You are here
Sekdaprovsu Ajak Pengusaha Sawit Utamakan Prinsip Industri Berkelanjutan Ekonomi & Bisnis 

Sekdaprovsu Ajak Pengusaha Sawit Utamakan Prinsip Industri Berkelanjutan

Topmetro.News – Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sekdaprovsu) Dr Hj R Sabrina MSi mengajak para pengusaha sawit yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Sumut untuk mengutamakan prinsip industri berkelanjutan terutama dalam hal mengelola dan menjalan praktik usaha sawit.

“Industri kelapa sawit, salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara kita. Sayangnya, banyak tudingan negatif yang dialamatkan pada industri ini khususnya yang berkaitan dengan lingkungan. Saya harap industri sawit yang ada di Sumut jauh dari tudingan-tudingan seperti itu, sebaiknya terapkan prinsip industri berkelanjutan,” ujar Sekdaprovsu, Sabrina saat menghadiri acara Pelantikan Pengurus GAPKI Cabang Sumut di Hotel Adi Mulia Medan, Sabtu (30/6/208).

Sumut Jadi Pioner Pengembangan Industri Sawit

Sabrina menjelaskan Sumut memiliki rekam jejak sejarah sebagai pioner dalam pengembangan industri kelapa sawit di Indonesia. Hal ini karena pembangunan perkebunan komersil pertama dimulai di Sumut. Tepatnya di Pulau Raja dan Tana Itam Ulu pada tahun 1911.

Tidak hanya itu, sambung Sabrina, Sumut juga menjadi daerah pengembang industri hilir (pabrik minyak goreng) dan pengembang model Perkebunan Inti Rakyat (PIR) pertama yang kemudian menjadi cikal bakal pengembangan perkebunan rakyat di Indonesia.

“Kita patut bangga. Hingga saat ini pun, Sumut masih dipandang sebagai barometer industri kelapa sawit Indonesia sekaligus sentra industri kelapa sawit yang paling lengkap hulu ke hilir. Hal ini karena didukung oleh Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangke, Pelabuhan Belawan, dan Kuala Tanjung,” jelas Sabrina.

Sebagai provinsi dengan areal perkebunan kelapa sawit terluas kedua setelah Riau, perkebunan kelapa sawit telah banyak mendorong pertumbuhan dan pembangunan di Sumut. Ekspor minyak sawit (CPO) menjadi penyumbang terbesar dalam ekspor non migas Sumut selama lima tahun terakhir, yakni senilai 4 miliar Dolar AS.

”Dengan mempertimbangkan manfaat, potensi, peluang dan prospek industri kelapa sawit yang demikian besar secara ekonomi, saya harap diseimbangkan pula dengan kehadiran perkebunan kelapa sawit secara sosial atau lingkungan,” harapnya.

Sabrina mengucapkan selamat kepada pengurus GAPKI Cabang Sumut periode 2018-2023 yang baru dilantik.

Dia berharap pengurus baru bisa memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam rangka mewujudkan prinsip industri berkelanjutan yang kompetitif, berkedaulatan, dengan Sumut sebagai benchmarknya (patokannya).

GAPKI Setuju Utamakan Prinsip Industri Berkelanjutan

Sementara itu, Ketua Umum GAPKI Pusat Djoko Supriono juga setuju pengusaha sawit harus mengedepankan prinsip industri berkelanjutan.

“Ini menjadi salah satu tantangan bagi kita. Kita harus bisa membuktikan bahwa industri sawit ini memang bisa menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu industri yang menyejahterakan Indonesia, termasuk Sumut,” ujar Djoko.

Dia mengajak semua pengusaha sawit yang hadir untuk memperbaiki kinerja industri di perusahaan masing-masing. Sehingga citra perkebunan sawit nantinya di pandangan masyarakat tidak melulu negatif, tapi juga menyejahterakan masyarakat, karyawan dan daerah.

Hadir di sana, Penasehat GAPKI Bahruni, Ketua GAPKI Cabang Sumut periode 2013-2018 Setia Darma Sebayang, Ketua GAPKI Cabang Sumut periode 2018-2023 Alexander Maha berserta jajaran pengurus, Pengurus Cabang GAPKI dari berbagai provinsi, mewakili direktur pusat penelitian kelapa sawit dan mewakili Asosiasi Petani Kelapa Sawit Sumut. (erris)

77 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment