. Sebagai seorang guru kesenian, dia juga piawai memainkan beberapa alat musik.

Bercerita tentang sepeda mini tuanya, diakui dia menunggang sepeda bukan karena tak mampu membeli kendaraan bermotor. Saat ayah dari anak-anaknya masih ada, bahkan di keluarganya memiliki sejumlah mobil. “Tapi saya tetap bersepeda ke sekolah,” katanya.

Kini pun di rumahnya ada sepeda motor. Tapi Nurmaya selalu senang menggowes sepeda. “Pertama, kita tidak menyumbang polusi, kedua kata orang bersepeda menyehatkan jantung, dan berat tubuh kita terkontrol,” tuturnya.

Mungkin berkat menggowes itu membuat kesehatan ‘Mama Tua’ tetap terjaga hingga kini. Tetap sehat ya ‘Mama Tua’. Ilmu yang telah Anda tularkan menjadi amat berharga untuk generasi penerus bangsa ini. (tmn)

187 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment