topmetro.news, Langkat – Sulitnya memperoleh BBM yang menyebabkan antrean panjang di berbagai SPBU di wilayah Langkat dan Binjai, dimanfaatkan para pedagang minyak eceran mengambil untung besar.
Bayangkan, harga BBM bersubsidi jenis Pertalite yang biasa dibeli dari SPBU hanya Rp10 ribu/liter, namun harga di penjual minyak eceran dijual Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per liter.
Sementara harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Ron 92 yang harganya saat ini telah naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.650 per liter, di pedagang eceran BBM jenis Pertamax ini dijual dengan harga Rp18 ribu hingga Rp30 ribu per liter.
Selain itu, harga BBM bersubsidi jenis Solar, dari harga normal di SPBU Rp6.800 per liter, di tingkat eceran harganya mencapai Rp13.500 per liternya.
“Buset. Mau ngantri di SPBU, bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Itu pun bisa gak kebagian karena Pertalite sudah habis. Antrian cukup panjang berbaur dengan kendaraan jenis mobil. Jadi ya, terpaksa beli minyak di pedagang eceran. Harganya Rp25 ribu per liter,” ujar Syahrial salah seorang warga Stabat.
Ada juga warga yang menggerutu kesal, karena BBM jenis Pertalite di tingkat penjualan eceran meski harganya selangit, juga habis. “Tolonglah belikan minyak Pertamax kalau ada. Harga 30 ribu per liter juga gak apa-apa,” kata Reza.
Dari peristiwa kelangkaan BBM ini, artinya, banyak pemilik kendaraan roda 4 atau lebih, rela mengantri lama dan bolak balik mengisi ulang ke SPBU-SPBU untuk memperoleh BBM jenis Solar, Pertalite dan Pertamax, untuk dijual kembali degan cara eceran. Bisa dibayangkan keuntungan yang diperoleh para pedagang BBM eceran tersebut.
Namun, bagi pedagang BBM eceran yang hanya mengharapkan pembelian BBM menggunakan 1 unit sepeda motor atau yang biasanya menggunakan jerigen, kemudian disedot untuk dijual eceran, bisa dipastikan akan tutup. Sebab bahan baku BBM yang diperoleh dari SPBU, isinya terbatas untuk dijual kembali secara eceran. Sementara pedagang eceran Pertalite yang biasa menggunakan jerigen, dipastikan tidak akan diperbolehkan lagi, karena diawasi ratusan pasang mata yang mengantri.
Bahkan, bagi warga yang melakukan pembelian BBM jenis Pertalite ke SPBU menggunakan sepeda motor jenis Suzuki Thunder, di beberapa SPBU mendapatkan penolakan dari warga dan petugas SPBU. Sebab, volume kendaraan jenis Thunder tersebut, kerap dijadikan ajang kesempatan untuk memperoleh pengepulan BBM bersubsidi di tingkat pengecer.
reporter | Rudy Hartono

