TORTOR, salah satu warisan Budaya Batak Toba yang paling dikenal di Indonesia, kembali menjadi sorotan setelah Pemerintah Kabupaten Samosir bersama sejumlah komunitas adat menggelar pertunjukan massal dan program pelestarian khusus sepanjang tahun 2025.
Kegiatan ini digelar pada tanggal 14 Desember 2025 untuk memastikan bahwa Tortor tetap hidup di tengah perkembangan zaman, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya di Kawasan Danau Toba.
Identitas Budaya Batak
Tortor bukan sekadar tarian, melainkan simbol komunikasi budaya yang sarat makna. Gerakan tangan, langkah kaki, dan irama gondang yang mengiringinya, digunakan untuk menyampaikan doa, syukur, penghormatan, hingga ungkapan duka. Setiap gerakan Tortor selalu dihubungkan dengan nilai Adat Batak Toba: ‘somba marhulahula’, ‘manat mardongan tubu’, dan ‘elek marboru’.
Di Samosir, Tortor tetap menjadi bagian penting dalam upacara adat seperti pernikahan, ‘mangalahat horbo’, ‘mangokkal holi’, serta penyambutan tamu kehormatan.
Tortor Massal di Pangururan
Baru-baru ini, ratusan penari dari berbagai desa di Samosir berkumpul di Pangururan untuk menampilkan Tortor massal. Acara ini disaksikan wisatawan lokal maupun mancanegara yang sedang berkunjung ke Danau Toba.
Koordinator Acara Jhonson Naibaho mengatakan, bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat kebanggaan budaya di kalangan masyarakat. “Tortor adalah napas Adat Batak. Jika tidak diteruskan sekarang, generasi berikutnya mungkin hanya mengenalnya dari cerita,” ujarnya.
Sekolah dan Komunitas
Selain pertunjukan publik, pelestarian Tortor juga dilakukan melalui program pendidikan pada sekolah-sekolah di Samosir. Sejumlah guru seni budaya dilatih untuk mengajarkan Tortor yang sesuai dengan pakem adat, lengkap dengan filosofi dan nilai-nilai moralnya.
Komunitas seni dan sanggar budaya juga aktif melatih anak-anak dan remaja pada akhir pekan. Mereka diajarkan mengenal irama gondang, memahami struktur gerak Tortor, hingga mempelajari fungsi Tortor dalam konteks adat.
Tortor dan Pariwisata Budaya
Pemerintah Kabupaten Samosir menargetkan Tortor menjadi salah satu atraksi utama dalam festival budaya tahunan. Penampilan Tortor pada acara penyambutan wisatawan di desa-desa wisata kini mulai diperbanyak sebagai bagian dari strategi penguatan pariwisata berbasis budaya.
“Wisatawan datang ke Samosir bukan hanya untuk melihat Danau Toba, tetapi juga untuk merasakan pengalaman budaya yang otentik. Tortor adalah daya tarik yang sangat kuat,” kata Kepala Dinas Pariwisata Samosir.
Harapan ke Depan
Melalui dukungan pemerintah, tokoh adat, komunitas seni, dan generasi muda, Tortor diharapkan terus bertumbuh sebagai ikon Budaya Batak Toba yang tidak lekang oleh waktu. Dengan pelestarian yang konsisten, Tortor bukan hanya menjadi tarian tradisional, tetapi juga jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakat Samosir. (Dani Maichel Gultom – mahasiswa Prodi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya USU)

