topmetro.news, Gunungsitoli – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution menyiapkan terobosan pembiayaan di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan fasilitas penunjang nelayan di Kabupaten Nias Selatan. Langkah ini dilakukan dengan mendorong keterlibatan pihak swasta dan perbankan agar pembangunan sektor kelautan dan perikanan tetap berjalan meski anggaran daerah mengalami penyesuaian.
Hal tersebut disampaikan Bobby Nasution saat menerima audiensi kelompok nelayan, pembudidaya, serta Bupati Nias Selatan Sokhiatulö Laia di kediaman sementara Gubernur di Kota Gunungsitoli, Jumat (30/10/2026). Dalam pertemuan itu, Bobby mengungkapkan bahwa usulan tambahan anggaran dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumut mencapai Rp229 miliar. Namun, keterbatasan anggaran menuntut adanya inovasi pembiayaan agar pembangunan pabrik es, tempat pelelangan ikan (TPI), hingga pengadaan kapal tetap dapat direalisasikan.
“Kalau anggaran kita disesuaikan, harus ada ide kreatif. Jangan kalau uangnya dipotong, berarti kerjanya dipotong. Kita dorong pembangunan fasilitas bisa bekerja sama dengan pihak swasta,” tegas Bobby. Ia menjelaskan, pemerintah dapat menjembatani pembiayaan melalui skema kredit perbankan dengan opsi subsidi bunga. Dengan demikian, fasilitas perikanan dapat dikelola secara profesional oleh pihak swasta maupun kelompok nelayan tanpa sepenuhnya membebani APBD.
Selain pembiayaan, Bobby meminta Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut bersama Pemkab Nias Selatan menyusun skala prioritas kebutuhan nelayan, khususnya di kawasan kepulauan seperti Pulau Telo. Pendataan harus mencakup kebutuhan alat tangkap, pasokan air bersih, listrik, pabrik es, hingga akses pasar. Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi harus mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Bobby juga menekankan pentingnya program penyangga untuk mendukung pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih yang dicanangkan Presiden di kawasan Telukdalam dan Pulau Telo. Ia mengingatkan bahwa pembangunan fisik harus diikuti dengan penguatan ekonomi masyarakat agar fasilitas yang dibangun benar-benar memberikan manfaat jangka panjang. “Cita-cita Bapak Presiden bukan hanya membangun fisiknya, tetapi nelayan benar-benar mendapatkan manfaatnya secara berkesinambungan,” ujarnya.
Menanggapi aspirasi masyarakat yang menginginkan kehadirannya secara langsung di Pulau Telo, Bobby menyambut baik permintaan tersebut. Namun, ia meminta seluruh data kebutuhan dan program bantuan terlebih dahulu dimatangkan agar kunjungannya dapat membawa solusi konkret. “Supaya pas saya datang, kita tidak hanya bawa janji, tapi membawa program dan solusi nyata untuk nelayan,” pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Nias Selatan Sokhiatulö Laia memaparkan besarnya potensi kelautan dan perikanan di wilayahnya, mulai dari hasil tangkapan ikan, rumput laut, kerang, hingga ratusan ribu bibit lobster. Nias Selatan juga memiliki 53 titik ombak potensial untuk pengembangan pariwisata. Namun, potensi tersebut belum tergarap maksimal akibat keterbatasan fasilitas, alat tangkap, dan akses pasar. Dari 7.116 nelayan di wilayah Teluk, sebagian besar masih menggunakan sampan dayung. Bahkan, sekitar 60 ton rumput laut tidak dipanen pada bulan sebelumnya karena tidak tersedianya pembeli. Kondisi ini menjadi tantangan serius yang membutuhkan kolaborasi pemerintah, perbankan, swasta, dan masyarakat agar potensi kelautan Nias Selatan dapat menjadi sumber peningkatan ekonomi nelayan secara berkelanjutan.
penulis | Erris

