KELUARGA Ibu Lanni Silalahi menggelar upacara adat Batak ‘marmasuk bagas’ pada Hari Minggu, 24 Maret 2024 lalu, di kediaman mereka di dekat Terminal Onan Baru, Jalan Ronggur Nihuta, Kecamatan Pangururan, Samosir.
Prosesi sakral ini dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas berkat yang diterima keluarga serta sebagai upaya melestarikan tradisi leluhur Batak yang sarat makna.
Ritual ‘marmasuk bagas’ merupakan tradisi Adat Batak yang dilakukan ketika sebuah keluarga memasuki rumah baru atau merayakan pembaharuan kehidupan di dalam rumah. Upacara ini melibatkan doa, pemberian berkat, serta penyampaian harapan agar penghuni rumah diberi keselamatan, rezeki, dan keharmonisan.
Pada pelaksanaannya, Keluarga Besar Silalahi turut dihadiri hula-hula, dongan tubu, boru, dan para undangan yang datang memberi restu dan ‘mangulosi’ (menyematkan Ulos).
Acara dimulai dengan penyambutan keluarga oleh para tetua adat, dilanjutkan dengan pemanjatan doa dan ‘pasu-pasu’ (berkat) yang dipimpin oleh tokoh adat setempat. Suasana berlangsung khidmat, mencerminkan nilai kebersamaan dalam falsafah ‘Dalihan Na Tolu’.
Adik dari Ibu Lanni Silalahi mengungkapkan rasa syukur atas terlaksananya upacara tersebut. “Ini bukan hanya tentang memasuki rumah, tetapi tentang memasuki tahapan baru dengan membawa nilai-nilai adat yang diwariskan orangtua kami. Semoga rumah ini menjadi tempat penuh damai dan berkat,” ujar Ilam Silalahi.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan makan bersama sebagai simbol persatuan dan rasa syukur keluarga. Para tamu yang hadir juga memberikan doa dan dukungan agar Keluarga Silalahi terus diberkati dan tetap menjaga nilai Budaya Batak di tengah perubahan zaman.
Upacara ‘marmasuk bagas’ yang digelar Keluarga Ibu Lanni Silalahi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Budaya Batak memiliki nilai spiritual dan sosial yang sangat kuat. Melalui pelestarian tradisi seperti ini, masyarakat diharapkan semakin sadar akan pentingnya menjaga warisan leluhur sebagai bagian dari identitas budaya.
Dengan terselenggaranya acara tersebut, seluruh keluarga berharap nilai kebersamaan, gotong-royong, dan rasa hormat dalam Adat Batak dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.
Upacara berakhir pada sore hari dengan suasana hangat dan penuh kekeluargaan. (Rahel Theresia Rodame Situmorang – mahasiswi Jurusan Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara)

