Pasahat Ulos Saput: Upacara Penghormatan Terakhir Bagi Jenazah Dalam Adat Batak Toba

TRADISI Batak Toba adalah warisan leluhur yang kaya makna. Setiap ritual, dari kelahiran hingga kematian, dijalankan dengan penuh dedikasi sebagai wujud ketaatan pada adat dan penghormatan mendalam kepada orang yang telah tiada.

Salah satu tradisi paling sakral dalam prosesi duka adalah ‘Pasahat Ulos Saput’ (pemberian ulos terakhir), seperti yang berlangsung dalam cerita di bawah ini.

Suasana duka yang dalam, namun penuh kehangatan persaudaraan, persaudaraan sebuah rumah di kawasan Sorkam Barat, Kabupaten Tapanuli Tengah, pada Jumat, 28 Maret 2025 lalu. Seluruh anggota ‘hasuhuton’ (keluarga inti) dan ‘Dalihan Na Tolu’ (struktur kekerabatan Batak) berkumpul untuk melaksanakan upacara adat yang penuh khidmat. Acara ini bukan sekedar prosesi, ia adalah deklarasi cinta, pengakuan, dan penghormatan terakhir yang menjadi puncak ritual duka sebelum jenazah disemayamkan di peristirahatan terakhirnya.

Dalam prosesi yang berlangsung penuh khidmat, tampak beberapa anggota keluarga membentangkan sehelai ‘Ulos Saput’ berwarna hitam kebiruan di atas peti jenazah. Ulos ini menjadi simbol kasih dan perlindungan terakhir bagi almarhum sebelum beristirahat untuk selamanya.

“Ini tanda kasih terakhir kami kepada Beliau. Dengan Ulos ini, kami berharap arwahnya tenang dan diterima di sisi Tuhan,” ujar salah satu anggota keluarga dengan suara bergetar menahan tangis.

Ruang duka tampak dihiasi bunga putih dan lampu lembut, menghadirkan suasana yang penuh keteduhan. Beberapa kerabat menundukkan kepala dalam doa, sementara tetua adat memimpin prosesi ‘mangulosi Saput’ dengan penuh rasa hormat.

Menurut salah satu tokoh Adat Batak Toba, L Limbong, pemberian ‘Ulos Saput’ merupakan simbol kasih dan penghormatan mendalam dari keluarga kepada almarhum. “Ulos ini bukan hanya kain, tetapi lambang cinta yang tak terputus, bahkan setelah seseorang meninggal dunia,” tuturnya.

Tradisi ‘Mangulosi Saput’ ini merupakan penegasan kembali terhadap nilai-nilai luhur Batak Toba, yaitu ‘holong’ (kasih sayang), ‘marsiurupan’ (saling tolong-menolong), dan penghormatan yang tiada akhir terhadap orangtua dan leluhur. Prosesi ini menjadi pengingat bagi seluruh keturunan, bahwa menghormati orang yang telah ‘marujung’ (berakhir hidupnya) adalah kewajiban moral dan adat yang harus dijaga.

Hingga kini, di tengah gempuran modernisasi, proses sakral ini tetap terjaga, dijalankan dengan penuh makna, dan menjadi landasan kuat yang mengikat masyarakat Batak di berbagai penjuru dunia. (Eldawati Limbong – mahasiswi Prodi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya USU)

Related posts

Leave a Comment