Pembedahan Cerita Judul “Marsiboan Langkana tu Siulubang Ari”

Kajian Antropologisastra

Awal Cerita

JONAS kembali ke desa (mulak tu huta) setelah lama absen. Ia harus bertemu dengan Saul di kantor maskapai (kantor ni maskapei). Di sana, ia bertemu Gino, seorang kerani (pegawai kantor), yang menyambutnya dengan ramah. Dialog awal menunjukkan hubungan sosial yang hangat, tapi ada nada misterius seputar kepulangan Jonas.

Konflik Utama: Cerita berkembang menjadi pengungkapan isu peredaran narkoba (dope, yang merujuk pada ganja atau marijuana) di desa. Jonas tampaknya terlibat dalam penyelidikan atau konfrontasi dengan jaringan narkoba. Ada adegan di mana Saul dan Jonas berdiskusi tentang pengiriman barang mencurigakan melalui motor sewa, truk, atau jalur desa. Tokoh seperti Ndoro Jonas di luar desa, dan ada keterlibatan polisi atau otoritas seperti di Siboga dan Tano Deli. Elemen dramatis muncul saat Jonas menemukan bukti seperti surat, kopi nasi, atau barang di kantor kubur, yang mengarah pada penggerebekan.

Puncak dan Resolusi: Konflik memuncak dengan pengakuan dan konfrontasi. Jonas dan Saul menemukan jaringan yang melibatkan orang-orang desa seperti Tekbi, Tuan, dan Mandor Anwar. Ada dialog emosional tentang dampak narkoba terhadap anak muda (anak na nimahon), keluarga, dan masyarakat. Cerita berakhir dengan tema penebusan, di mana beberapa tokoh seperti Saul menyadari bahaya dan memilih jalan benar, sementara pelaku seperti Jonas (atau Ndoro) dihadapkan pada konsekuensi. Ada nuansa moral: narkoba sebagai “bombon” (bom) yang menghancurkan desa.

Cerita ini penuh dialog hidup dalam Bahasa Batak, dengan elemen deskriptif tentang alam (hutan, jalan desa, sungai) dan kehidupan sehari-hari (kerja di kantor, naik motor, minum kopi). Panjangnya tampak seperti cerpen atau bab dari novel yang lebih besar, dengan gaya narasi yang lincah dan penuh pepatah Batak.

Kajian Antropologi Sastra

Antropologi sastra (literary anthropology) memandang sastra sebagai artefak budaya yang mencerminkan struktur sosial, nilai-nilai, mitos, dan dinamika masyarakat pembuatnya. Pendekatan ini, yang dipengaruhi oleh pemikir seperti Claude Lévi-Strauss (strukturalisme) dan Clifford Geertz (interpretasi budaya tebal), melihat cerita bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai “cermin” atau “peta” masyarakat. Dalam konteks cerita ini dari novel Margulut tu Tano Deli (yang berarti kurang lebih “Bergulung ke Tanah Deli”, menggambarkan perjalanan atau pergulatan di wilayah Deli, Sumatera Utara), saya akan bedah dari beberapa aspek antropologis:

1. Representasi Identitas Budaya Batak

Bahasa sebagai Simbol Pelestarian: Cerita ditulis sepenuhnya dalam bahasa Batak Toba, yang merupakan bahasa Austronesia yang digunakan oleh suku Batak di Sumatera Utara. Penggunaan kata-kata seperti huta (desa sebagai unit sosial utama), sian (dari), do hot (segera), ampara (ampas atau residu, tapi di sini metaforis untuk “sampah” sosial seperti narkoba), dan pepatah seperti “Nunga songon i hape bagiammu” (seperti itu saja nasibmu) mencerminkan upaya pelestarian identitas linguistik. Dalam antropologi, bahasa sastra seperti ini berfungsi sebagai resistensi terhadap dominasi bahasa nasional (Indonesia) atau globalisasi, mirip dengan bagaimana sastra indigenous di Indonesia (misalnya karya Pramoedya Ananta Toer) mempertahankan akar budaya.

