Desa Sigaol Barat: Penjaga Tradisi Tenun Batak di Kabupaten Toba

DI tengah derasnya modernisasi dan perubahan zaman, Desa Sigaol Barat Kecamatan Uluan Kabupaten Toba, tetap menjadi benteng pelestarian Budaya Batak, khususnya tradisi menenun Ulos. Bagi masyarakat desa ini, bertenun bukan hanya aktivitas tradisional, tetapi telah menjadi identitas, sumber kehidupan, dan kebanggaan turun-temurun.

Sebagai tradisi turun-temurun yang tetap hidup sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Desa Sigaol Barat telah mewarisi teknik bertenun dari leluhur mereka. Keterampilan ini bukan hanya dilestarikan oleh kaum ibu, tetapi juga diturunkan kepada anak-anak sejak usia 7 tahun.

Banyak anak di desa ini yang telah mampu menenun dengan teknik yang tepat, bahkan menghasilkan Ulos berkualitas layak jual. “Kami belajar sejak kecil. Orangtua bilang menenun itu bukan hanya pekerjaan, tetapi bagian dari hidup kami,” ujar seorang penenun muda.

Tradisi ini menunjukkan bahwa bertenun bukan sekadar keahlian, tetapi warisan budaya yang ditanamkan sejak dini.

Lebih dari Tradisi: Sumber Ekonomi Keluarga

Mayoritas keluarga di desa ini menggantungkan kehidupan melalui hasil tenunan Ulos dan produk turunannya. Setiap helai Ulos dikerjakan dengan ketelitian dan pemahaman mendalam terhadap motif serta makna filosofisnya.

Proses produksi Ulos memerlukan:
• Keterampilan teknis
• Kesabaran dan ketelitian
• Pengetahuan motif dan filosofi
• Waktu pengerjaan yang panjang.

Karena itu, hasilnya tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga membawa nilai budaya dan emosional.

Sentra Tenun: Pengembangan Budaya dan UMKM

Untuk memperkuat warisan ini, didirikan Sentra Tenun Desa Sigaol Barat. Sentra tenun ini membuka peluang bagi desa menjadi desa wisata Budaya Batak yang berdaya saing.

Di tengah gempuran mesin industri dan produk modern, masyarakat Sigaol Barat tetap teguh menjaga warisan leluhur. Selama tangan generasi muda masih memegang alat tenun, motif masih disusun dengan kesadaran makna, dan Ulos tetap bertahan sebagai simbol kasih dan identitas Batak, maka tradisi bertenun tidak akan pernah padam. (Sandro Parningotan Butarbuar – mahasiswa Prodi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara)

Related posts

Leave a Comment