You are here
Kisah di Balik Penobatan Elizabeth II sebagai Ratu Inggris Tokoh 

Kisah di Balik Penobatan Elizabeth II sebagai Ratu Inggris

topmetro.news – Di usianya yang ke-92, Ratu Elizabeth II adalah pemimpin yang memerintah paling lama dalam sejarah kerajaan Inggris. Ia naik takhta pada 6 Februari 1952 setelah ayahnya, Raja George VI meninggal pada usia 56 tahun. Saat itu ia masih berusia 26 tahun. Hingga saat ini, total 66 tahun ia memerintah di Kerajaan Inggris.

Setelah naik takhta, selain menjadi penguasa kerajaan Inggris Raya, Ratu Elizabeth juga menjadi pemimpin sekaligus ratu persemakmuran (Commonwealth Realms). Persemakmuran ini terdiri dari Britania Raya, Kanada, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Pakistan, dan Sri Lanka.

Upacara penobatannya sendiri baru dilakukan hampir setahun setelah ia naik takhta, yaitu pada 2 Juni 1953. Pada Juni 2018 ini, tepat 65 tahun setelah Ratu Elizabeth II dinobatkan sebagai Ratu Inggris.

Ada banyak cerita menarik di balik naiknya ia ke takhta Kerajaan Inggris. Hal tersebut dirangkum oleh majalah Time dalam edisi spesial berjudul Queen Elizabeth II: The World’s Longest-Reigning Monarch.

Berikut beberapa fakta menarik di balik peristiwa besar tersebut yang patut Anda ketahui:

1. Elizabeth tidak pernah menduga atau berharap ia akan menjadi ratu Inggris

Elizabeth yang bernama lengkap Elizabeth Alexandra Mary lahir pada 21 April 1926 sebagai anak pertama dari Pangeran Albert, The Duke of York. Pangeran Albert adalah putra kedua dari King George V. Hal ini menyebabkan Elizabeth berada pada urutan ketiga pewaris mahkota Inggris, setelah pamannya Edward, Prince of Wales dan ayahnya sendiri.

Keluarga kerajaan berasumsi bahwa Prince of Wales akan segera berkeluarga dan memiliki anak, sehingga akan menggeser posisi Elizabeth ke belakang. Karena itu, ayah Elizabeth tidak pernah mempersiapkan sang putri untuk menjadi ratu. Hidup Elizabeth kecil jauh dari perhatian publik.

Namun kemudian, Edward, Prince of Wales mulai menjalin hubungan dengan sosialita Amerika Wallis Simpson, yang berstatus janda cerai. Dalam aturan Kerajaan Inggris, raja tidak boleh menikahi perempuan yang telah bercerai.

Pada 20 Januari 1936, King George V meninggal sehingga Prince Edward otomatis diangkat menjadi raja berikutnya, dengan gelar King Edward VIII.
Beberapa bulan setelah menjadi raja, ia memantapkan niatnya untuk menikahi Wallis Simpson. Namun ditolak oleh gereja dan Rakyat Inggris. Sebagai raja, King Edward harus patuh pada gereja.

Ia kemudian memutuskan mengikuti kata hatinya, menyerahkan mahkota kerajaan Inggris pada 10 Desember 1936. Ayah Elizabeth, Pangeran Albert otomatis naik menjadi Raja Inggris. Dan posisi sang putri waktu itu maju menjadi urutan kedua di takhta Inggris.

Ketika ia dan adiknya diberitahu akan perubahan kondisi ini, sang adik Putri Margaret berkata pada Elizabeth, “Apakah ini berarti bahwa pada suatu hari kamu harus menjadi Ratu?”

“Ya, suatu hari nanti,” jawab Elizabeth. Adiknya pun membalas, “Kasihan sekali kamu.”

2. Elizabeth diangkat jadi Ratu Inggris saat ia sedang berada di tengah hutan Kenya, Afrika

ratu elizabeth ii

Ayah Elizabeth, menjadi King George VI, dikenal sebagai seorang perokok keras. Akibat kegemarannya tersebut, kesehatannya terus menurun. Pada Januari 1952, setelah menikah dengan Prince Philip dan memiliki anak pertama, Prince Charles, Elizabeth melakukan perjalanan ke Kenya untuk menggantikan sang ayah.

Dengan kondisi raja yang memburuk, sekretaris pribadi Elizabeth bernama Martin Charteris selalu membawa sebuah draft deklarasi kenaikan takhta Elizabeth. Ini untuk berjaga-jaga jika raja meninggal saat sang putri pewaris mahkota sedang berada di luar Inggris.

Selama kunjungan kerajaan di Kenya tersebut, Elizabeth dan suaminya Prince Philip menghabiskan waktu di sebuah hotel yang berlokasi di tengah hutan. Elizabeth yang memiliki hobi fotografi, menikmati waktunya memotret gajah dari kamar hotelnya.

Pada pagi tanggal 6 Februari, King George VI meninggal pada usia 56 tahun. Otomatis Elizabeth naik menjadi pemegang mahkota Inggris di usia 26 tahun. Butuh waktu beberapa jam bagi pihak Kerajaan Inggris untuk bisa menghubungi ratu baru mereka yang tengah berada di hutan Afrika tersebut.

