Anyaman Lokal ‘Baion’ di Tangan Generasi Z: Ketika Produk Tradisional Jadi Aksesoris Gaya Hidup

SEKTOR ekonomi kreatif di Sumatera Utara menunjukkan geliat positif, terutama dalam upaya pelestarian dan modifikasi produk kerajinan tangan tradisional. Salah satu yang paling menonjol adalah transformasi anyaman pandan yang oleh masyarakat lokal dikenal sebagai bahan baku tikar atau perlengkapan adat seperti ‘tandok’ maupun ‘pandahanan’, menjadi aksesori fashion modern yang digandrungi kaum muda, khususnya Generasi Z.

Dalam sebuah kegiatan observasi pada mata kuliah Produk Inovatif dan Kreatif Program Studi Sastra Batak Universitas Sumatera Utara di Pasar Buah Berastagi pada sebuah lapak, seperti pada foto di atas, menunjukkan seorang mahasiswa Program Studi Sastra Batak Universitas Sumatera Utara, dengan bangga memamerkan produk anyaman baion. Di depannya terhampar sebuah produk anyaman yang tidak lagi terbatas pada tikar tradisional, melainkan telah bertransformasi menjadi aksesori gaya hidup yang tren yaitu tempat pensil. Produk ini, yang disebut-sebut sebagai bagian dari ‘tren baion’ (goes modern), menjadi simbol bagaimana generasi muda mulai merangkul produk lokal.

Di tengah gempuran produk impor dan modern, kerajinan tangan tradisional di Indonesia, khususnya anyaman, menghadapi tantangan regenerasi. Namun, munculnya inisiatif dari Generasi Z untuk menghidupkan kembali anyaman lokal, seperti ‘baion’ yang berasal dari pandan berduri (Pandanus Tectorius), membawa pengaruh positif bagi pelestarian budaya dan ekonomi kreatif daerah. Anyaman pada mulanya digunakan untuk membuat tikar atau wadah seserahan seperti ‘tandok’, kini bertransformasi sebagai bentuk komodifikasi menjadi aksesori fashion yang digemari Generasi Z.

Inisiatif ini tidak hanya sekadar tren fashion. Anyaman yang ditampilkan di foto dengan pola kepangan yang rapi dan beberapa varian berwarna (seperti putih, pink, dan alami) menunjukkan adanya kolaborasi aktif antara pengrajin tradisional dengan pelaku ‘usaha mikro’ yang peka terhadap selera pasar modern. Produk yang mulanya bersifat ‘rustic’, kini memiliki nilai estetika dan jual yang tinggi.

Proses pembuatan anyaman ini sebagian besar diolah oleh para pengrajin yang selanjutnya diserahkan kepada pengusaha atau pedagang untuk dipasarkan. “Sebenarnya kami kurang tahu bagaimana penjelasan detail untuk pengolahan anyaman tempat pensil ini, karena kami hanya menjualnya. Pengrajin yang datang ke sini membawa produk tersebut dan mempercayakan kami untuk memasarkan,” ujar salah satu pedagang bernama Yesika Boru Sitepu (22).

Prospek cerah di mata generasi muda dan keberhasilan penjualan aksesori anyaman seperti tempat pensil menjadi indikator bahwa Generasi Z tidak hanya mencari produk yang murah, tetapi juga yang memiliki nilai cerita, kualitas yang baik dan nilai estetika pada produk tersebut.

“Kotak pensil ini memiliki keunggulan yang terletak pada keunikan dari bentuk dan daya tahan dari bahan utama yang memanfaatkan sumber daya alam, menjadikan produk ini menjadi salah satu hal yang diinginkan oleh Gen Z,” tambahnya.

Diharapkan, melalui artikel ini dapat memicu lebih banyak inovasi di sektor kerajinan lokal lainnya di Sumatera Utara terkhusus pada Generasi Z, sekaligus menjamin regenerasi pengrajin dan meningkatkan kesejahteraan mereka melalui pasar yang lebih luas dan harga jual yang lebih kompetitif. (Dian Berkati Rebeka Purba – mahasiswi Program Studi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatra Utara)

Related posts

Leave a Comment