topmetro.news, Asahan – Ratusan massa gelar aksi damai menggunakan 2 unit pick-up, puluhan roda dua dan pengeras suara. Mereka berorasi mempertanyakan alasan perusahaan menghancurkan Posko HKTI Asahan yang berdiri diatas lahan eks HGU PT BSP, Kamis, (13/8)
Sebanyak 5 orang terluka dan 2 unit mobil pecah kaca setelah terjadi bentrokan antara ratusan masyarakat yang tergabung dalam Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Asahan dengan puluhan Satpam PT BSP Kisaran.
Massa yang merangsek masuk dihadang puluhan Satpam dan memblokade jalan dengan kawat berduri. Satpam menggunakan tameng, pentungan dan mengerahkan beberapa ekor anjing pemburu. Massa berupaya menembus blokade dengan memotong kawat berduri. Ini memicu emosi Satpam. Akhirnya terjadi aksi saling dorong dan saling lempar menggunakan air mineral dan batu kerikil.
Suasana semakin panas ketika puluhan Satpam melakukan pemukulan kepada beberapa pendemo. Massa yang mulai tersulut akhirnya melakukan pembalasan menggunakan kayu dan batu kerikil yang ada disekitar lokasi.
Insiden berdarah itu akhirnya reda setelah pihak kepolisian melakukan pendekatan persuasif kedua belah pihak.
Ironisnya ditengah petugas berupaya melakukan pengamanan, puluhan Satpam mengeroyok Hendra Syahputra (43) yang mengakibatkan pelipis mata kanan, tangan serta kepala luka bekas pukulan pentungan. Korban dilarikan ke RSUD HAMS Kisaran.
Usai dirawat, Hendra melakukan visum et repertum dan melaporkan kejadian tersebut ke Mapolres Asahan.
“Ini perbuatan biadab dan tidak berprikemanusiaan. Kami aksi damai ke kantor PT BSP mempertanyakan alasan penghancuran Posko beberapa waktu lalu, namun dihadang kawat berduri dan beberapa ekor anjing”, kata kordinator aksi Syafruddin Harahap.
“Perusahaan perkebunan sawit yang HGU nya sudah habis itu sangat otoriter. Pantas pemerintah tidak lagi memperpanjang HGU nya”, kata Syafruddin.
“Kalau persoalan ini tidak selesai dan perusahaan tidak bertanggungjawab kita akan datang dengan mass yang lebih besar. Apapun yang terjadi kita siap menghadapi konsekwensinya”, kata Syafruddin.
Reporter | Indra