Struktur Sosial Batak: Cerita menggambarkan hierarki masyarakat Batak tradisional, seperti peran mandor (pengawas atau pemimpin kerja), kerani (pegawai administratif), dan hubungan patron-klien antara tokoh seperti Saul (mungkin sebagai tokoh otoritas desa) dan Jonas (yang kembali dari kota). Ini mencerminkan sistem dalihan na tolu (tiga tungku: hulahula, dongan sabutuha, boru) dalam budaya Batak, di mana relasi keluarga dan desa saling terkait. Antropologis, ini menunjukkan bagaimana sastra Batak mereproduksi nilai gotong royong (kerjasama) tapi juga konflik internal akibat modernisasi.

2. Tema Isu Sosial Kontemporer dan Hibriditas Budaya

Narkoba sebagai Metafor Modernisasi: Tema sentral adalah peredaran narkoba (ganja, opium, atau “dope”) yang menyusup ke desa melalui jalur kota-desa (misalnya dari Siantar ke Siboga). Dalam kajian antropologi, ini merepresentasikan “hibriditas” budaya (konsep Homi Bhabha), di mana elemen tradisional Batak (kehidupan desa yang harmonis, alam seperti hutan dan sungai) bertabrakan dengan ancaman modern seperti narkotika, yang sering dikaitkan dengan urbanisasi dan ekonomi global. Cerita ini bisa dilihat sebagai kritik terhadap dampak kolonialisme pasca-kemerdekaan, karena Deli historically adalah kawasan perkebunan tembakau dan opium era Belanda. Narkoba disimbolkan sebagai “bombon” atau “maradi” (penyakit), yang menghancurkan generasi muda (anak na nimahon), mencerminkan kekhawatiran antropologis tentang disintegrasi sosial di masyarakat transisi.

Konflik Desa vs Kota: Jonas sebagai “pengembali” dari kota (Siantar) membawa elemen urban (motor sewa, kantor modern), yang kontras dengan kehidupan desa (pajumpang di kantor kubur, minum kopi nasi). Ini mirip dengan motif “pulang kampung” dalam sastra Indonesia, tapi dari lensa antropologi, ia mengilustrasikan “liminalitas” (Victor Turner): fase ambang antara tradisi dan modernitas, di mana karakter seperti Jonas menjadi agen perubahan atau korban. Isu ini relevan dengan migrasi Batak ke kota besar, yang sering menyebabkan alienasi budaya.

3. Struktur Naratif dan Simbolisme Budaya

Narasi Dialogis: Gaya cerita didominasi dialog, yang antropologis mencerminkan tradisi lisan Batak (seperti umpasa atau pantun adat). Ini bukan narasi linear Barat, melainkan siklikal, dengan pengulangan motif seperti “panghilaan” (panggilan) dan “marabur” (berburu), yang mirip mitos Batak tentang perburuan roh atau hantu. Simbolisme: Narkoba sebagai “iban” (ular atau racun) melambangkan bahaya eksternal yang mengancam harmoni desa, sementara motor atau jalan sebagai simbol mobilitas yang ambigu (kemajuan vs. penyelundupan).
Nilai Moral dan Ritual: Cerita menyisipkan nilai Batak seperti hamoraon (kekayaan), hagabeon (keturunan), dan hasangapon (keh hormatan), tapi dibalik dengan korupsi (misalnya pengkhianatan Mandor Anwar). Dari perspektif antropologi fungsional (Bronislaw Malinowski), sastra ini berfungsi sebagai “mekanisme sosial” untuk mengkritik dan memperbaiki masyarakat, misalnya melalui akhir moral di mana tokoh memilih “jalan benar” (maradian satongkin).

4. Konteks Penulis dan Masyarakat

Sio Hong Wai, sebagai penulis Batak (mungkin dengan latar Cina-Batak, disebut “Cina Tarutung” di sumber online), menggunakan sastra untuk mendokumentasikan perubahan sosial di tanah Deli, kawasan historis dengan campuran etnis (Batak, Melayu, Cina, India). Novel ini, seperti disebutkan di situs Selasar Pena Talenta, menggambarkan “situasi di tanah Batak hingga tanah Deli”, termasuk isu narkoba sebagai masalah nyata di Sumatera Utara. Antropologis, ini menunjukkan sastra sebagai alat etnografi, di mana penulis menjadi “insider-outsider” yang mengkritik budayanya sendiri, mirip dengan karya antropolog-sastrawan seperti Zora Neale Hurston.

