topmetro.news, Medan -Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) resmi memulai rangkaian Kick Off Studi Rencana Aksi Peningkatan Produksi dan Produktivitas Kopi serta Kick Off Studi Integrated Landscape Management (ILM) dalam kerangka Proyek Food Systems, Land Use, and Restoration (FOLUR).
Kegiatan ini menandai langkah strategis Pemprov Sumut dalam memperkuat sektor perkopian sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis pengelolaan lanskap terpadu.
Kepala Bappelitbang Provinsi Sumatera Utara, Dr. Dikky Anugerah, S.Sos., M.SP., menyampaikan bahwa proyek FOLUR merupakan inisiatif global yang mendapat dukungan dari Global Environment Facility (GEF), United Nations Development Programme (UNDP), dan Food and Agriculture Organization (FAO), serta dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia.
“Sumatera Utara memiliki posisi yang sangat strategis dalam perkopian nasional. Kita adalah produsen kopi Arabika terbesar di Indonesia, sehingga sudah sepatutnya pengembangan kopi dilakukan secara terencana, berkelanjutan, dan berbasis data,” ujar Dr. Dikky saat memberikan keterangannya, Rabu (21/1/2026).
Berdasarkan data tahun 2024, Sumatera Utara mencatat produksi kopi Arabika sebesar 80.628 ton. Secara keseluruhan, total produksi kopi di provinsi ini mencapai 91.595 ton, atau mengalami peningkatan 2,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menegaskan peran penting Sumut sebagai salah satu tulang punggung industri kopi nasional.
Dr. Dikky menjelaskan, Studi Rencana Aksi Peningkatan Produksi dan Produktivitas Kopi difokuskan pada penguatan kapasitas teknis petani melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP), peningkatan kualitas budidaya, serta penguatan rantai nilai kopi yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
“Studi ini tidak hanya bicara soal peningkatan produksi, tetapi juga produktivitas dan kesejahteraan petani. Kita ingin petani kopi di Sumatera Utara naik kelas, baik dari sisi teknik budidaya, kualitas hasil, maupun akses pasar,” katanya.
Sementara itu, Studi Integrated Landscape Management (ILM) dirancang untuk mengintegrasikan prinsip pengelolaan lanskap terpadu ke dalam perencanaan pembangunan daerah. Pendekatan ini diharapkan mampu menyeimbangkan kepentingan konservasi lingkungan dengan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat, khususnya di wilayah sentra produksi kopi.
Menurut Dr. Dikky, pengelolaan lanskap terpadu menjadi kunci dalam menjaga fungsi ekologis kawasan, sekaligus memastikan aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan secara berkelanjutan.
“Pendekatan ILM memungkinkan kita melihat pembangunan secara utuh. Tidak parsial. Ada keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bappelitbang Provinsi Sumatera Utara menegaskan komitmennya untuk menyediakan data yang akurat serta memperkuat koordinasi lintas sektor agar rekomendasi dari kedua studi tersebut dapat diimplementasikan secara nyata dalam kebijakan dan program pembangunan daerah.
“Kami berkomitmen memastikan hasil studi ini tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar menjadi dasar pengambilan kebijakan pembangunan di Sumatera Utara,” tegas Dr. Dikky.
Kegiatan kick off ini turut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Bappenas RI, Kementerian Kehutanan, kalangan akademisi, serta mitra pembangunan internasional. Sinergi lintas pemangku kepentingan tersebut diharapkan mampu memperkuat implementasi proyek FOLUR di Sumatera Utara.
Melalui kolaborasi ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menargetkan terciptanya keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan puluhan ribu petani kopi, sekaligus memperkuat posisi Sumut sebagai pusat produksi kopi berkualitas secara berkelanjutan di tingkat nasional maupun global.
Penulis | Erris

