ABSTRAK
Penelitian ini menganalisis cerita “Ende na Marhata Latin” dengan menggunakan pendekatan psikosastra. Kajian ini berfokus pada dinamika psikologis para tokoh yang muncul dalam suasana pesta gereja, khususnya saat latihan dan persiapan koor. Analisis menunjukkan bahwa para tokoh mengalami berbagai bentuk kecemasan, tekanan sosial, konflik batin, serta motivasi spiritual dalam menjalankan tugas koor. Guru Domitian berperan sebagai figur yang menenangkan dan membangun semangat, sehingga mampu mengurangi kecemasan kelompok dan menciptakan suasana yang lebih stabil. Selain itu, interaksi antaranggota koor menggambarkan adanya emosi kolektif dan kohesi sosial yang terbentuk melalui aktivitas bersama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan koor bukan hanya peristiwa musikal, tetapi juga ruang bagi proses psikologis masyarakat, seperti pengendalian emosi, kerja sama, dan pemaknaan spiritual.
Kata kunci: psikosastra, dinamika tokoh, koor, kecemasan, interaksi sosial.
PENDAHULUAN
Dalam tradisi Batak Toba, ende atau lagu selalu menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Lagu tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian pesan, doa, nasihat, hingga ekspresi identitas budaya. Perkembangan zaman membuat bentuk ende semakin beragam, termasuk munculnya Ende na Marhata Latin yang menggabungkan unsur Batak dengan bahasa maupun gaya nyanyian Latin.
Fenomena ini menarik untuk dibahas karena menunjukkan bagaimana masyarakat Batak menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan akar budaya. Munculnya campuran bahasa atau gaya Latin memperlihatkan perpaduan budaya sekaligus kreativitas masyarakat dalam menghidupkan kembali lagu-lagu tradisi agar tetap relevan untuk generasi muda.
Sebagai mahasiswa Sastra Batak, penting untuk melakukan pembacaan dan analisis terhadap Ende na Marhata Latin. Melalui analisis ini, kita dapat melihat bagaimana unsur-unsur intrinsik seperti tema, pesan, dan gaya bahasa disusun untuk menyampaikan makna tertentu. Selain itu, analisis ini juga membantu memahami bagaimana identitas Batak dibawa dan dirawat melalui lagu meskipun menggunakan bentuk baru.
Dengan demikian, kajian mengenai Ende na Marhata Latin bukan hanya membahas sebuah lagu, tetapi juga membahas dinamika budaya Batak, proses adaptasi, dan bagaimana tradisi tetap bernilai di tengah perkembangan musik modern.
A.Rumusan Masalah
1. Bagaimana dinamika psikologis tokoh-tokoh dalam cerita “Ende na Marhata Latin”?
2. Bentuk kecemasan, motivasi, dan konflik batin apa saja yang muncul pada anggota koor?
3. Bagaimana peran Guru Domitian dalam mempengaruhi kondisi psikologis kelompok?
4. Bagaimana hubungan antara suasana pesta gereja dengan tekanan psikologis masyarakat dalam cerita?
5. Bagaimana penjiwaan (emosi batin) terhadap lagu mempengaruhi perilaku dan mental tokoh-tokoh?
6. Bagaimana interaksi sosial di dalam koor merefleksikan konsep psikologi kelompok?
B.Bedah Cerita Berdasarkan Kajian Pisikosastra
Psikosastra menelaah karya sastra lewat aspek psikologis tokoh, penulis, serta pembaca. Fokusnya ada pada emosi, motivasi, konflik batin, kepribadian, dan proses mental yang tampak dalam cerita.
I. Ringkasan Cerita
Cerita ini menggambarkan suasana pesta gereja, khususnya bagian koor. Tokoh-tokoh terutama para ama mengalami dinamika emosional ketika harus bersiap untuk tampil, berlatih, terlambat datang, ada yang lupa, ada yang kesal, dan ada yang canggung. Di tengah persiapan, Guru Domitian berusaha menenangkan, memberi pengarahan, dan membangun semangat para anggota koor agar menyanyikan lagu dengan penjiwaan. Cerita berakhir dengan koor yang menyanyikan lagu “Ida Hinadenggan ni…” dan pesan moral “Ora et labora” berdoa dan bekerja.
II. Analisis Psikologi Tokoh
a.Tokoh Guru Domitian
Aspek psikologis:
Tenang dan matang emosional.
Ia beberapa kali meredakan ketegangan para anggota koor.
Pemimpin yang suportif.