Secara keseluruhan, cerita ini bukan hanya hiburan, melainkan dokumen antropologis yang menangkap ketegangan antara tradisi Batak dan modernitas. Ia mengajak pembaca merefleksikan bagaimana globalisasi (narkoba, migrasi) mengerosi nilai adat, tapi juga potensi resiliensi budaya melalui cerita. Jika ada akses ke novel lengkap, analisis bisa lebih mendalam, termasuk perbandingan dengan mitos Batak seperti Si Raja Batak.

Ceritanya:
Marsiboan Langkana Tu Siulubalang Ari

NUNGA hibul sangkap ni si Jonas mulak tu huta. Alai ingkon jolo pajumpang ma nian dohot amparana si Saul. Didapothon ma tu kantor ni maskapei. Hira-hira diparnangkok ni mataniari nunga sahat ibana. Pajumpang dohot si Gino opas ni kantor i. Tangkas dope ditanda si Gino ibana, Kerani Jonas.

“Wah, lama tak ketemu, Ndoro, dari mana saja?”

“Aku pindah kerja ke Siantar.”

“Oo, bagus sekali. Kota yang ramai.”

“Baik, Gino, kamu masuk ke kantor sebentar, tolong panggilkan Pak Saul, ya.”

Pintor dihalaputi si Gino do pangidoan ni si Jonas. Dipajonok tu meja ni si Saul laos dihusiphon, “Pak, ada Ndoro Jonas di luar. Saya disuruh panggil bapak, ditunggu di luar.”

Hmm, jea dia ma muse binoan ni ampara on? Haruar si Saul manjumpangi. Gomos marsijalangan.

“Saut do ahu mulak tu huta marsogot, Ampara, nunga hutuhor karcis ni motorhu.”

Sip si Saul umbegesa, mansai lungun jala bonsa do panghilalaan ni si Saul, marsak. Alai ndang tardok be manang aha. Nunga songon hape i bagian ni si Jonas.

“Nauli ma molo boti, Ampara, sai jumpang ma pandaraman na dumenggan di huta, ate? Alai paima satongkin asa tu bagas ahu. Adong na naeng hubuat.”

Humalaput ma muse si Saul masuk tu bilut parkarejoanna, dibuat hepeng sian laci meja. Dibahen dohot surat na jompok. Diboan tu duru.
Alaia si “Laos boan jolo hepeng on tu huta, lehon tu bapa manang inang. Godangna saratus gulden, nunga laos hubahen surat disi.”

“Olo, Ampara, hupasahat pe. Boi do hupangido annon tu supir motor i asa maradi di jabu muna satongkin.”

“Mauliate. Pasahat nang tabe tu amang tua, inang tua dohot keluarga di Siboga.”

Dung i marsihaolan ma nasida. Marsihorasan na marampara jala marale-ale i.

“Burju burju ho, ampara Saul, parhaseang hepeng na sinarimi da!” ninna si Jonas dope. “Unang songon ahu.”

Lungun do antong parsirangan i. Apala tongon di pintu masuk, pajumpang muse si Jonas dohot Mandor Anwar.

“Hai, sudah lama tidak pernah bertemu Pak Jonas, sudah sehat bukan?”

“Terima kasih, Pak Mandor, sudah pernah berkenalan dan berteman dengan bapak di sini. Banyak kenangan tak terlupakan bersama Pak Mandor di tempat ini.”

Marhusip mandor Anwar, “Beruntung, Pak Jonas bisa sembuh. Biasanya penyakit yang satu ini meskipun sembuh tapi bisa mengubah karakter seorang laki-laki. Tapi sekali lagi syukurlah bapak masih bisa sembuh dan tidak meninggalkan bekas.”

“Iya, Pak Mandor. Terima kasih.”

Diuduti Pak Mandor muse, “Di tempat ini iklimnya panas, tapi suasana nyaman di kebun cukup meninggalkan kenangan indah, bukan?”

“Benar sekali. Tapi.. bagaimana kalo kita ngopi dulu, sebelum berpisah?” ninna si Saul.

Saut do minum kopi nasida di lapo na disinon i. Ditambai Pak Mandor podana tu si Jonas.

“Pak Jonas, pengalaman selama tinggal di kebon ini, pasti tidak akan terlupakan. Tetapi yang utama Pak Jonas dapat memetik hikmahnya, semoga berhasil setelah kembali ke kampung!”
Marsihaolan ma nasida, jala mansai gomos marsijalangan.

MANSAI ngernger do dihilala si Jonas pardalan ni motor sewa on. Hurang jala hurang hatop dope, asa tumibu nian sahat tu hutana di Siboga. Dibahen lojana, sanga do tarpodom ibana di hundulanna, di bagas motor sewa AD LIM i, ampuna ni sahalak toke Sina. Angka na imbaru do motorna, antar hunik kelirna. Auto Dienst LIM, alai godang mandok Auto Dinas Lim.

Songon i ma hape jolma i marsiboan langkana tu siulubalang ari. Naung sanga denggan parngoluonna di pangarantoan, saonari songon sitalu-talu ma mulak tu huta. Uju gabe kerani ibana di kantor kobun havea di Sibalungun Maskapei, sai hira so maretong do palahohon hepeng na sinarina i. Lalap di parlalapan, pasombu tagas pajalang hisap, papudi poda sipaingot. Sirngom ma, pidom. Saonari pe dirimangi ibana, naung tarjorgong do ibana dos songon angka kuli kobun na susa dibahen hisapna sandiri disi. Tumorop ma i halak Jaua dohot halak Sina. Lalap marpogos jala ndang tolapsa be morot sian kobun i. Torop do kuli kobun laos mate di bagasan haporsukonna.

Hea do laho ibana mandongani si Tekbi mandulo donganna na tarhurung. Laos jumpang nasida disi lima halak kuli kobun na tarhurung, i ma halak Sina na mamusa nyonya besar di kobun. Marbonsir ma i sian hapaeton ni ngolu na so tartaon nasida be. Sian duru ni hurungan i, diuji si Tekbi manungkun. Manangi-nangi ma ianggo si Jonas.

“Kamu mengapa sampai membunuh?”

Leleng asa dialusi kuli kontrak i hata ni si Tekbi, “Tuan, kami datang dari tempat jauh dan susah, tapi sampai di sini kami juga jadi orang yang lebih susah. Kalo sekarang kami musti mati, tidak apa-apa, Tuan, hidup dan mati, bagi kami sama saja, Tuan.”

“Eeeh, tahe, aha be tutu na nijambaran, molo dung mardosdos di panghilalaan dohot di panghirimon, mangolu manang mate? Mangupir si Jonas marningot hata ni angka kuli na tarhurung i. Tuani do adong sanga sahat ma nasida di Parapat, mansai uli tatapon sian motor di dalan sangunjur Tao Toba. Tangkas dope diingot ibana manatap Tao Toba na parpudi, uju rap borhat dohot si Saul nidonganan ni Tuan Risen nasida. Dipataru tu Tano Deli.

Di Balige, mangan arian di kode ni halak Sina di pasar lama. Ndang pola leleng nasida mangulon di kode i ala ingkon boi ma nian sahat tu Siboga di tiur ni ari. Salpu muse aek rangat Sipoholon, tongkin nari sahat ma tu pasar Tarutung, bonapasogit ni ompu nasida raja na bonggal i.

Sian na dao nunga haidaan jabu ni raja Nikodemus, apala jonok tu dalan balobung i. Nunga ditonahon si Jonas nangkin asa maradian satongkin di jolo jabu ni raja Nikodemus. Adong tongosan na naeng pasahatonna sian si Saul.

Longang Nan Saul marnida motor sewa na maradian di jolo jabu. Ise na ro on? Pintor hatop do Nan Saul mijur sian jabu. Bah, dibereng si Jonas. Djalang, dihaol, dijalang muse gomos. Hira naung pajumpang dohot anakna si Saul di panghilalaanna. Dihaol gomos.

