topmetro.news, Medan – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terus menggenjot pembangunan infrastruktur jalan dan ketahanan pangan pada tahun anggaran 2026.
Kepala Dinas PUPR Sumut Hendra Darmawan Siregar, memaparkan secara rinci alokasi anggaran serta sejumlah proyek strategis yang dinilai berdampak besar bagi masyarakat.
Hendra menjelaskan, pada tahun 2026 Dinas PUPR Sumut khususnya di Bidang Bina Marga akan mengelola anggaran Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) 5A sebesar Rp690 miliar. Anggaran tersebut akan disalurkan untuk penanganan jalan provinsi di sejumlah kabupaten/kota.
“Untuk tahun 2026, anggaran Program 5A sekitar Rp 690 miliar akan kita distribusikan ke beberapa daerah, seperti Kabupaten Langkat, Kota Binjai, Tapanuli Selatan, dan wilayah Kepulauan Nias. Sementara Padang Lawas belum masuk dalam alokasi tahun ini,” kata Hendra saat memberikan keterangannya di Kantor Gubernur Sumut, Rabu (28/1/2026).
Melalui anggaran tersebut, Pemprov Sumut menargetkan penanganan jalan sepanjang 152,4 kilometer pada 2026. Penanganan ini diharapkan dapat meningkatkan persentase jalan mantap di Sumatera Utara secara signifikan.
“Saat ini total panjang jalan provinsi kita sekitar 3.005 kilometer. Dengan target penanganan 152,4 kilometer di 2026, kita optimistis persentase jalan mantap bisa mencapai 79,17 persen,” ujarnya.
Namun demikian, Hendra mengakui masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan untuk mencapai target jangka panjang.
“Untuk mencapai target 88j persen jalan mantap hingga akhir masa jabatan gubernur, kita masih membutuhkan penanganan sekitar 9 persen atau kurang lebih 270 kilometer jalan. Perkiraan kebutuhan anggarannya sekitar Rp 1,7 triliun, yang akan dialokasikan secara bertahap selama tiga tahun anggaran,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, Hendra juga menyinggung sejumlah proyek pembangunan yang dinilai monumental, salah satunya adalah pembangunan akses jalan menuju Sipirok Center di Kabupaten Tapanuli Selatan.
Menurutnya, proyek tersebut berhasil membuka keterisolasian wilayah yang telah berlangsung puluhan tahun.
“Ini salah satu proyek paling monumental. Jalan ini menghubungkan Padang Lawas Utara, Dabun Batu, hingga ibu kota Tapanuli Selatan di Sipirok. Dulu aksesnya hanya bisa dilewati kuda, sekarang sudah menjadi jalan beraspal dua lapis ACBC dan ACWC,” ungkap Hendra.
Ia bahkan menyebut, dengan kondisi jalan saat ini, kendaraan apa pun dapat melintas dengan nyaman.
“Sekarang bukan hanya kendaraan biasa, mobil sport seperti Ferrari pun bisa lewat. Ini simbol bagaimana keterisolasian puluhan tahun akhirnya bisa kita selesaikan,” tambahnya.
Selain infrastruktur jalan, Pemprov Sumut juga memberi perhatian serius pada sektor ketahanan pangan melalui pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi serta waduk.
Salah satu proyek yang akan dikerjakan adalah Daerah Irigasi (DI) Cinta Maju di Kabupaten Asahan dengan anggaran Rp22 miliar. “DI Cinta Maju ini menyasar sekitar 1.400 hektar sawah yang selama ini kerap mengalami kekeringan. Harapannya, produktivitas pertanian bisa meningkat,” kata Hendra.
Selanjutnya, terdapat proyek DI Batang Serangan dengan anggaran awal sekitar Rp45 miliar. Namun, proyek ini masih dalam tahap penyesuaian desain. “DI Batang Serangan sedang kita lakukan redesign karena sebelumnya terdampak bencana. Kemungkinan akan ada penambahan anggaran, tergantung hasil perencanaan ulang,” ujarnya.
Sementara itu, untuk penanganan banjir, Pemprov Sumut juga mengandalkan Waduk Tanjung Pura. Meski tidak menghilangkan banjir sepenuhnya, waduk ini diharapkan mampu meminimalisir dampak yang ditimbulkan.
“Tujuan kita bukan menghilangkan banjir 100 persen, tapi menurunkan dampaknya. Dari yang sebelumnya setinggi pinggang, kita harapkan bisa turun menjadi setinggi betis melalui normalisasi waduk dan perbaikan saluran menuju Batang Serangan,” jelas Hendra.
Ia menegaskan, proyek tersebut membutuhkan sinergi lintas instansi. “Ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Kita perlu koordinasi dengan PU kabupaten/kota dan stakeholder lainnya,” tambahnya.
Proyek ketahanan pangan lainnya adalah pembangunan DI Rumpuran Maga di Kabupaten Mandailing Natal dengan anggaran Rp31,5 miliar. “DI Rumpuran Maga kita harapkan bisa memaksimalkan hasil panen petani. Targetnya, petani bisa panen dua sampai tiga kali dalam setahun,” kata Hendra.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa seluruh program dan proyek tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemprov Sumut dalam meningkatkan kualitas infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat.
“Pembangunan jalan dan ketahanan pangan ini kita rancang agar dampaknya benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat, baik dari sisi konektivitas wilayah maupun peningkatan ekonomi,” pungkasnya.
penulis | Erris JN

