topmetro.news, Langkat – Puluhan Kepala SD Negeri maupun SMP Negeri di Kabupaten Langkat, resah dengan sepak terjang segelintir oknum-oknum yang mengaku wartawan, sekaligus merangkap sebagai Ketua Lembaga Sosial Masyarakat (LSM).
Menurut para kepala sekolah tersebut, biasanya oknum-oknum yang mengaku wartawan atau kepala biro media, serta merangkap sebagai ketua LSM, hadir ke sekolah-sekolah pasca-pencairan Dana BOS.
Ironisnya, pada saat oknum-oknum ini datang, seolah-olah mencari celah kesalahan kondisi sekolah, hingga menanyakan jumlah penggunaan Dana BOS.
“Oknum yang mengaku kepala biro salah satu media dan sekaligus merangkap ketua LSM ini, sering datang ke sekolah-sekolah. Kita tidak tau dasar data apa yang menjadi temuan investigasi mereka. Intinya, kalau tidak ketemu dengan kepala sekolah, pasti diberitakan negatif,” ujar beberapa para kasek yang ditemui di Dinas Pendidikan Langkat kepada media ini, Jumat (11/9/2026).
Bukan kali ini saja para kasek berteriak resah atas sepak terjang oknum-oknum yang mengaku kepala biro media dan ketua LSM ini. Sehingga, para kasek seolah menjadi lahan indikasi pemerasan dengan memanfaatkan kartu pers dan kartu LSM.
“Kita faham kok Bang menjalin kemitraan dengan awak media. Kita mengerti tugas-tugas dan fungsi profesi rekan wartawan dan LSM. Tapi, apakah kalau gak bertemu kasek karena ada kegiatan di Dinas Pendidikan atau keperluan luar lain terkait dengan kepentingan sekolah, kemudian terbit berita dugaan penyelewengan Dana BOS. Kan aneh. Semua sekolah sudah pernah diberitakan negatif. Bahkan oknum ini sering mengancam akan menurunkan tim media dari beberapa media yang dinaunginya dan anggota LSM dia untuk menakut-nakuti kepala sekolah,” katanya lagi.
Bukan itu saja, lanjut mereka, apabila mereka datang berharap ‘pengertian’ dari kasek, secara pribadi memberikan ‘uang minyak’ atau ‘uang rokok’ kepada oknum tersebut, malah mereka merasa direndahkan karena dianggap nilai yang diberikan, tidak sesuai dengan jabatannya sebagai kepala biro yang merangkap ketua LSM.
“Biasanya mereka datang dengan tingkah sombong memperkenalkan diri, sembari mengeluarkan identitas kartu pers media bersangkutan dan kartu LSM. Tanya sana sini tentang jumlah murid dan berapa Dana BOS yang dicairkan. Gaya bicaranya bukan main. Padahal pertanyaannya itu-itu saja setiap datang. Kalau kita kasih uang pribadi untuk sekedar ‘uang minyak’ atau ‘uang rokok’, tetap aja diberitakan negatif,” ujar mereka sembari tersenyum.
Padahal, sambung para kasek, mereka seharusnya faham, jika Dana BOS itu bukan untuk dibagi-bagikan kepada oknum-oknum seperti itu. Mereka malah ancam diberitakan karena dianggap kasek tidak transparan menggunakan Dana BOS.
“Padahal, kita secara rutin melaksanakan pemeriksaan oleh tim monitoring dan evaluasi (monev), membuat SPJ kepada Dinas Pendidikan, laporan RKAS melalui aplikasi ARKAS, dan pemeriksaan tahunan oleh Inspektorat,” lanjut mereka.
Sementara itu, AS, oknum yang selama ini mengaku merupakan kepala biro di 5 media dan ketua salah satu LSM yang sepak terjangnya disebut-sebut sering meresahkan para kepala sekolah, saat dikonfirmasi terkait keluhan para kepala sekolah itu, seolah tidak menampiknya.
“Saya hanya konfirmasi,” ujarnya singkat, Sabtu (12/9/2026).
Terpisah, adanya fenomena keresahan para kepala sekolah di Kabupaten Langkat terkait sepak terjang oknum-oknum tertentu yang seolah mencari-cari kesalahan tranparansi penggunaan Dana BOS yang awalnya bermotif uang, sumber di Kejari Langkat menegaskan agar para kepala sekolah segera melaporkannya.
“Kalau masalah pemberitaan sepihak yang dianggap merugikan para kepala sekolah dan tidak berimbang, silahkan laporkan ke Dewan Pers. Namun, jika maksud oknum-oknum tersebut mencari kesalahan untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok, silahkan laporkan kepada kejaksaan atau APH terkait,” ujar salah seorang jaksa penyidik yang meminta agar tidak menyebutkan identitasnya dalam pemberitaan kepada media ini.
reporter | Rudy Hartono