3. Ia memilih namanya sendiri, Elizabeth, untuk gelarnya sebagai ratu

Ketika berita mengenai meninggalnya King George VI sampai ke Elizabeth, sekretarisnya bertanya pada Elizabeth mengenai nama yang akan ia adopsi sebagai Ratu Inggris. Merupakan kebiasaan bagi raja baru untuk memilih nama gelar kerajaan mereka.

Ayah Elizabeth yang bernama Albert, misalnya memilih nama King George VI untuk gelarnya.

Ketika ditanya hal tersebut, dengan polos Elizabeth menjawab, “Tentu saja nama saya sendiri, Elizabeth, nama siapa lagi?” Dengan begitu, Princess Elizabeth waktu itu menjadi Queen Elizabeth II.

Sebelum itu, hanya ada satu Ratu Inggris yang memakai nama yang sama, yaitu Queen Elizabeth I yang memegang mahkota Kerajaan Inggris dan Irlandia pada tahun 1533. Ia berkuasa dari 7 September 1533 hingga 24 Maret 1603 dan berasal dari Keluarga Tudor.

4. Margaret Thatcher adalah satu dari sedikit orang yang menyambut gembira naiknya Elizabeth menjadi Ratu Inggris

Usianya yang masih muda yaitu 26 tahun, membuat Rakyat Inggris sedikit sangsi dengan kemampuannya untuk memimpin Kerajaan Inggris. Termasuk Perdana Menteri Inggris waktu itu, Winston Churchill. Ia diceritakan sempat mengeluh dengan fakta bahwa Ratu Elizabeth II waktu itu hanyalah seorang ‘anak-anak’.

Namun banyak juga yang menyambut gembira naiknya ia menjadi Ratu Inggris. Salah satunya adalah Margaret Thatcher, yang kemudian menjadi perdana menteri perempuan pertama di Inggris.

Thatcher menulis kolom di sebuah surat kabar, “Jika, naiknya Elizabeth II menjadi Ratu Inggris bisa membantu menghilangkan stigma negatif terhadap perempuan yang ingin maju dalam karier mereka dan ingin meraih tempat tertinggi, maka ini akan menjadi tanda bahwa era baru untuk perempuan baru saja dimulai.”

5. Prince Philip awalnya tidak terlalu bahagia dengan naiknya Elizabeth menjadi Ratu Inggris

Elzabeth dan suaminya Pangeran Philip memang tidak pernah menyangka bahwa ia akan mewarisi mahkota Kerajaan Inggris secepat itu. Pangeran Philip berencana mengejar kariernya di angkatan laut sebelum menjadi pendamping Ratu.

Karena itu ia sempat merasa tidak bahagia harus melepas kariernya, dan pindah ke Istana Buckingham. Ia juga sempat merasa kesulitan menjalani statusnya sebagai pendamping Elizabeth, perempuan paling berkuasa di Inggris Raya.

Selain itu, Philip juga sempat marah karena ia tidak dapat menurunkan nama keluarganya, Mountbatten yang merupakan keturunan Kerajaan Jerman, kepada anak-anaknya. Dalam tradisi Inggris, dan tradisi bangsawan, seorang perempuan otomatis akan mengadopsi nama belakang suaminya ketika ia menikah, dan begitupun anak-anak mereka.

Elizabeth berasal dari Keluarga Windsor. Dan dengan demikian status Kerajaan Inggris pun mengikuti status keluarga Elizabeth, yaitu House of Windsor. Namun jika Elizabeth mengadopsi nama keluarga suaminya, Mountbatten, maka status Kerajaan Inggris pun akan berubah menjadi House of Mounbatten. Sehingga artinya akan menjadi bagian dari Kerajaan Jerman.

Namun nenek sang ratu, istri dari King George V, Queen Mary, keberatan dengan perubahan tersebut. Ia ingin agar Kerajaan Inggris tetap berstatus House of Windsor. Selain itu, situasi Perang Dunia II di mana Jerman menjadi musuh dari negara sekutu menguatkan alasan tersebut.

Ia bekerjasama dengan Winston Churchill untuk membujuk Elizabeth agar tetap memakai nama Windsor. Elizabeth setuju sehingga Pangeran Philip sempat marah dan berkata, “Saya satu-satunya laki-laki di negara ini yang tidak diijinkan menurunkan namanya terhadap anak-anaknya.”

6. Acara penobatan Ratu Elizabeth II menjadi acara besar pertama yang disiarkan secara internasional

Acara penobatan Ratu Elizabeth II dilakukan pada 2 Juni 1953 dan ditonton sekitar 20 juta orang di seluruh dunia.

Prince Philip sebagai ketua panitia acara penobatan memiliki ide untuk membuat acara penobatan ini jadi lebih modern dengan menyiarkannya melalui televisi.
Awalnya Ratu Elizabeth dan Winston Churchill keberatan dengan ide ini. Namun mereka berubah pikiran setelah melihat tingginya minat rakyat untuk menonton acara televisi. Acara ini kemudian menjadi acara besar pertama yang disiarkan secara internasional.

Sekitar tiga juta Rakyat Inggris tumpah di jalanan ketika Ratu Elizabeth II diarak ke Westminster Abbey. Ia mengenakan gaun yang dihiasi dengan simbol-simbol Kerajaan Inggris dan negara-negara persemakmuran. (TM-RED)

sumber: kumparan.com

249 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment