topmetro.news, TAPUT – Kunjungan Bupati Tapanuli Utara (Taput) Jonius Taripar Hutabarat ke lokasi pembangunan Bendungan Sarulla di Kecamatan Pahae Jae masih menyisakan sejumlah pertanyaan.
Usai meninjau proyek tersebut, Jonius belum memberikan tanggapan ketika dikonfirmasi mengenai sejumlah persoalan yang sebelumnya mencuat terkait pelaksanaan pembangunan bendungan.
Kunjungan itu dilakukan Jonius setelah menghadiri sejumlah kegiatan di Kecamatan Pahae Jae pada Sabtu. Bupati kemudian mendatangi lokasi proyek di Kelurahan Sarulla bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), camat, lurah, serta pengawas proyek bendungan.
Media ini selanjutnya berupaya meminta penjelasan langsung kepada Bupati Taput mengenai hasil peninjauan tersebut. Konfirmasi disampaikan melalui sambungan telepon selular ke nomor pribadi Jonius Taripar Hutabarat dan dilanjutkan melalui pesan WhatsApp pada Sabtu (19/9/2026).
Pertanyaan yang disampaikan antara lain mengenai temuan Bupati saat berada di lokasi serta hasil peninjauan terhadap pelaksanaan pembangunan Bendungan Sarulla di Kecamatan Pahae Jae.
Konfirmasi tersebut penting karena sebelumnya ditemukan sejumlah persoalan dalam penelusuran media di kawasan Pahae Jae.
Beberapa di antaranya menyangkut persoalan lahan yang bersinggungan dengan pembangunan bendungan, harga batu kali yang dinilai masyarakat belum berpihak kepada warga, serta metode pekerjaan beton yang dipersoalkan.
Informasi yang diperoleh di lapangan menyebutkan pekerjaan beton diduga menggunakan metode Site Mix atau molen. Sementara itu, metode Ready Mix disebut menjadi hal yang dipertanyakan dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut.
Hingga pesan WhatsApp dikirimkan pada Sabtu malam, belum terdapat respons dari Bupati Taput. Dengan demikian, hasil peninjauan Jonius Taripar Hutabarat ke lokasi Bendungan Sarulla masih menunggu penjelasan resmi dari pemerintah daerah.
Metode Pengecoran Jadi Sorotan
Persoalan teknis kembali menjadi perhatian setelah media melakukan penelusuran ke lokasi proyek Bendungan Sarulla pada Selasa (15/9/2026).
Proyek pembangunan bendungan yang disebut memiliki nilai anggaran hampir Rp25 miliar itu menjadi sorotan tidak hanya terkait metode pengecoran, tetapi juga pola pengerjaan serta nilai salah satu paket pekerjaan yang disebut mencapai sekitar Rp9 miliar.
Dalam penelusuran tersebut, muncul informasi mengenai dugaan pekerjaan yang disubkontrakkan kepada salah seorang warga Kecamatan Pahae Jae.
Berdasarkan informasi dari warga sekitar yang masih perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait, pekerjaan dengan nilai sekitar Rp9 miliar tersebut diduga dikerjakan melalui subkontraktor dengan nilai sekitar Rp6 miliar.
Adanya perbedaan nilai tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai mekanisme pelaksanaan pekerjaan, termasuk dasar penetapan nilai pekerjaan dan pembagian tanggung jawab antara pihak utama dengan subkontraktor.
Namun, informasi tersebut masih memerlukan penjelasan dari pihak pelaksana proyek maupun instansi yang berwenang agar tidak menimbulkan kesimpulan sepihak.
Material Batu Turut Dipertanyakan
Selain metode pengecoran, material batu yang digunakan dalam pekerjaan juga menjadi perhatian.
Informasi yang diperoleh menyebutkan material batu yang tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) pekerjaan bendungan adalah batu padas. Sementara saat penelusuran di lokasi, ditemukan penggunaan batu kali yang berada di sekitar aliran sungai.
Perbedaan material tersebut menjadi hal yang perlu diklarifikasi, terutama mengenai kesesuaian material yang digunakan di lapangan dengan spesifikasi teknis dan dokumen pekerjaan.
Begitu juga dengan penggunaan beton. Untuk memastikan apakah metode Site Mix yang ditemukan di lapangan sesuai dengan spesifikasi teknis, diperlukan penjelasan dari pihak pelaksana, konsultan pengawas, maupun instansi terkait.
Warga Berharap Pembangunan Berjalan Baik
Bagi masyarakat Pahae yang bermukim di sekitar lokasi, pembangunan Bendungan Sarulla pada dasarnya disambut positif.
Masyarakat berharap pembangunan infrastruktur tersebut dapat memberikan manfaat bagi daerah sekaligus berjalan sesuai ketentuan teknis, administrasi, dan penggunaan anggaran yang telah ditetapkan.
Karena itu, berbagai informasi yang berkembang terkait pekerjaan bendungan diharapkan dapat dijelaskan secara terbuka oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab.
penulis/ Erris