Ia memberi motivasi (“adong dinamika, molo so dijiwai…”).
Memahami kondisi orang lain.
Ia tidak marah ketika ada yang terlambat; justru memberi arahan agar fokus pada makna lagu.
Kajian Psikologi:
Cocok dengan teori kepribadian humanistik (Carl Rogers): pemimpin yang empatik, nondirektif, dan memfasilitasi perkembangan positif.
b.Anggota Koor/Ama-Ama
Aspek psikologis yang muncul:
– Kecemasan sosial (social anxiety)
– Khawatir salah, takut terlambat, takut suara kurang bagus.
– Motivasi berprestasi
– Ingin tampil baik di pesta.
Konflik batin
– Antara keinginan tampil bagus dan rasa malas/lelah, dan situasi yang tidak kondusif.
Kompensasi
– Ada yang percaya diri menutupi rasa gugup dengan humor (“hehe do roha ni angka ama…”).
Kajian Psikologi:
Sesuai teori psikodinamika Freud, konflik antara “id” (ingin bersenang-senang), “ego” (menjalankan tugas), dan “superego” (tanggung jawab gerejawi).
c.Situasi Sosial Desa / Gereja
Aspek psikologi kolektif:
– Tekanan sosial untuk tampil baik di hadapan warga & pendeta.
– Emosi massa (collective emotion) terlihat ketika yang datang terlambat dicemooh ringan atau tertawa bersama.
– Kohesi kelompok terbentuk lewat latihan koor.
Teori relevan:
– Psikologi sosial tentang konformitas dan dinamika kelompok (Lewin).
III. Tema Psikologis Utama
a. Kecemasan dan tekanan sosial
Orang-orang merasa “sibuk”, “ribur”, “surak-surak”, dan “tarlambat”. Ini menggambarkan tekanan sosial dalam kegiatan komunal.
b. Penjiwaan & Makna Spiritual
Guru Domitian menekankan penjiwaan lagu—ini elemen psikologi transpersonal, yaitu hubungan antara manusia dan dimensi spiritual.
c. Konflik antara tugas dan kelelahan
Tokoh-tokoh tampak terpecah antara:
– Kewajiban (marende / latihan),
– Kondisi psikologis (cape, malas),
– Dan ekspektasi masyarakat.
IV. Pesan Psikologis dalam Cerita Ende na Marhata Latin
Cerita Ende na Marhata Latin mengandung berbagai pesan psikologis yang muncul dari dinamika antar tokoh, suasana latihan koor, dan proses persiapan menghadapi acara gereja. Walaupun tampak sederhana, cerita ini menggambarkan bagaimana kondisi mental, emosi, dan hubungan sosial berperan dalam kegiatan komunal masyarakat Batak.
Pertama, cerita ini memperlihatkan pentingnya pengendalian emosi. Saat suasana latihan menjadi ribut, banyak suara yang saling tumpang-tindih, dan beberapa tokoh mulai merasa tidak nyaman, kehadiran Guru Domitian sebagai figur yang tetap tenang menunjukkan bahwa satu orang yang stabil dapat memengaruhi suasana kelompok. Cerita ini menekankan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, kemampuan mengatur emosi sangat menentukan terciptanya harmoni.
Kedua, cerita ini memperlihatkan munculnya kecemasan kolektif. Para anggota koor merasa takut salah nada, khawatir tidak siap, dan panik melihat kekacauan kecil di sekeliling mereka. Kecemasan ini bukan berdiri sendiri, tetapi saling memengaruhi. Pesan yang muncul adalah bahwa kecemasan bisa diredakan melalui komunikasi, kebersamaan, dan arahan positif dari pemimpin.
Ketiga, cerita ini menunjukkan peran pemimpin dalam menstabilkan psikologi kelompok. Guru Domitian tidak marah meski suasana kurang tertib. Ia memilih memberi arahan lembut tentang tempo, dinamika, dan penjiwaan lagu. Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin yang empatik mampu mengurangi tekanan, menenangkan anggota, dan menciptakan rasa aman. Sikap seperti ini mencerminkan model kepemimpinan Batak yang bijaksana: tegas, tetapi tidak keras; mengarahkan tanpa merendahkan.
Keempat, cerita ini mengangkat musik sebagai media pengelolaan emosi. Penekanan pada “penjiwaan” dalam bernyanyi menunjukkan bahwa musik dapat menjadi sarana untuk menata hati, merilekskan pikiran, serta memperkuat kesadaran spiritual. Melalui bernyanyi, para tokoh dapat mengekspresikan perasaan sekaligus menenangkan diri.
