You are here
PPDB Online Masih Menjadi Prahara Bagi Sekolah Swasta Life style 

PPDB Online Masih Menjadi Prahara Bagi Sekolah Swasta

topmetro.news – PPDB online atau Penerimaan Peserta Didik Baru online, harus diakui masih menjadi pro dan kontra di masyarakat. Bahkan menjadi prahara bagi sekolah swasta. Hal itu diakui seorang kepala sekolah di Tenggarang, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Menurut kepala sekolah itu, berdasarkan Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017, dengan menerapkan sistem zonasi, sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah wajib menerima calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dari lokasi sekolah, paling sedikit sebesar 90 persen dari total jumlah peserta didik yang diterima.

“Kemudian sebesar 10 persen dari total jumlah peserta didik, dibagi menjadi dua kriteria, yaitu lima persen untuk jalur prestasi, dan lima persen untuk peserta didik yang mengalami perpindahan domisili. Namun, sistem zonasi tersebut tidak berlaku bagi sekolah menengah kejuruan (SMK),” katanya.

Dia juga menjelaskan, bahwa domisili calon peserta didik tersebut, berdasarkan alamat pada kartu keluarga (KK) diterbitkan paling lambat enam bulan sebelum pelaksanaan PPDB. Dan radius zona terdekat ditetapkan oleh pemerintah daerah, sesuai dengan kondisi di daerah tersebut.

Mematikan Jurusan Kurang Laku

Lebih jauh dia menjelaskan, bahwa PPDB online dengan sistem zonasi itu memang mempunyai dampak positif, untuk pemerataan mutu pendidikan. Sehingga dapat menghilangkan predikat sekolah favorit, dan dari aspek transportasi dapat meminimalisasi perjalanan.

Namun di sisi lain, kata dia, pelaksanaan PPDB online, juga menjadi masalah baru bagi SMK negeri yang mempunyai jurusan banyak. Karena, jika panitia PPDB online di sekolah tersebut kurang mengkondisikan siswa untuk memilih jurusan dengan azas pemerataan, maka jurusan-jurusan yang dianggap kurang laku akan bisa gulung tikar dengan seketika.

“Kalau panitia PPDB memaksakan, maka dampak positifnya tentu akan bisa menjaga nafas kehidupan jurusan-jurusan yang tidak laku untuk bisa tetap berjalan. Apalagi mengingat banyak guru produktif yang harus diselamatkan tunjangan sertifikasinya,” imbuhnya.

Sementara konsekuensi logis yang paling mendasar, tentu akan semakin sempitnya peluang siswa baru, dalam memilih sekolah berlabel swasta.

Mengasah Kreativitas dan Inovasi

“Di samping itu, para pelaksana pendidikan swasta dan para guru-guru di sekolah pinggiran harus terus perlu mengasah kreativitas, inovasi, inspirasi, dan mampu bernalar kritis dan mempunyai daya juang tinggi. Guna memberikan pembelajaran yang unggul sehingga mampu mendorong siswa mengoptimalkan potensi dirinya,” pungkasnya.

Kepala sekolah itu berharap, agar semua sekolah mempunyai fasiltas dan SDM yang memadai sehingga kualitas semua sekolah jadi merata. (TM-RED)

sumber: timesindonesia.com

165 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment