TOPMETRO.NEWS – Hujan yang mengguyur selama akhir pekan ini membuat sejumlah wilayah di Indonesia mengalami banjir. Di Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, lima orang meninggal akibat banjir bandang terjadi pada Minggu (26/3/2017) malam.
Sebagian wilayah Kota Padangsidimpuan dilanda banjir bandang pada Minggu (26/3) malam yang menyebabkan puluhan rumah di berbagai kelurahan mengalami kerusakan.
“Diduga korban hanyut dibawa arus sungai yang pada saat itu banjir dan kedua mayat ditemukan di pinggir sungai Kelurahan Lubuk Raya,” kata Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara, Komisaris Besar Rina Sari Ginting dikutip Okezone, Senin (27/3/2017).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padangsidimpuan mendirikan delapan posko dan dapur umum untuk penanganan banjir bandang yang melanda daerah itu.
Sekretaris BPBD Padangsidimpuan Juli Safitri, melalui Antaranews, mengatakan posko dan dapur umum itu didirikan untuk menampung dan membantu warga yang menjadi korban banjir.
Selain untuk penampungan sementara, posko tersebut juga menyediakan sarapan bagi warga yang harus mengungsi akibat rumahnya tergenang atau rusak.
Banjir bandang telah mengakibatkan sejumlah bangunan rusak, termasuk sekolah. Ratusan murid terpaksa diliburkan karena kondisi sekolah mengalami rusak dan tertimbun lumpur.
Banjir juga melanda Kota dan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Pemerintah Kota Bima mencatat, jumlah pengungsi akibat luapan banjir Minggu (26/3/2017) malam mencapai 2.500 jiwa yang terkonsentrasi di 15 titik seperti masjid, Kantor Wali Kota dan sejumlah titik lain.
Pelaksana Tugas Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Kota Bima, Syahrial Nuryadin menyebutkan, seluruh wilayah di Kota Bima yang terdiri dari lima kecamatan terdampak banjir.
Di Kabupaten Bima, tiga kecamatan di wilayah itu terendam banjir. Kepala Seksi Penanganan Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, Bambang Hermawan, mengatakan bahwa tiga kecamatan yang diterjang banjir bandang adalah Kecamatan Monta, Woha, dan Belo.
“Yang paling parah di Kecamatan Monta. Ada satu Desa di sana, yakni Desa Sakuru, diterjang banjir setinggi leher orang dewasa,” ujar Bambang melalui Kompas.com.
Di Pasuruan, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, sedikitnya ada 1.400 kepala keluarga atau 4.500 jiwa terdampak akibat luapan Sungai Welang.
Sejak Minggu malam, debit air di Sungai Welang mengalami penambahan yang sangat signifikan. Air meluber dan menutup akses Jalan Pantura yang menghubungkan Kabupaten dan Kota Pasuruan ke Kabupaten Probolinggo.
Sekretaris BPBD Kota Pasuruan Gangsar memperkirakan, banjir ini kemungkinan masih akan bertambah, mengingat Purwodadi dan Purwosari masih hujan deras. “Kalau di atas masih hujan deras, kemungkinan akan ada tambahan debit air cukup tinggi,” katanya melalui Surya.(TMN)

