Menghidupkan Warisan Leluhur: Tradisi Mangongkal Holi di Tanah Batak

SUASANA penuh haru dan khidmat menyelimuti halaman makam keluarga di Desa Lumban Sangkalan, salah satu desa di Kecamatan Bonatua Lunasi, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara, pada 1 April 2023 lalu.

Di bawah terik matahari, deretan perempuan mengenakan Ulos Ragi Idup tampak berbaris rapi sambil mengangkat peti kecil berbalut Ulos di atas kepala. Diiringi tabuhan ‘gondang sabangunan’ dan lantunan doa adat, mereka menjalankan prosesi sakral yang telah diwariskan turun-temurun: ‘Mangongkal Holi’, sebuah tradisi menggali kembali tulang-belulang leluhur untuk dipindahkan ke tempat yang lebih terhormat.

‘Mangongkal Holi’ adalah tradisi masyarakat Batak Toba yang dilakukan untuk menggali kembali tulang-belulang leluhur dari makam lama, kemudian memindahkannya ke tugu atau makam
keluarga baru yang dianggap lebih layak. Kegiatan ini tidak dimaknai sebagai tindakan profan, tetapi sebagai wujud kasih sayang dan penghormatan tertinggi terhadap arwah para pendahulu.

Tradisi ini menggambarkan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan leluhur mereka. Dalam pandangan masyarakat Batak, tulang-belulang yang disucikan dan dipindahkan ke tugu merupakan simbol penyatuan jiwa-jiwa keluarga dalam satu garis keturunan yang abadi.

Prosesi ‘Mangongkal Holi’ diikuti oleh seluruh anggota keluarga besar dari satu marga, mulai dari anak, cucu, hingga cicit. Kaum perempuan memegang peran penting dalam membawa peti berisi tulang-belulang, sedangkan kaum laki-laki bertugas menggali makam, menyiapkan tugu, dan memimpin jalannya upacara di bawah arahan ‘raja parhata’ atau ‘pemangku adat’. Upacara juga dihadiri oleh tokoh masyarakat dan warga desa yang turut memberikan doa dan dukungan moral. Kebersamaan seluruh elemen keluarga menunjukkan semangat gotong royong yang masih kuat di tengah masyarakat Batak Toba.

Tradisi ini dilaksanakan di Desa Lumban Sangkalan, Kecamatan Bonatua Lunasi, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara. Desa ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang masih mempertahankan adat dan Budaya Batak Toba secara utuh. Pemandangan alam yang dikelilingi perbukitan dan ladang hijau menjadi latar alami bagi upacara yang sakral ini.

Di halaman makam keluarga besar, masyarakat mendirikan tenda-tenda sederhana, tempat berkumpul dan berdoa bersama sebelum prosesi penggalian dimulai. Ritual semacam ini kerap menjadi momentum silaturahmi akbar bagi keluarga besar yang telah menyebar ke berbagai daerah bahkan mancanegara.

Kegiatan Mangongkal Holi di Desa Lumban Sangkalan dilaksanakan pada 1 April 2023, bertepatan dengan awal musim kemarau. Dalam Budaya Batak, waktu pelaksanaan ditentukan melalui musyawarah adat antara anggota keluarga dan tokoh masyarakat. Biasanya dipilih hari yang dianggap baik menurut perhitungan adat ‘arit ni ari’. Selain memperhatikan kondisi cuaca agar proses penggalian tidak terganggu hujan, pemilihan waktu juga disesuaikan dengan kesiapan seluruh keturunan untuk hadir bersama, karena kehadiran mereka merupakan syarat utama dari kesempurnaan upacara ini.

Bagi masyarakat Batak Toba, ‘Mangongkal Holi’ adalah simbol tiga nilai penting: kehormatan ‘hamoraon’, kemuliaan ‘hasangapon’, dan keturunan yang berkelimpahan ‘hagabeon’. Upacara ini mencerminkan falsafah ‘Dalihan Na Tolu’, sebuah sistem nilai sosial yang menuntun hubungan antarindividu agar seimbang dan harmonis. Melalui tradisi ini, generasi muda diajak untuk mengenal akar leluhur mereka, memahami makna kebersamaan, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap keluarga besar. Lebih dari sekadar ritual, tradisi ini menjadi ekspresi spiritual bahwa penghormatan terhadap leluhur adalah bagian dari menjaga jati diri dan kelestarian budaya.

Upacara dimulai dengan ‘mangido’ (memohon) berkat atau ‘mangido pasu-pasu’ kepada Tuhan dan arwah leluhur. Setelah doa bersama, para laki-laki menggali makam lama dan mengangkat tulang-belulang dengan penuh kehati-hatian. Tulang tersebut kemudian dibersihkan, dibungkus dengan kain putih dan Ulos, lalu ditempatkan ke dalam peti kecil. Para perempuan membawa peti tersebut di atas kepala sambil menari tortor mengelilingi halaman makam diiringi musik ‘gondang sabangunan’. Prosesi kemudian berlanjut ke tugu keluarga, tempat di mana tulang-belulang disemayamkan kembali secara adat.

Setelah semua selesai, keluarga besar menggelar acara syukuran dan doa bersama sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas terselenggaranya upacara dengan lancar.

Tradisi ini bukan sekadar menggali tulang, tetapi menggali makna tentang kehidupan, kebersamaan, dan cinta terhadap leluhur. Di tengah arus modernisasi yang cepat, masyarakat Desa Lumban Sangkalan menunjukkan bahwa menjaga adat berarti menjaga identitas. Lewat upacara ini, generasi Batak Toba tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga memperkuat jembatan nilai antara nenek moyang dan anak cucu di masa depan. (Revi Angel Sonata Sitorus – mahasiswa Prodi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya USU)

Related posts

Leave a Comment