Oleh : Tetty Naibaho
DI Tanah Batak, adat tidak pernah mengajarkan diam saat melihat yang keliru. Karena itu, pers di Samosir seharusnya berdiri sebagai penjaga nilai—bukan sekadar pencatat peristiwa. Hari Pers menjadi pengingat bahwa fungsi utama pers adalah manghatahon na sintong (menyampaikan yang benar, red), meski tidak menyenangkan bagi penguasa.
Adat Batak mengenal prinsip hatobangon (berasal dari kata Tobang) yang dituakan karena sikap dan integritas. Pers idealnya memainkan peran itu—menegur dengan akal sehat, mengingatkan dengan data, dan berpihak pada keadilan publik. Namun realitas hari ini sering berbanding terbalik. Kritik dilembutkan, pertanyaan dihindari, dan rilis resmi dijadikan kebenaran tunggal.
Marsipature hutanabe kerap disalahartikan sebagai alasan untuk menutup mata. Padahal menjaga kampung bukan berarti membungkam kebenaran. Justru kampung rusak ketika kebijakan keliru dibiarkan tanpa koreksi. Dalam adat Batak, menegur bukan memusuhi; menasihati bukan menghancurkan.
Pers yang terlalu dekat dengan kekuasaan akan kehilangan marwahnya. Ia tidak lagi menjadi suara rakyat, melainkan gema kantor. Ketika itu terjadi, yang runtuh bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga sendi moral demokrasi lokal.
Samosir tidak kekurangan seremoni, tetapi kekurangan keberanian. Pers yang merdeka dan maradat adalah pers yang berani bertanya ketika yang lain diam, dan berani menulis ketika risiko mengintai.
Hari Pers seharusnya menjadi momen kembali ke jati diri: jujur, kritis, dan berpihak pada kebenaran.
Sebab tanpa pers yang berani, adat kehilangan suara, dan rakyat kehilangan harapan.
Hari Pers bukan sekadar perayaan profesi, melainkan momen bercermin: sejauh mana pers masih setia pada kebenaran. Di tengah arus informasi yang deras, klik yang menggoda, dan tekanan kepentingan, pers diuji untuk tetap berdiri di sisi publik—bukan kekuasaan, bukan modal, bukan sensasi.
Pers lahir untuk menerangi, bukan membakar. Mengkritik tanpa membenci, mengawasi tanpa menghakimi, dan berani tanpa kehilangan nurani. Ketika berita menjadi alat propaganda, pers kehilangan rohnya. Namun ketika pers memilih jalan sunyi—jujur, akurat, dan berimbang—di situlah demokrasi menemukan napasnya.
Hari ini, tantangan pers bukan hanya hoaks, tapi juga kelelahan moral: kompromi kecil yang berulang, pembiaran yang dinormalisasi. Karena itu, Hari Pers adalah pengingat bahwa integritas bukan slogan tahunan, melainkan kerja harian.
Selamat Hari Pers.
Tetap merdeka dalam berpikir, berani dalam bersuara, dan setia pada kepentingan publik. (Penulis adalah Jurnalis di Samosir, Ketua SMSI Samosir)

