Analisis Konflik Status dan Kekerabatan dalam Kisah Saul dan Sara di Tano Deli
Kisah asmara di novel fiksi seringkali tampak personal, tetapi bagi seorang Antropolog Sastra, ia adalah dokumen sosiologis. Cuplikan novel yang berlatar Tano Deli (Medan dan sekitarnya) ini menyuguhkan drama penolakan: Saul meninggalkan Sara, bukan karena tak cinta, tetapi karena ia merasa “tak mampu” mendampinginya.
Inilah analisis mendalam, mengapa di tengah masyarakat Batak/Deli, cinta tulus (Holong Roha) seringkali harus tunduk pada tuntutan status dan martabat (Hasangapon).
1. Jaring Kekerabatan yang Memenjarakan Cinta: Kuasa Partuturan
Dalam masyarakat yang kental kekerabatannya, seperti yang direpresentasikan dalam teks, individu tidak memiliki otonomi penuh atas hidupnya.
Pengawasan Senior: Kehadiran Om Willi dan Tante Kus di tempat umum melambangkan Partuturan (sistem kekerabatan) sebagai mekanisme kontrol sosial. Setiap interaksi, bahkan makan bersama, adalah ajang pengawasan dan validasi.
Keharusan Menjaga Marwah: Saul harus menjaga Hasangapon (martabat dan kehormatan sosial) di hadapan senior Sara. Penolakan dengan dalih kerendahan hati adalah upaya menjaga martabatnya agar tidak dianggap mempermainkan atau merusak nama baik keluarga Sara karena keterbatasan diri.
Inti Masalah: Saul bukan hanya berhadapan dengan Sara, tetapi dengan seluruh struktur keluarga yang diwakili oleh Om Willi.
2. Eufemisme “Terlalu Baik”: Hasangapon sebagai Tuntutan Material
Alasan klise yang dilontarkan Saul Sara “terlalu baik, cantik untuk menjadi pasangan saya” sebenarnya adalah eufemisme budaya untuk satu hal: ketidakmampuan ekonomi.
Saul si Pekerja Kelas Bawah: Saul yang mengurus motor tua dan bertemu toke (pemilik/juragan) motor sewa mengisyaratkan statusnya sebagai pekerja keras yang belum mapan. Hal ini kontras dengan ideal seorang suami yang diharapkan mampu memberikan Hagabeon (keberhasilan hidup dan kesejahteraan) bagi pasangannya.
Martabat = Materi: Dalam konteks ini, Hasangapon diukur dengan kapasitas material. Saul secara jujur (namun terselubung) mengakui ia tidak memiliki modal sosial/ekonomi yang setara untuk “membeli” kehormatan Sara.
Bayangan Siti: Keterlibatan “Siti” sebagai pembanding memperkuat argumen bahwa Saul sedang mencari standar yang lebih tinggi, atau ia sedang ditekan oleh standar sosial yang menuntut status (Siti mewakili benchmark yang lebih mapan).
Pesan Sastra: Holong Roha (cinta tulus) harus menanggapi tuntutan Hasangapon (martabat berbasis status) di atas segala-galanya. Status adalah mata uang terpenting dalam hubungan ini.
3. Gugatan Sara: Ketika Individualisme Bertemu Tradisi
Sara adalah representasi generasi yang mulai memberontak terhadap nilai-nilai struktural.
Seruan Modernis: Pertanyaan Sara, “Kalau saya cinta padamu, Bang, Apa itu salah?”, adalah seruan individualis yang menuntut agar perasaan pribadi diakui sebagai dasar utama hubungan, melepaskan diri dari pertimbangan keluarga dan materi.
Pelarian Diri Saul: Saul, alih-alih bernegosiasi, memilih melarikan diri dari meja (Diundukhon pola lelengnga nunga ro toke motor sewa i – Ia membiarkannya saja karena toke motor sewa sudah datang). Tindakan ini adalah manifestasi psikologis dari individu yang terhimpit, ia tidak bisa melawan sistem Partuturan, sehingga ia memilih mengasingkan diri dari tanggung jawab.
Kesimpulan: Fiksi sebagai Realitas Sosial
Kisah Saul dan Sara bukan sekadar plot novel, melainkan cermin sosiologis tentang masyarakat Tano Deli:
Di tengah modernisasi, cinta pribadi masih harus tunduk pada perhitungan status dan tuntutan kekerabatan.
Analisis Antropologi Sastra menunjukkan bahwa kegagalan hubungan ini adalah kegagalan struktural; sebuah pengakuan bahwa Holong Roha saja tidak cukup tanpa legitimasi sosial dan jaminan Hasangapon. Saul melakukan pengorbanan martabat demi martabat, sebuah dilema abadi di banyak budaya komunal.
Bagaimana menurut Anda, apakah masyarakat kita saat ini telah berhasil membebaskan cinta dari jerat tuntutan Hasangapon? Sampaikan pendapat Anda di kolom komentar. (***)
Disusun oleh:
Revi Angel Sonata Sitorus
Selly Magdalena Saragih
Putri Gracea Batubara
Dosen Pengampu:
Drs Jekmen Sinulingga MHum
Mata Kuliah:
Antroposastra

