topmetro.news, Langkat – Fenomena kejahatan jalanan yang dikenal ‘bajing ‘loncat’, terlihat merajalela di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, mulai dari Kecamatan Wampu hingga Kecamatan Hinai Kabupaten Langkat, akhirnya terkuak motif utamanya.
Hal ini disampaikan Sekretaris Pimpinan Wilayah Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PW HIMMAH) Sumatera Utara Aldi Satrio. Ia mengungkapkan fakta mengejutkan dari hasil pantauan langsung yang dilakukannya setiap malam di lokasi tersebut.
“Ini bukan lagi soal ekonomi atau lapar. Akar masalah bajing lompat dan pencurian TBS di Wampu adalah faktor maraknya peredaran narkoba. Mereka mencuri untuk beli sabu,” tegas Aldi Satrio kepada wartawan, Senin (19/10/2026).
Aldi menjelaskan, pola kejahatan tersebut membentuk lingkaran setan yang terus berulang. Para pelaku yang didominasi pemuda sekitar Wampu, pada malam hari mengalami sakau, kemudian beraksi menjarah truk yang melintas berjalan lambat.
Ia menjelaskan, hasil curian berupa sawit, dan sembako kemudian dijual cepat dengan harga murah Rp200 – 500 ribu kepada penadah. Uang tersebut langsung dibelikan narkoba jenis sabu yang dengan mudah didapat di koridor yang sama.
“Polanya jelas. Sakau, mencuri, jual murah, dan beli sabu untuk dipakai. Besok malam sakau lagi dan kembali beraksi. Saya melihat sendiri setiap malam, pelakunya itu-itu saja,” ungkap Aldi.
Menurutnya, koridor Kecamatan Wampu hingga Kecamatan Hinai kini menjadi dua sisi mata uang kejahatan. Di satu sisi sebagai lokasi bajing lompat, di sisi lain sebagai jalur peredaran narkoba.
Aldi menilai, selama ini pendekatan aparat kepolisian keliru. Polisi hanya menangkap pelaku bajing loncat dengan pasal pencurian ringan Pasal 362 KUHP. Tanpa pernah mengembangkan ke kasus narkoba dan tanpa melakukan tes urine.
“Percuma tangkap maling dan bajing loncatnya saja. Tangkap hari ini, 3 bulan keluar, sakau lagi, nyuri lagi. Karena bandar sabunya masih bebas. Penadah sawit curian itu sebenarnya pemodal narkoba, karena uang haram itu larinya ke sabu,” paparnya.
Oleh karena itu, lanjut Aldi, PW HIMMAH Sumut mendesak Kapolres Langkat dan BNNK Langkat untuk tidak hanya menggelar operasi pencurian. Tetapi ‘Operasi Bersih Narkoba di Kecamatan Wampu – Hinai’.
“Kami mendesak tiga langkah tegas. Pertama, bongkar sarang narkoba di sekitar Wampu – Hinai. Kedua, setiap pelaku bajing loncat yang tertangkap, wajib tes urine dan kembangkan jaringannya. Ketiga, tangkap penadahnya, karena penadah adalah penyambung antara hasil curian dan sabu,” tegas Aldi.
Aldi mengancam, jika dalam waktu dekat tidak ada tindakan nyata membersihkan narkoba dan bajing loncat di jalur tersebut, HIMMAH akan menggelar aksi massa besar-besaran.
“Kami beri waktu. Jika tidak ada perubahan, kami akan turun ke jalan dan mengepung Mapolres Langkat. Rakyat Langkat butuh jalan yang aman, bukan jalan yang dikuasai budak sabu,” tutupnya.
Hingga kini, kata Aldi, jalur Wampu – Hinai masih menjadi jalur paling mencekam bagi sopir truk logistik yang melintas di malam hari.
reporter | Rudy Hartono

