You are here
Perawan Tua Diperkosa, Pelakunya Bocah SD? Duh..!!! Daerah 

Perawan Tua Diperkosa, Pelakunya Bocah SD? Duh..!!!

Topmetro.News – Perawan tua diperkosa seorang laki-laki yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Berita pemerkosaan ini sontak menggegerkan dunia nyata dan dunia maya. Pasalnya, bak seorang pria dewasa, pelaku disebut-sebut sempat mengancam bunuh korban berinisial WST (41), hingga peristiwa perawan tua diperkosa itu terjadi. Kini kasus itu sedang diperiksa intensif di Polsek Semanding-Tuban.

Info yang diperoleh di Polsek Semanding menyebutkan, pelaku berinisial DNP tercatat sebagai siswa kelas VI salah satu SDN di Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding-Tuban.

Perawan Tua Diperkosa Akibat Pengaruh Film Porno

Dalam pemeriksaan polisi, sebagaimana pengakuan pelaku, sesaat sebelum memerkosa korban, malam itu Kamis (30/8/2018) sekitar pukul 22.00 WIB pelaku nekat mendatangi rumah korban. Kebetulan antara rumah korban dan pelaku hanya beberapa meter. Birahi pelaku yang sudah di ubun-ubun lantaran pengaruh menonton film porno, tak berpikir panjang untuk memasuki rumah korban. Setahu bagaimana, bocah ingusan yang sudah berhasil masuk ke rumah korban, langsung menuju kamar tempat tidur korban.

Melihat suasana rumah sedang sepi, ditambah posisi tidur korban terlentang begitu, nafsu pelaku kian membara. Saat itulah korban yang usianya terpaut 27 tahun itu disergap. Sebenarnya saat disergap korban sempat meronta. Namun dengan sigap, bermodalkan senjata tajam yang disiapkannya, pelaku DNP mengancam korban akan dibunuh jika berteriak. Lantaran takut terjadi apa-apa terhadap dirinya, korban seolah pasrah dan peristiwa itu pun terjadi.

Direspons Dinas Pendidikan Tuban

Peristiwa perawan tua diperkosa bocah ingusan itu direspons Dinas Pendidikan (Disdik) Tuban. Menurut Nur Khamid, Plt Kepala Disdik Tuban pihak sekolah tidak mengeluarkan pelaku hingga kasusnya berkekuatan hukum tetap (inkracht).

‘’Kalaupun harus ditahan, saya harap bisa masuk penjara anak agar masih bisa mendapatkan hak pendidikan,’’ ujar Nur Khamid.

Dia sangat menyayangkan peristiwa memalukan itu. Menurutnya, drop out (DO) bukan solusi menuntaskan problem yang menimpa DNP.

Dia mendukung, siswa yang melanggar hukum pantas mendapatkan hukuman. Namun, sambungnya, hukuman yang dijalani tidak harus memutus pendidikan anak.

”Sebab, jika yang bersangkutan dikeluarkan dari sekolah, tentu akan membuat anak semakin liar dan lebih berbahaya di masyarakat. Kami (Disdik, Red) lembaga pendidikan, bukan lembaga penghukum meminta agar anak itu tetap sekolah,’’ pinta Nur Khamid. (*)

290 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment