Simbol Warisan Musik yang Terus Dijaga
SEBUAH gong tradisional Batak berukuran besar berhasil menjadi pusat perhatian para pengunjung di salah satu museum budaya yang ada di Sumatera Utara. Alat musik bersejarah yang terbuat dari logam hitam pekat ini dipamerkan dalam kondisi terawat dan lengkap dengan rangka kayu tua yang masih kokoh.
Pameran ini menjadi bukti nyata bagaimana kekayaan seni dan Tradisi Batak tetap dijaga serta dikenalkan kepada generasi muda.
Gong tersebut ditempatkan di area utama museum, sehingga langsung terlihat oleh para pengunjung yang masuk. Di sekelilingnya, museum juga menampilkan berbagai artefak budaya lain seperti ukiran perahu Batak, patung kayu, dan perlengkapan adat tradisional. Kehadiran benda-benda tersebut membuat suasana museum terasa hidup dan memberikan gambaran kuat mengenai kehidupan budaya masyarakat Batak pada masa lalu.
Di bagian bawah gong besar, dipamerkan pula gong berukuran lebih kecil yang digunakan sebagai pelengkap dalam ensambel musik adat. Kedua gong ini biasanya dimainkan bersama dengan instrumen Batak lainnya untuk menciptakan harmoni khas yang sering terdengar dalam upacara adat, pesta pernikahan, ritual tradisional, maupun acara penyambutan tamu kehormatan.
Bunyi gong dianggap memiliki kekuatan simbolis, menciptakan suasana sakral sekaligus menjadi penanda dimulainya suatu prosesi penting.
Pihak museum menempatkan papan informasi di samping alat musik tersebut untuk menjelaskan sejarah dan fungsi gong dalam Budaya Batak. Informasi tersebut menguraikan bagaimana gong tidak hanya berperan sebagai alat musik, tetapi juga sebagai media komunikasi dalam konteks tradisional. Beberapa wilayah di masa lalu bahkan menggunakan bunyi gong untuk mengumpulkan warga atau memberi tanda adanya upacara adat.
Selain itu, museum dengan tegas memasang papan larangan bertuliskan ‘Tidak Boleh Disentuh – Please Don’t Touch’ di depan gong. Aturan ini diberlakukan untuk menjaga kondisi artefak agar tetap awet dan tidak rusak akibat sentuhan tangan pengunjung.
Meski begitu, antusiasme pengunjung tetap tinggi. Banyak dari mereka terlihat mengamati gong dari dekat sambil membaca keterangan yang tersedia, termasuk anak-anak yang tampak penasaran dengan bentuk dan ukuran gong yang besar.
Salah seorang pengunjung mengatakan bahwa melihat langsung alat musik tradisional seperti ini membuatnya lebih memahami kekayaan Budaya Batak yang selama ini hanya ia lihat di buku atau media sosial. Ia berharap pameran seperti ini terus dilakukan agar generasi muda semakin mengenal dan menghargai warisan leluhur.
Pihak pengelola museum menyampaikan bahwa tujuan utama dari pameran ini adalah untuk menjaga, merawat, dan mengenalkan kembali warisan Budaya Batak kepada masyarakat luas. Dengan memamerkan alat musik yang sarat nilai sejarah seperti gong, museum berharap dapat menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap budaya lokal di tengah arus modernisasi yang makin kuat.
Pameran gong tradisional ini menjadi bukti bahwa budaya Batak memiliki daya tarik tersendiri dan tetap relevan hingga saat ini. Melalui edukasi dan pelestarian, kekayaan budaya tersebut diharapkan dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Indah Sari – mahasiswa Prodi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya USU)