“Boha do barita ni amparam si Saul?”

“Hipas do si Saul, inang uda, pajumpang do hami di na laho borhat ahu.”

Sai dipamanat Nan Saul anak ni hahadolina i, “Alai moru do dagingmu, Amang, na hurang tabo do maringanan di tano mohop i?”

“I do, inang uda, mohop hian do di kobun i. Angkup ni i, di dia amanguda? Na so di jabu do?”

“Laho tu pasar satongkin.”

“Pasahat tabe sian ahu. Dison adong huboan tongosan ni si Saul tu hamu, hepeng saratus gulden,” dipasahat si Jonas. “Patangkas jolo bilanganna, inang uda.”

“Bah, mauliate ma da. Diingot anakhi dope hami na di huta,” mansai minar bohi ni Nan Saul manjalosa, laos dibilangi ma hepeng na tinongos ni anak buha bajuna i. Dung i didalhophon tu andorana. Pola maraek simalolongna, perek iluna dibahen balga ni rohana.

“Mauliate ma Tuhan, siboto lungun do hape anakhi. Diingot do hami natorasna dohot anggi ibotona di huta. ”

“Singkop do, amang, mauliate. Pasahat tabe nami tu natorasmu, ate.”

Mardalan ma muse motor i, manadinghon Nan Saul na manghilap-hilaphon tanganna sian topi dalan. Mansai minar bohina, bidang engkel supingna, sai didalhophon dope tongosan i di andorana.
Manatap si Jonas sian jandela. Harbe-harbe punsu ni obukna diullus alogo. Manetek iluna alai manigor mahiang dihabanghon alogo. Dihilala dos songon na adong hujur na diunjomhon apala tongon tu ate-atena. Mansai hansit, maniak. Nunga diida sandiri songon dia panjalo ni inangudana i di tongosan sian si Saul. So i nama las ni rohana, ndang hasuhatan balga ni rohana, pola perek iluna huhut mengkel. Leleng sai didalhophon tongosan i di andorana. Hape, marjojor tu ingotanna angka hepeng na
diparaburhon tu angka na so patut siulahonon. Marratus- ratus gulden, lobi sian tongosan ni si Saul i.

Tuani do sanga ditangihon ibana sipaingot ni si Tekbi, asa manat mangantan di parhepengon, ndang sai binoto aha na masa marsogot haduaan. Gabe adong ma sanga dipangu-pungu hepeng, i ma boan-boanna saonari.

Dipapitpit gomos simalolongna, anggiat salpu sude sian pingkiranna. Hape laos suhar do, gariada gabe lam tangkas do marngiar hata ni inang ni si Saul nangkin. Pola dihuphupi ibana sipareonna dohot duansa tanganna.

Mauliate ma Tuhan, siboto lungun do hape anakhi.
Diingot anakhi dope hami na di huta, natorasna dohot anggi ibotona!

“Boha ma ia ahu lapa-lapa on? Ndang siboto lungun! Na sotumanda dirina! Silaosi poda situndali mata ni ari binsar!”

Tumatangis si Jonas di motor i. Ndang dipekhon be angka pasisir na asing na sai longang sungkun-sungkun marhusipi. Mansai balga roha ni inangudana i dibahen si Saul. Hape ia ibana gabe sitalu-talu na mulak sian Tano Deli, mansohot sian kerani hinorhon ni sahit sabun na jorbuti. Diula mantari opium, dibalbali parjahat. Tuani do ndang mate.

Magopo angka panghirimon ni natorasna di Siboga, naung sanga tarsar adong anakna kerani di kantor kobun havea di Tano Deli, inganan ni angka na marhamajuon i Balga situtu ma antong roha ni natoras umbege hata ni halak: Martua hamu da, anak muna anak na nimiakan!

Mandok sahat ma si Jonas di Siboga apala di tingki pardomuan ni na tiur tu na holom. Uli situtu manatap tu laut sian huta jonokhon lubang batu. Sian i tarbereng ma laut dohot angka pulo di Tapian Na Uli. Sian laut i ma amongna Aman Jonas ganup ari mardengke, nelayan sitangkup dengke. Marlaut, i ma pansarianna.

