DI tengah dinginnya Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo menyimpan kekayaan sejarah yang menakjubkan. Salah satu barang yang paling mencolok di Museum Pusaka Karo di Berastagi adalah ‘Pinggan Pasu’, sebuah piring keramik besar yang memiliki fungsi lebih dari sekedar tempat makanan. Benda bersejarah ini diyakini memiliki kekuatan gaib untuk menghilangkan racun dari makanan.
‘Pinggan Pasu’, yang secara harfiah berarti ‘piring pasu’ (mangkuk besar), merupakan benda pusaka yang sangat dihormati oleh masyarakat Batak Karo dan sub-Etnis Batak lainnya. Di Museum
Pusaka Karo, ‘Pinggan Pasu’ dipamerkan sebagai bagian integral dari kebudayaan mereka, sering kali terkait dengan upacara adat penting.
Dalam Kebudayaan Karo, ‘Pinggan Pasu’ adalah simbol berkah, keutuhan, dan perlindungan. Ia bukan hanya piring, melainkan saksi bisu tradisi dan kearifan lokal. Bahan dan ukuran ‘Pinggan Pasu’ seringkali terbuat dari keramik atau batu yang telah ditempa dan memiliki diameter yang cukup besar, sekitar 35 cm. Piring ini digunakan sebagai wadah utama untuk menyajikan hidangan adat penting, terutama dalam ritual yang melibatkan ‘manuk sangkep’ (ayam utuh) dalam tradisi ‘mukul’ (makan bersama pengantin) atau ritual pengobatan.
Fungsi yang paling terkenal dari ‘Pinggan Pasu’ adalah sebagai penangkal racun. Berdasarkan informasi yang tertulis di museum dan kisah yang diturunkan dari generasi ke generasi, jika makanan yang diletakkan di atas ‘Pinggan Pasu’ mengandung bahan beracun atau berbahaya, maka akan hilang racunnya. Walaupun cara kerjanya tidak diungkapkan secara ilmiah, kepercayaan ini menunjukkan seberapa besar peranan ‘Pinggan Pasu’ dalam melindungi keselamatan pemimpin atau peserta ritual tradisional pada zaman dahulu.
Koleksi ‘Pinggan Pasu’ di Museum Pusaka Karo berfungsi sebagai pengingat konkret mengenai kemajuan teknologi dan nilai-nilai tradisional tentang keamanan pangan yang dimiliki oleh Suku
Karo. Museum ini, yang berada dalam gedung bekas Gereja Katolik sejak dekade 1950-an, didirikan untuk menjaga benda-benda warisan asli Karo, mulai dari ‘Pustaka Laklak’, senjata tradisional, hingga aksesori seperti ‘padung-padung’.
Melalui pameran ‘Pinggan Pasu’, Museum Pusaka Karo tidak hanya menampilkan artefak, tetapi juga menceritakan kisah kearifan hidup para leluhur yang selalu waspada dan mematuhi prinsip
keamanan, bahkan dalam hal yang dianggap sepele seperti makan. (Anggun Yuni Sarah Saragih – mahasiswi Jurusan Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara)

