DI tengah serbuan budaya pop internasional dan percepatan digital yang luar biasa, seni tradisional Batak, Gondang Naposo, sedang menghadapi tantangan serta kesempatan yang khas untuk menjaga keberadaannya.
Gondang Naposo, yang secara harfiah diterjemahkan sebagai ‘musik (gondang), generasi muda (naposo)’, merupakan elemen penting dalam acara adat serta interaksi anak muda Batak, terutama Toba, yang saat ini berjuang keras agar tetap sesuai dengan perkembangan zaman dan bertahan secara berkelanjutan.
Secara umum, berikut beberapa hal penting tentang Gondang Naposo:
1. Tujuan utama: Tradisi ini bertujuan menjadi sarana perkenalan dan tempat bertemu bagi para remaja (disebut naposo atau naposobulung) Batak Toba.
2. Pencarian jodoh: Acara ini sangat terkait dengan proses mencari pasangan (rongkap). Para pria dan wanita dari berbagai desa berkumpul untuk saling mengenal, bertukar pantun, dan membangun ikatan yang bisa berlanjut menuju pernikahan.
3. Pelaksanaan: Gondang Naposo biasanya diramaikan dengan musik tradisional Batak (gondang) yang dimainkan menggunakan alat seperti ‘taganing’, ‘gordang’, ‘ogung’, dan ‘sarune’.
4. Tarian: Bagian yang paling menarik adalah tarian ‘manortor’. Para naposo menari mengikuti irama ‘gondang’. Selama ‘manortor’, ini adalah waktu mereka untuk berinteraksi, saling berbisik, dan mengenal satu sama lain lebih mendalam.
5. Peran orangtua/adat: Acara ini diprakarsai dan diawasi oleh orangtua serta pemangku adat. Mereka mengadakan pertemuan (Tonggo Raja) untuk mempersiapkan acara, dan selama acara berlangsung, orangtua juga hadir memberi nasihat kepada generasi muda.
6. Waktu pelaksanaan: Secara tradisional, acara ini sering dilakukan setelah masa panen atau ketika Bulan Purnama. Namun kini juga sering diselenggarakan pada acara khusus atau festival budaya.
Singkatnya, Gondang Naposo mencerminkan identitas masyarakat Batak Toba yang menghargai persaudaraan dan budaya, sekaligus menjadi media untuk mempertahankan musik dan tarian tradisional mereka. (Ginto Sianturi – mahasiswa Prodi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya USU)

