topmetro.news, Medan – Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Bobby Nasution, menegaskan akan melakukan pemetaan menyeluruh terhadap aktivitas pertambangan ilegal atau galian C di wilayah Sumut.
Pernyataan itu disampaikan Bobby usai menghadiri sidang paripurna istimewa Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 Provinsi Sumatera Utara di Gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan, Rabu (15/4).
Bobby mengaku telah menerima informasi awal terkait dugaan aktivitas tambang ilegal tersebut. Ia menegaskan, jika ditemukan praktik ilegal, aparat diminta untuk bertindak tegas.
“Kalau memang ada aktivitas ilegal, ya harus ditindak. Kita minta ditangkap,” tegasnya.
Namun demikian, Bobby juga membuka ruang bagi pelaku usaha tambang yang ingin beroperasi secara legal. Ia menekankan pentingnya proses perizinan agar aktivitas tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menurutnya, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Energi Sumber Daya Mineral (Perindag ESDM) Sumut akan melakukan verifikasi satu per satu, termasuk memastikan status lahan dan keberadaan Izin Usaha Pertambangan (IUP).
“Kalau memang lahannya boleh dan bisa ditambang, kita bantu urus izinnya. Tapi kalau tidak sesuai tata ruang, ya tidak boleh dilanjutkan,” jelasnya.
Bobby juga menyoroti keluhan masyarakat terkait dampak aktivitas tambang ilegal, seperti kerusakan jalan dan tidak adanya kontribusi retribusi ke daerah.
Ia menilai praktik tersebut hanya menguntungkan segelintir pihak tanpa memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
“Jangan sampai kekayaan alam hanya dinikmati sendiri, sementara daerah tidak mendapat apa-apa dan masyarakat terdampak,” katanya.
Sebagai langkah konkret, Pemprov Sumut akan melakukan penertiban terhadap seluruh aktivitas tambang yang tidak memiliki izin. Setelah itu, pemerintah akan memilah mana yang bisa dilegalkan dan mana yang harus ditutup permanen.
Selain penertiban, Bobby mengungkapkan bahwa pihaknya juga tengah mendorong percepatan penerbitan izin tambang di wilayah yang dinilai layak secara tata ruang, termasuk di kawasan yang dapat dimanfaatkan untuk program pendalaman sungai.
Ia menyebut, potensi material seperti pasir dan batu di beberapa wilayah bisa dimanfaatkan sekaligus untuk mendukung normalisasi sungai yang saat ini mengalami pendangkalan cukup parah.
“Kita dorong swasta ikut terlibat dalam pendalaman sungai. Sekarang kondisi sungai ada yang tinggal sekitar 30 sentimeter, ini harus segera ditangani,” pungkasnya.
Penulis I Erris

