Tatak Garo-Garo, Tarian Pakpak yang Sarat Makna dan Identitas Budaya

TATAK Garo-Garo, salah satu tarian tradisional khas masyarakat Pakpak, kembali menjadi perbincangan karena keunikannya yang memadukan gerakan enerjik, ritmis, dan penuh makna. Tarian ini telah diwariskan secara turun-temurun dan tetap dipraktikkan dalam berbagai kegiatan adat-istiadat maupun acara-acara lainnya.

Tatak Garo-Garo dikenal sebagai tarian yang menggambarkan kehidupan dan kegembiraan sekelompok Burung Garo-Garo yang sedang mencari makan dan bersenda gurau. Tarian ini juga melambangkan rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang melimpah, sering dipentaskan saat panen tiba sebagai ungkapan sukacita dan kegembiraan, serta menggambarkan kebahagiaan masyarakat Pakpak dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Gerakannya yang cepat serta hentakan kaki yang kuat mencerminkan karakter masyarakat yang tangguh dan bekerja keras.

Tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki nilai-nilai filosofis. Setiap gerakan tangan dan kaki dalam Tatak Garo-Garo membawa pesan tentang kebersamaan dan keberanian. Ini adalah bentuk ekspresi jati diri masyarakat Pakpak.

Tatak Garo-Garo biasanya ditarikan oleh sekelompok penari laki-laki dan perempuan dengan iringan musik tradisional yang menggunkan genderang, kalondang, serta sulim. Busana yang dikenakan para penari ialah pakaian Adat Pakpak yaitu Baju ‘Merapi-api’, ‘Oles’, serta pelengkap lainnya yang mendominasi warna hitam-emas yang menjadi ciri khas budaya Pakpak.

Perpaduan musik, pakaian adat, dan gerakan dinamis menciptakan pertunjukan yang memukau dan sarat akan makna.

Masyarakat setempat hingga saat ini masih melestarikan tarian ini melalui sanggar-sanggar seni maupun pengajaran informal di dalam keluarga. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan Tatak Garo-Garo tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda, sehingga tidak hilang ditelan perubahan zaman. (Like Erina Tumangger – mahasiswa Prodi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya USU)

Related posts

Leave a Comment