You are here
Caleg DPRD Kota Medan Termuda Ini Kritis Bela Kaum Hawa Kota Medan 

Caleg DPRD Kota Medan Termuda Ini Kritis Bela Kaum Hawa

topmetro.news – Kecil-kecil cabe rawit. Kata kiasan ini pantas disematkan kepada Ananda Putri Riadi Dalimunthe SH. Apa pasal, di usianya yang baru menginjak usia 23 tahun pada 13 Januari kemarin, Uty sapaan akrabnya akan bertarung di kancah politik. Tak muluk-muluk, wanita kelahiran Kota Medan ini bertekad akan memperjuangkan aspirasi kaum Hawa.

Sifat kritis yang didapatnya pada saat menabuh ilmu di Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara pun salah satu menjadi modal utama agar suaranya kelak di dengar jika ia bersandar di Gedung DPRD Kota Medan.

Partai Nasdem yang mengusungnya mempercayai Uty bertengger di Nomor 9. Angka ini pun diyakininya, menjadi kunci keberhasilan dirinya sebagai tanda tulus, berani dan jujur memperjuangkan hak-hak kaum hawa yang selama ini masih terabaikan.

“Sederhana saja, tujuan ikut menjadi Caleg adalah untuk mewakili kaum hawa di parlemen. Karena selama ini suara kaum hawa kurang didengar di Kota Medan,” katanya mengawali wawancara dengan topmetro.news, Senin (14/1/2019) di Medan.

Optimis dan Pantang Menyerah

Putri sulung dari tiga bersaudara ini juga mendapat sifat optimis dan pantang dari sang ayah, Lilik Riadi Dalimunthe yang saat ini dipercaya menduduki kursi Pimpinan Redaksi Harian Koran Top Metro.

“Saya diajarkan dari kecil oleh ayah selalu optimis dan pantang menyerah jika itu dijalan yang benar. Hal ini juga menjadi kepercayaan diri yang lebih untuk bertarung di panggung politik,” ucap wanita berkulit putih ini.

Menurutnya, permasalahan yang menimpa kaum hawa di Kota Medan masih miris ditangani dengan serius di legeslatif. Bahkan menurut Uty, kasus seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang selama ini masih membuming di Kota Medan belum tertuntaskan dengan baik.

“Tanpa mengabaikan aspirasi lainnya, tapi menurut saya kasus KDRT ini sangat serius untuk ditindak lanjuti. Beberapa waktu saya datang ke daerah dapil IV mulai dari, Kecamatan Medan Amplas, Medan Kota, Medan Denai dan Medan Area, masih banyak ibu-ibu rumah tangga yang mengeluh tentang KDRT,” kata Uty.

Suara Perempuan Suara Rakyat

Jadi, menurut Uty, sudah saatnya suara perempuan juga suara rakyat yang harus didengar dan sama kedudukannya di legeslatif. Jangan lagi ada diskriminasi terhadap kaum perempuan.

“Dan ini menjadi PR kita bersama untuk memperjuangan suara kaum hawa agar jangan ada lagi diskriminasi perempuan. Harus ada perda yang mengatur dan menjamin kaum perempuan juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama,” pungkasnya.

Penulis: Rizal

693 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment