Mahasiswa FIB USU Gelar Pameran Budaya Etnis Sumatera Utara, Tampilkan Kekayaan Kuliner dan Benda Seni

FAKULTAS Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU), hari itu, diwarnai dengan semarak Pameran Budaya Etnis, sebuah acara yang merupakan bagian dari Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Budaya Etnis.

Pameran yang berlangsung di lingkungan fakultas tersebut berhasil menyedot perhatian ratusan pengunjung dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum.

Acara ini diselenggarakan di bawah bimbingan dua dosen pengampu, Dra Junita Setiana Ginting MSi dan M Azis Rizky Lubis SS MA, yang merupakan dosen dari Program Studi Ilmu Sejarah. Pameran ini menampilkan kekayaan budaya dari berbagai etnis yang ada di Sumatera Utara dan sekitarnya, yang dikurasi dan dipresentasikan langsung oleh 27 kelompok mahasiswa.

Ruang pameran berubah menjadi sebuah galeri budaya hidup. Setiap kelompok menampilkan stan yang penuh dengan warna, aroma, dan cerita. Pengunjung diajak untuk melakukan perjalanan budaya mulai dari ujung utara hingga selatan Sumatera.

Dari Tanah Batak, beragam kuliner dan benda ditampilkan. Kelompok Batak Toba memamerkan ‘Ulos’ seperti ‘Ragi Hotang’, ‘Sibolang’, dan ‘Mangiring’, serta benda khas seperti ‘Tanduk’, ‘Sulim’, ‘Piso Gading’, dan ‘Sortali’. Kuliner khas seperti ‘Ombus-Ombus’, ‘Mie Gomak’, ‘Lappet’, ‘Itak Gurgur’, ‘Arsik’, dan ‘Naniura’ dapat dicicipi pengunjung.

Sementara itu, kelompok Batak Simalungun menonjolkan ‘Bulang’ dan ‘Gotong’, serta hidangan khas ‘Sasagun’ dan ‘Nitak Lada’.

Etnis Angkola dan Mandailing menampilkan kain tenun seperti ‘Paroppa Sadun Karonceng’, ‘Tali-Tali Menek’, ‘Ampe-Ampe’, serta ‘Songket’ dan ‘Ampu’. Mereka juga menyajikan kuliner seperti ‘Sambal Tuk-Tuk’, ‘Kipang’, ‘Alame’, dan ‘Lemang’.

Kelompok Karo tidak kalah dengan memamerkan ‘Uis Nipis’ dan ‘Beka Buluh’, serta menyuguhkan ‘Cimpa’.

Etnis Nias hadir dengan kekayaan budayanya melalui ‘Baru Ladari’, ‘Selempang Nias’, dan ‘Patung Nias’, serta menghidangkan ‘Gowi Nifufu’.

Kekuatan Budaya Melayu ditampilkan melalui ‘Baju Kurung’, ‘Baju Teluk Belanga’, ‘Tanjak’, dan ‘Songket’. Sementara citarasa manisnya terwakili oleh ‘Kembang Loyang’ dan ‘Kue Talam’, serta
gurihnya Roti Jala dan Roti Canai.

Etnis Jawa, yang juga menjadi bagian dari mozaik Sumatera Utara, menampilkan keragaman budayanya melalui beragam batik seperti Batik Solo dan Batik Parang Klitik, serta benda seperti Selendang, Stagen, ‘Jarik’, Blankon, Keris, Kuluk, Kebaya, ‘Cobek’, dan Wayang Kulit. Kuliner Jawa seperti ‘Tahu Tek’, Tempe Mendoan, Cenil, Getuk, ‘Putu Ayu’, Klepon, Urap, dan ‘Getas Ketan’ turut memeriahkan acara.

Kehadiran etnis Tionghoa dan Minang turut melengkapi pameran. Kelompok Tionghoa menampilkan Sempoa serta kue tradisional ‘Ang Ku’ dan ‘Kong Pia’. Sementara kelompok Minang memamerkan ‘Tanduak’ dan ‘Kalung Khas’, serta menyajikan Rendang yang lezat. Kelompok lain menampilkan budaya dari etnis Tionghoa dengan ‘Qipao’ dan Kipas, serta hidangan Capcay.

Pameran ini tidak hanya sekadar memajang benda dan makanan, tetapi juga berfungsi sebagai media edukasi interaktif. Setiap stan dilengkapi dengan penjelasan mendetail mengenai makna filosofis, proses pembuatan, dan nilai historis dari setiap benda dan kuliner yang dipresentasikan.

Pengunjung terlihat antusias belajar langsung tentang teknik menenun ulos, cara mengenakan busana tradisional, dan sejarah di balik setiap artefak.

Pameran Budaya Etnis ini dinilai berhasil menjadi wadah yang efektif bagi mahasiswa untuk tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga secara langsung mempraktikkan pelestarian dan promosi budaya. Melalui acara seperti ini, kekayaan Budaya Nusantara, khususnya Sumatera Utara, diharapkan dapat terus hidup dan dikenali oleh generasi muda. (Tifany – mahasiswi Jurusan Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara)

Related posts

Leave a Comment