topmetro.news, Medan-Kepala Kantor Wilayah Bulog Sumut, Budi Cahyanto mengungkapkan hingga saat ini kelangkaan Minyakita masih dirasakan masyarakat. Kondisi tersebut dinilai tidak sejalan dengan klaim ketersediaan stok yang disebut aman di tingkat nasional.
Menurutnya, persoalan utama terletak pada distribusi yang belum merata. Karena itu, ia menekankan pentingnya keterbukaan data dari produsen, khususnya terkait alokasi distribusi yang selama ini terbagi antara Bulog dan distributor lini pertama (D1).
“Semua pihak harus terlibat, mulai dari Bulog, ID Food, hingga produsen. Angka alokasi 35 persen untuk Bulog harus jelas berapa kuantumnya dari masing-masing pabrik,” ujarnya saat memberikan keterangan di kantor Gubernur Sumut, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan, saat ini produsen masih menguasai sekitar 65 persen distribusi ke jaringan D1 mereka. Porsi tersebut dinilai krusial untuk segera didorong masuk ke pasar guna menekan kelangkaan.
Di sisi lain, stok yang dimiliki Bulog untuk wilayah Sumatera Utara masih terbatas, yakni sekitar 400.000 liter. Jumlah ini dianggap belum cukup untuk menjangkau seluruh kebutuhan masyarakat di provinsi tersebut.
“Perlu ada tambahan pasokan dari alokasi 65 persen tadi agar distribusi bisa lebih optimal,” katanya menegaskan.
Budi juga menyoroti kebijakan Kementerian Perdagangan yang mengharuskan distribusi Minyakita menjangkau daerah-daerah non-produsen seperti Aceh dan wilayah lain. Hal ini dinilai berdampak pada berkurangnya pasokan di Sumut.
Padahal, Sumatera Utara merupakan salah satu sentra produksi minyak sawit nasional. Ia menilai logis jika kebutuhan daerah penghasil harus diprioritaskan sebelum didistribusikan ke wilayah lain.
“CPO diambil dari sini, pabriknya di sini, jadi harusnya Sumut dulu yang diutamakan,” tegasnya.
Selain kelangkaan, persoalan harga juga menjadi perhatian. Di beberapa daerah seperti Samosir dan sejumlah kabupaten lainnya, harga Minyakita masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Bulog, kata dia, membeli dari produsen dengan harga Rp13.500 per liter dan menjual ke pengecer maksimal Rp14.500. Margin yang hanya Rp1.000 tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjangkau daerah terpencil.
Penulis I Erris

