TANGIS haru mengiringi prosesi adat di rumah duka Keluarga Aritonang di Desa Hajoran Kecamatan Tapian Nauli. Di antara isak tangis, rombongan ‘hula-hula’ (keluarga pemberi istri) menyematkan selembar kain ‘Ulos Tujung’ di kepala inang Boru Siregar, yang duduk lemah di sebelah jenazah suaminya menandai momen penuh makna dalam tradisi Batak Toba.
‘Ulos Tujung’ bukan sekadar kain, melainkan simbol kasih sayang dan penghiburan dari pihak ‘hula-hula’ kepada keluarga yang ditinggalkan.
Dalam Adat Batak Toba, pemberian Ulos ini bermakna agar keluarga yang berduka diberi ketabahan dan kekuatan menjalalani hidup. Penatua adat setempat menjelaskan, “Ulos tujung diberikan sebagai tanda bahwa kasih orangtua tidak pernah hilang meski telah tiada.”
Meski suasana dipenuhi duka, upacara berlangsung dengan sakral dan khidmat. Ulos yang ditenun dengan benang merah dan hitam itu diselimuti doa serta tangisan, menjadi lambang perpisahan dan cinta abadi. Tradisi ‘Ulos Tujung’ mengajarkan masyarakat Batak Toba makna cinta yang suci dan abadi. Ulos menjadi bahasa hati yang melambangkan kesetiaan dan kekuatan yang
diwariskan turun-temurun.
Lebih jauh, ‘Ulos Tujung’ merupakan bagian penting dalam prosesi kematian Adat Batak, sebagai simbol kesedihan dan penghormatan mendalam terhadap yang meninggal dan keluarga yang
ditinggalkan. Karena itu, prosesi penyematan ‘Ulos Tujung’ dilakukan oleh keluarga pihak ‘hula-hula’ dengan penuh rasa hormat dan pengakuan atas ikatan batin yang tak terputus antara
keluarga almarhum dan yang masih hidup.
Kain Ulos ini bukan sekadar warisan budaya, melainkan cermin nilai-nilai luhur seperti kasih sayang, kesetiaan, dan kehormatan yang terus dijaga masyarakat Batak sebagai identitas dan kekuatan dalam menghadapi perpisahan dan kehilangan. (Yohana Dwikartika Hutabarat – mahasiswi Prodi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya USU)

