DALAM setiap upacara Adat Batak, terdapat berbagai simbol dan ritual yang sarat akan makna filosofis. Salah satu momen sakral yang menandai peralihan usia bagi seorang muda Batak, khususnya yang beragama Kristen, adalah acara Naik Sidi atau yang dalam bahasa Batak disebut ‘Malua’.
Di tengah kehangatan perayaan ini, sorotan utama selalu tertuju pada tradisi kuno yang mengharukan: Pemberian Ikan Mas Utuh atau yang akrab disebut ‘Dekke’.
Dekke, bagi masyarakat Batak, bukanlah sekadar hidangan mewah. Ia adalah representasi harapan dan doa yang diwujudkan oleh orangtua dan kerabat kepada anak yang baru saja mengikrarkan kedewasaannya di hadapan gereja dan adat.
Tradisi pemberian Ikan Mas di upacara Naik Sidi membuktikan bahwa nilai-nilai adat Batak tetap kokoh dan relevan, bahkan di tengah gempuran modernisasi. Hal ini menjadi pengingat yang indah bahwa kedewasaan bukan hanya soal usia, tetapi juga tentang tanggung jawab yang diemban dan restu dari leluhur yang mengalir melalui simbol-simbol sakral, salah satunya adalah Ikan Mas yang penuh makna.
Dengan tradisi ini, masyarakat Batak tidak hanya merayakan perubahan status sebagaimana ajaran agamanya, tetapi juga memperkuat ikatan kekeluargaan dan mentransfer harapan besar dari generasi tua kepada generasi muda untuk menjalani hidup yang utuh dan panjang umur. (Arjuna Junifer Siregar – mahasiswa Prodi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara)

