Manager PTPN II Tanjung Sejak Juli 2022-Januari 2023 Laporkan 59 Kasus Pencurian TBS

Manager PTPN II Tanjung Sejak Juli 2022-Januari 2023 Laporkan 59 Kasus Pencurian TBS
Advertisement

topmetro.news Lokasi perkebunan kelapa sawit milik PTPN II Tanjung Jati perbatasan Kabupaten Langkat dan Kota Binjai serta kondisinya berada di tengah-tengah pemukiman warga diakui sangat rentan menjadi ajang tindak pidana pencurian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit.

Sehingga sejak posisi sebagai Manager perkebunan milik plat merah di Tanjung Jati berganti kepemimpinan dari Karyadi kepada Hilarius Manurung sejak 6 bulan lalu, sistem pengamanan areal perkebunan tanaman kelapa sawit tersebut terus ditingkatkan. Sehingga hasil panen TBS perusahaan plat merah tersebut setiap bulan semakin meningkat, bahkan mampu menutupi minus hasil panen menjadi surplus melebihi target yang dicapai Manager Kebun Tanjung Jati sebelumnya.

Kepada awak media termasuk Topmetro, Manager PTPN II Kebun Tanjung Jati Hilarius Manurung mengatakan jika sejak dirinya dipercaya menjadi pimpinan di Kebun Tanjung Jati, dirinya terus berbenah dan terus meningkatkan sistem pengamanan. Sehingga upaya yang tidak sia-sia dan hasil panen Kebun Tanjung Jati semakin meningkat.

“Saya dan seluruh staf, pihak pengamanan dan karyawan benar-benar solid dan berhasil meningkatkan hasil panen dari minus menjadi plus (surplus) dan berhasil membayar minusnya hasil panen dari pimpinan kebun sebelumnya,” ujar Hilarius Manurung, Kamis (19/1/2023) di Binjai.

Hilarius mengakui jika di areal perkebunan kelapa sawit Tanjung Jati rawan pencurian. Namun dengan meningkatkan pengamanan serta kerja keras yang solid, pihaknya dalam kurun hanya 6 bulan, yakni mulai bulan Juli 2022-Januari 2023 telah melakukan upaya penangkapan para pelaku pencurian TBS.

“Kita sangat konsen untuk meningkatkan hasil panen TBS dengan meningkatkan pengamanan. Bayangkan, sejak Juli 2022-Januari 2023 sudah 54 kasus pencurian yang telah kita tangkap dan dilaporkan ke polisi. Baik di Polsek maupun Polres. Dari 54 STLP itu ada 64 tersangka yang sudah ditangani oleh aparat penegak hukum,” ujarnya.

Tuduhan

Mengenai tudingan yang oknum wartawan salah satu media terbitan Medan sampaikan yang menuding jika ada dugaan permainan antara pihak pengamanan. Baik security atau pun oknum BKO TNI dengan para ‘Ninja Sawit’, menurut Hilarius jika hal itu merupakan pendapat pribadi oknum wartawan bersangkutan dan terlalu tendensius.

“Jujur aja, saya selaku Manager di Tanjung Jati tidak pernah dikonfirmasi baik tatap muka maupun melalui HP. Kalau benar-benar oknum wartawan itu menjalankan fungsi kontrol sosial dan menjalankan kode etik jurnalistik, pasti akan berupaya melakukan konfirmasi. Kalau gak ketemu saya, kan ada Humas. Pasti dijelaskan semuanya dan sajian atau mutu pemberitaan akan berimbang dan bermutu,” ujarnya.

Hilarius Manurung menjelaskan, selaku Manager di Perkebunan Tanjung Jati, ia juga memakai hati dan kemanusiaan terhadap warga sekitar.

“Kita tidak mencegah atau melarang warga yang memiliki ternak agar ternaknya tidak masuk ke areal untuk makan rumput. Bisa saja kita melarang warga agar jangan sampai hewan ternaknya makan rumput di areal perkebunan. Nah, nanti lain lagi aksinya. Kita tau kok siapa yang paling banyak memiliki hewan ternak sapi (lembu) di sini. Bahkan kita melarang dengan tegas warga menggarap areal lahan eks HGU PTPN II Tanjung Jati,” tegasnya.

Karena, sambung Manurung, sangat aneh jika ada pihak-pihak yang mengklaim lahan eks HGU di Tanjung Jati adalah miliknya.

“Dari mana jalannya? Kita tetap diberi kewenangan untuk menjaga eks HGU yang merupakan aset negara. Kita sudah memiliki surat-suratnya. Ya, kalau ada oknum warga yang ingin memiliki lahan di atas lahan eks HGU Kebun Tanjung Jati, ya bayarlah ke PTPN II atau negara. Jangan enak aja mau menggarap dan menguasai,” ujarnya.

Reporter | Rudy Hartono

Advertisement

Related posts

Leave a Comment