Kelima, cerita ini menampilkan kerja sama dan kohesi sosial. Walaupun latihan diwarnai komentar, canda, dan kegaduhan kecil, para tokoh tetap berusaha tampil kompak. Mereka hadir dengan niat yang sama: menyukseskan koor gereja. Hal ini mencerminkan nilai marsiadapari dalam budaya Batak, yaitu saling menolong dan mendukung demi tercapainya tujuan bersama.
Keenam, cerita ini menggambarkan tekanan sosial sebagai bagian dari kehidupan kelompok. Anggota koor merasa terbebani oleh tuntutan untuk siap dan tampil bagus. Namun, tekanan ini justru menjadi motivasi untuk bekerja lebih baik ketika dihadapi bersama-sama, bukan dengan saling menyalahkan.
Ketujuh, cerita menunjukkan bahwa spiritualitas menjadi sumber kekuatan psikologis. Bagian akhir cerita yang diakhiri dengan “Ora et labora” menegaskan bahwa doa dan kerja keras berjalan bersamaan. Spiritualitas menjadi pegangan untuk menenangkan hati ketika menghadapi tugas yang menuntut kesiapan mental dan emosional.
Terakhir, cerita ini menggambarkan bahwa humor dapat menjadi mekanisme pertahanan emosi. Canda kecil di tengah latihan membantu mencairkan suasana dan menjadi cara sederhana untuk mengurangi kecemasan. Humor yang sehat dapat menyeimbangkan tekanan dan membuat anggota lebih nyaman.
Secara keseluruhan, pesan psikologis dalam Ende na Marhata Latin menunjukkan bahwa latihan koor bukan hanya proses musikal, tetapi juga ruang tempat manusia belajar mengatur emosi, bekerja sama, memaknai kepemimpinan, dan menemukan ketenangan melalui seni dan spiritualitas. Cerita ini menjadi cerminan kehidupan nyata masyarakat Batak yang menjunjung nilai kebersamaan, hormat pada pemimpin, dan kekuatan iman dalam menghadapi tekanan sehari-hari.
V. Analisis Verba+ Emoji
1. “Marende / Marnonang” (Bernyanyi) 🎤🙂
Makna psikologis:
Bernyanyi bukan hanya aktivitas vokal, tetapi proses penyaluran emosi. Para tokoh berusaha menstabilkan perasaan lewat suara, terutama ketika Guru Domitian mengingatkan tentang penjiwaan.
Simbol: — musik sebagai penenang, 🙂 — menata batin.
2. “Marlatih / Marmorata” (Berlatih) 🏋️♂️😬
Makna psikologis:
Latihan menggambarkan usaha mengelola kecemasan. Tokoh-tokoh berjuang melawan gugup, takut salah, dan tekanan sosial. Proses latihan menjadi ajang mengatur ego dan emosi.
Simbol: 🏋️♂️ — usaha, 😬 — cemas.
3. “Tarlambat Ro” (Datang Terlambat) 😓⌛
Makna psikologis:
Keterlambatan menimbulkan rasa bersalah, takut dinilai, dan cemas menghadapi kelompok. Reaksi sosial menambah tekanan psikologis.
Simbol: 😓 — gugup, ⌛ — waktu yang mengejar.
4. “Mangigio / Mandok Hata” (Memberi Arahan) 🗣️🤝
Makna psikologis:
Tindakan Guru Domitian memberi arahan terjadi saat anggota sedang kacau. Arahan ini mengembalikan fokus, memberi rasa aman, dan menurunkan kecemasan.
Simbol: 🗣️ — bimbingan, 🤝 — kepercayaan.
5. “Manangihon / Manenenghon” (Menenangkan) 😌
Makna psikologis:
Guru Domitian menjadi figur pengatur suasana, menciptakan kestabilan emosi dalam kelompok. Menenangkan adalah bentuk regulasi emosi bersama (collective regulation).
Simbol: 😌 — hati tenang,
6. “Surak-Surak / Mardebat-Debat” (Ribut / Ramai) 🎧😵💫
Makna psikologis:
Keramaian menggambarkan kekacauan batin para tokoh. Kondisi ribut adalah simbol ketidakstabilan emosi kelompok.
Simbol: 🎧 — suara bertumpuk, 😵💫 — mental kacau.
