topmetro.news, Medan – Ghana baru saja melakukan salah satu langkah paling ambisius dalam sejarah pertambangan Afrika.
Mulai bulan ini, Dewan Emas Ghana akan mengambil alih tanggung jawab penuh untuk menandatangani perjanjian pembelian dan mengelola penjualan semua emas hasil pertambangan artisanal dan skala kecil (ASM).
Targetnya? Menyalurkan 127 metrik ton emas per tahun senilai sekitar US$17 miliar dengan harga saat ini ke perdagangan resmi.
Berikut alasan mengapa ini penting bagi investor Afrika:
Afrika kehilangan miliaran Dolar setiap tahun karena emas artisanal yang tidak dilaporkan diselundupkan melalui perbatasan yang longgar ke pusat-pusat global seperti Dubai.
Reformasi Ghana tidak hanya menutup kebocoran pendapatan, tetapi juga menciptakan pasar formal yang sepenuhnya baru.
Pada saat yang sama, rezim royalti skala geser baru Ghana dapat mendorong royalti emas setinggi 12% ketika harga naik di atas $4.500/oz.
Dengan harga emas saat ini diperdagangkan mendekati $4.430, ambang batas tersebut sangat dekat bagi para penambang tetapi menjanjikan bagi kas pemerintah.
Ini adalah nasionalisme sumber daya yang dilakukan dengan bijak.
Bukan perampasan, tetapi formalisasi. Bukan konflik, tetapi penguasaan.
Jika Ghana berhasil melakukan ini, perkirakan setiap negara penghasil emas utama di Afrika Barat akan mengikutinya dalam waktu 18 bulan.
Bagaimana Indonesia?
Di tengah maraknya pertambangan emas ilegal di Indonesia, maka berita dari Ghana ini pun jadi menarik perhatian. Salah satunya dari pengamat sosial politik di Medan, Raya Timbul Manurung.
Menurutnya, kebijakan di Ghana ini bisa juga ditiru di Indonesia. Sehingga semua pertambangan emas rakyat bisa dimanfaatkan oleh Pemerintah Indonesia. Caranya dengan memformalkan melalui badan yang dibentuk oleh pemerintah.
“Apa yang terjadi di Ghana, bisa ditiru di Indonesia. Supaya semua penambangan emas rakyat, yang liar, dll bisa dimanfaatkan Pemerintah Indonesia. Dengan memformalkan melalui padan pemerintah, menjadi satu-satunya pembeli tunggal dan penjual tunggal ke pasar domestik maupun internasional,” ujar Ratiman, sapaan akrabnya, Rabu (1/4/2026).
Dia pun menyebut, bahwa emas dari penambangan rakyat bisa menjadi simpanan Bank Indonesia. “Emas juga bisa dijual pemerintah ke Bank Indonesia dan menjadi simpanan Bank Indonesia. Sehingga hal ini memperkuat cadangan emas sebagai penyangga mata uang Rupiah dan aset ‘liquid’ selain cadangan Dollar Amerika,” tutupnya.
reporter | Raja P Simbolon

