#

Soal Jumlah Alat Uji Cepat Bekas, Polda Sumut akan Berkoordinasi dengan Auditor

Soal Jumlah Alat Uji Cepat Bekas, Polda Sumut akan Berkoordinasi dengan Auditor
Advertisement

topmetro.news – Penyidik Subdit IV/Tipiter Direktorat (Dit) Reskrimsus Polda Sumut, masih terus mengembangkan proses penyidikan kasus penggunaan stik swab tes bekas.

Langkah selanjutnya, petugas akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengetahui jumlah alat uji cepat bekas yang telah digunakan para tersangka selama beroperasi sejak Desember 2020 hingga 26 April 2021.

“Kita akan berkoordinasi dengan pihak auditor untuk mengetahui sudah berapa banyak stik bekas yang digunakan para tersangka dalam menjalankan aksinya,” kata Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan, Selasa (4/5/2021).

Nainggolan menyebut, auditor itu nantinya juga akan menghitung total uang yang diperoleh para tersangka. Dari praktik kecurangan yang melanggar undang-undang kesehatan tersebut.

“Selain jumlah stik, auditor itu juga akan menghitung uang yang diperoleh para tersangka dari perbuatannya itu,” pungkas Nainggolan.

Sita Satu Unit Rumah

Sebelumnya, Polda Sumut juga menyatakan bisa menyita satu unit rumah mewah di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) milik seorang tersangka jika terbukti dibangun dari uang hasil penggunaan stik bekas tersebut.

Polda Sumut telah menetapkan lima tersangka kasus alat Swab Test Antigen bekas, di Bandara Kualanamu.

Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak menjelaskan, kelimanya adalah PC yang menjabat sebagai Bisnis Maneger Kimia Farma Kota Medan, beserta 4 pegawainya. Masing-masing berinisial DP, SP, MR dan RN.

“PC merupakan aktor intelektualnya,” terangnya.

Dalam aksinya, stick test swab Antingen yang telah digunakan dicuci dengan alkohol. Dalam sehari, stick daur ulang itu bisa digunakan 100-150 orang masyarakat yang hendak melakukan perjalanan udara. “Tentu itu tidak sesuai standar kesehatan,” tegasnya.

Panca menambahkan, para pelaku melakukan mendaur ulang stik tersebut mulai Desember 2020. Ditaksir selama ini, para pelaku telah mendapatkan keuntungan sekitar Rp1,8 miliar.

reporter | Dedi

Advertisement

Related posts

Leave a Comment