7. “Mangantusi Diri” (Mengatur Diri) 🧘♂️💭
Makna psikologis:
Mengatur napas, nada, dan penjiwaan merefleksikan pengendalian diri. Ini menunjukkan kematangan emosional yang berproses dalam kegiatan bernyanyi.
Simbol: 🧘♂️ — kontrol emosi, 💭 — refleksi diri.
8. “Mardongan / Marsiadapari” (Bekerja Sama) 🤲😊
Makna psikologis:
Kerja sama muncul dalam dinamika kelompok yang ingin tampil baik. Kohesi sosial meredakan tekanan individu sehingga tugas terasa lebih ringan.
Simbol: 🤲 — kebersamaan, 🫂 — kehangatan sosial.
9. “Marbisuk / Tarhonor” (Malu / Tidak Percaya Diri) 🙈😟
Makna psikologis:
Beberapa anggota merasa kurang yakin dengan suara mereka. Ini menggambarkan kecemasan performatif (performance anxiety).
Simbol: 🙈 — menutup diri, 😟 — cemas.
10. “Manjumpai” (Berhadapan / Menghadapi) 🎤😨
Makna psikologis:
Menghadapi panggung berarti menghadapi tekanan sosial, ekspektasi, dan ketakutan akan penilaian.
Simbol: 🎤 — panggung, 😨 — rasa takut.
11. “Marmukul / Marhaha-haha” (Bercanda) 😄🫶
Makna psikologis:
Humor menjadi mekanisme pertahanan emosional. Dengan bercanda, para ama menurunkan ketegangan.
Simbol: 😄 — tawa, 🫶 — kehangatan.
12. “Manjiwai” (Menghayati) ✨❤️🔥
Makna psikologis:
Penjiwaan adalah proses memaknai secara spiritual dan emosional. Di sini terjadi hubungan antara musik dan ketenangan batin.
Simbol: ✨ — spiritualitas, ❤️🔥 — semangat batin.
13. “Mangurupi / Mamotivasihon” (Memberi Semangat) 🌟💪
Makna psikologis:
Guru Domitian memberi motivasi sebagai bentuk dukungan psikologis. Tindakan ini meningkatkan rasa percaya diri kelompok.
Simbol: 🌟 — energi positif, 💪 — kekuatan mental.
14. “Marmemeh / Marembe” (Mengeluh / Merepot) 😩💬
Makna psikologis:
Keluhan muncul sebagai reaksi terhadap tekanan, lelah, dan chaos latihan. Ini menggambarkan konflik batin antara tugas dan kondisi emosional.
Simbol: 😩 — lelah, 💬 — ekspresi tekanan.
15. “Mangido Tuhan” (Berdoa) 🙏✨
Makna psikologis:
Doa menjadi pusat stabilitas mental dan pemulihan batin tokoh. Menghadirkan rasa aman, pegangan, dan keteduhan spiritual.
Simbol: 🙏 — spiritualitas, ✨ — ketenangan batin.
KESIMPULAN
Analisis psikosastra terhadap Ende na Marhata Latin menunjukkan bahwa cerita/lirik ini tidak hanya menghadirkan kegiatan musikal semata, tetapi juga menggambarkan dinamika psikologis masyarakat Batak dalam konteks kegiatan gereja. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam koor mengalami beragam kondisi mental, seperti kecemasan, tekanan sosial, konflik batin, serta dorongan spiritual untuk tampil sebaik mungkin. Guru Domitian muncul sebagai figur yang stabil secara emosional dan mampu menenangkan kelompok melalui empati, arahan lembut, dan motivasi yang membangun.
Interaksi antaranggota koor mencerminkan adanya emosi kolektif, rasa kebersamaan, dan kohesi sosial yang terbentuk melalui kegiatan persiapan lomba atau pesta gereja. Hal ini memperlihatkan bahwa aktivitas bernyanyi bukan hanya persoalan teknik atau suara, tetapi juga proses psikologis yang mempengaruhi suasana hati, kerja sama, dan cara seseorang menghadapi tekanan sosial.
Secara keseluruhan, Ende na Marhata Latin memperlihatkan hubungan yang erat antara seni, spiritualitas, dan psikologi masyarakat Batak. Kegiatan koor menjadi ruang bagi para tokoh untuk mengelola emosi, berinteraksi secara harmonis, serta menegaskan nilai budaya seperti gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap pemimpin. (***)
Dosen Pengampu Drs Jekmen Sinulingga MHum
Disusun oleh:
– Selly Magdalena Saragih (230703025)
– Putri Gracea Batubara (230703005)
– Revi Angel Sonata Sitorus (230703029)