Nangkin hurang hatop dihilala pardalan ni motor on, asa tumibu nian sahat tu huta hatubuanna, di topi laut na bidang. Hape baliksa saonari gabe ndang rade dope dihilala ibana pajumpang dohot nasida angka na manghaholongi ibana. Lam jonok, lam angkabukbak taroktokna.

Manigor tandi do antong idaon ro motor sewa tu huta i. Manigor marroan ma halak. Holan mijur si Jonas sian motor, nunga marrongom angka sisolhot, hombar jabu. Pintor dilojong inangna manghaol.

“Agoo tahe anakhi. Nunga hias be ho, ate!” ninna huhut sai disiuk anakna i, dihaol diumma. Marabur iluna.

Dijalangi si Jonas sude nasida. Bangkona ma i laos adong manungkun, martunggu, “Aha do diboan ho di hami?”

“Pos rohamuna, otik so sadia, adong do huboan,” didadap si Jonas ma purona. Disagihon ma sasuku be di angka na tumua, satali tu angka na umposo, dohot sagetep be tu angka dakdanak. Adong muse angka bombon diparlehon tu angka dakdanak i. I pe asa mulak be tu nasida.

Marpungu ma nasida na saripe di bilut partamueon, gok las ni roha. Didok Aman Jonas ma hatana, “Mauliate. Hami nian ingkon gabe tumibu ho mulak sian Tano Deli, ma di Tuhanta, boi pajumpang hita muse. Ndang huhirim patoranghonmu boha taringot tu Tano Deli, alai boi do ra tano sinipion i. Binsan pungu dope hita dison.”

“Ho pe, da Amang,” ninna Nan Saul. “I dope sahat anakhi, ndang tagamon so loja dope. Martapian ma jolo, asa huparade sipanganonta. Hubahen ma jolo kopi di ho, Jonas?”

Hira sude do nasida manolopi. Di ari na mangihut ma diuduti na marsirarian i. Dung morot be angka anggi iboto dohot apala hombar jabu, dipasahat si Jonas ma hepeng na binoanna sian pangarantoan na

“Inong, adong do huboan hepeng na husari saleleng on. Antar godang do hepeng on, asa simpan ma pauli, ate?” Dibungka ma puntal-puntalanna. Dipasahat tu inongna.

Dipareso inongna, dibungka. Tarsonggot nasida mamereng godang ni hepeng i. Mansai godang. Ndada hea dope diida nasida hepeng songon i godangna.

“Ai situtu do pansarianmu on, Amang?” ninna Aman Jonas, humitir soarana. “Manat hita. So tung gabe hamamago on di hita, Amang.”

“Pos roham, inong, bapa, situtu hepeng na husari do on, palias ma hepeng na sinamun manang tinangko. Ndang di hita nasongon i. Pauli ma jolo, Inang, haduan pe tapingkiri, aha ma sibahenonta taringot tu hepeng on. langgo ahu nunga hibul rohangku maringanan di huta nama ahu rap dohot hamu.”

Marsipanotnotan duansa natorasna. Sai marhusari dope roha nasida, so tung na sian dalan na so tingkos hepeng na pineop ni si Jonas.

“Na marsitutu do ho naeng maringanan di huta? Nunga hot sangkapmi?” ninna inangna.

“Nunga songon i hape bagianmu, ingkon sirang sian parkarejon dohot si Saul. Tapingkiri ma nanget boha mamparhaseang hepengmu on. Ra – boi ma muse tatuhor jabu di Siboga, asa boi tapasewahon tu angka toke Sina. Nunga lam matua iba, ndang sai tarula be na marlaut i.”

“Olo, bapa.”

  • Disusun oleh: Bunga Sarido Natalia Simanullang dan Lusi Ani Sitorus (mahasiswi Prodi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya USU)
  • Dosen: Drs Jekmen Sinulingga MHum (dosen Prodi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya USU)

Related posts

Leave a Comment