Pesta Adat Menerima ‘Ulos Matua’, Warga Tualang Rayakan dengan Penuh Sukacita

DESA Tualang, Kecamatan Siempat Nempu Hulu, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, diselimuti suasana haru dan ceria. Dalam Budaya Batak Toba, pesta adat ‘manjalo Ulos Matua’ adalah upacara sakral, di mana warga desa tumpah ruah yang hadir.

Di acara yang sangat bermakna itu, Ompung Judika atau Hekdi Boru Lumbantobing, menerima ‘Ulos Matua’ pada usia 75 tahunnya. ‘Hula-hula’ (pihak saudara laki-laki dari penerima Ulos Matua) menyematkan ulos sebagai tanda penghargaan, doa, dan penghargaan atas perjalanan panjang hidupnya.

‘Ulos Matua’ biasanya diberikan kepada seseorang yang telah mencapai usia matang, semua anak dan keturunannya sudah menikah, dan memiliki kehidupan yang mapan. Pemberian ini juga dimaksudkan untuk mendoakan penerima untuk mencapai kondisi ‘saur matua’, sehingga ketika suatu saat si penerima ‘Ulos Matua’ ini ‘marujung ngolu’ atau meninggal dalam usia tua dengan keturunan lengkap, yaitu anak, cucu, dan cicit.

Tokoh adat setempat Suantri Sianturi menyatakan, ‘Ulos Matua’ ini diberikan wujud doa dan harapan supaya penerimanya diberikan kebahagian, kesehatan, umur panjang (saur matua) dan tidak semua orang bisa mendapatkannya saat masih hidup.

Sangat menarik bahwa dalam adat Batak Toba, memiliki sumber daya keuangan yang memadai menjadi salah satu syarat untuk mengadakan pesta adat ‘Ulos Matua’. Namun, ini tidak dimaksudkan untuk diukur dari jumlah uang atau harta yang dimiliki. Bukan masalah kaya atau miskin, tetapi bagaimana keluarga siap. Karena pesta adat ini melibatkan hula-hula, boru, dongan tubu, dan orang-orang di sekitarnya.

Suantri Sianturi mengatakan, “Jadi, keluarga harus siap secara ‘finansial’ agar acara berjalan dengan baik dan terhormat.”

Dalam pesta adat ini terdapat bagian saat ‘dengke na niarsik’ atau ikan khas Batak Toba disajikan, dan membuat suasana semakin hangat. Setiap pihak ‘boru’ dan keturunan (pomparan) menerima satu piring ikan arsik yang matang yang sudah disiapkan sebelumnya oleh pihak ‘hula-hula’. ‘Hula-hula’ kemudian menyuapi (memberi makan dengan tangan) ‘ikan arsik’ kepada Ompung Judika, sebagai tanda kasih sebelum ‘Ulos Matua’ disampirkan. Setelah itu, Ulos disematkan di pundaknya dengan harapan dan doa.

Oleh karena itu, ‘Ulos Matua’ ini melambangkan kehangatan dan kasih sayang keluarga, sementara ‘ikan arsik’ melambangkan kehidupan yang penuh berkat, kesuburan, dan kebahagiaan.

Dalam Budaya Batak Toba, dua simbol ini menyatukan keluarga. Di Desa Tualang, pesta adat ‘manjalo Ulos Matua’ menunjukkan bahwa tradisi leluhur Batak Toba masih ada dan dipertahankan. Pesta ini lebih dari sekedar acara biasa; itu adalah perayaan kehidupan yang menunjukkan rasa syukur atas usia yang panjang, keluarga yang lengkap, dan kasih yang diwariskan dari generasi ke generasi. (Murni Simarmata – mahasiswi Prodi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara)

Related posts

Leave a Comment