22 Tahun Kabupaten Samosir — Dewasa Dalam Kuasa, Dewasa Dalam Nurani

Oleh: Tetty Naibaho

DUA puluh dua tahun lalu, sebuah kabupaten lahir dari rahim sejarah dan harapan. Kabupaten Samosir berdiri bukan sekadar entitas administratif, tetapi simbol kemandirian orang Batak di tepian Danau Toba.

Usia 22 tahun adalah usia dewasa. Usia ketika kekuasaan seharusnya matang, bukan sensitif. Usia ketika kritik dipahami sebagai kepedulian, bukan permusuhan.

Di tengah perayaan dan seremoni, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: Samosir bukan kerajaan. Eksekutif bukan singgasana.
Jabatan bukan mahkota. Ia adalah mandat.
Kursi bukan tahta. Ia adalah titipan.

Dalam negara demokrasi, pemimpin bukan raja yang harus dipuji, melainkan pelayan yang harus diuji. Rakyat bukan penonton pembangunan, tetapi pemilik sah dari setiap kebijakan yang dibuat atas nama mereka.

Di balik polemik pembangunan, pengadaan, pelayanan publik, dan tata kelola yang dipertanyakan, ada wajah-wajah sederhana yang sering tak terdengar: petani yang berharap pupuk tepat waktu dan bantuan bibit yang sesuai kebutuhan petani atau layak tanam, pedagang kecil yang berharap pasar tertata adil, nelayan danau yang berharap ekosistem terjaga, anak muda yang berharap lapangan kerja nyata dan ASN yang berharap tidak menjadi korban politik penguasa.

Mereka tidak membutuhkan pidato panjang.
Mereka membutuhkan kehadiran yang tulus.
Aspek humanis pembangunan bukan soal santunan seremonial atau unggahan media sosial. Ia soal empati dalam kebijakan. Soal keberanian mendengar keluhan tanpa alergi. Soal mengakui kekeliruan tanpa merasa kehilangan wibawa.

Kekuasaan yang humanis tidak membentengi diri dari kritik.
Ia membuka ruang dialog.
Ia tidak membangun jarak dengan rakyat, tetapi merawat kedekatan.
Nilai Batak mengenal marsiadapari—saling menopang. Pemerintah dan rakyat bukan dua kutub berseberangan. Mereka satu tubuh sosial. Ketika satu bagian sakit, seluruhnya merasakan.
Karena itu, hari jadi bukan sekadar evaluasi fisik—berapa jalan dibangun, berapa gedung berdiri—melainkan evaluasi nurani:
Apakah pelayanan sudah memanusiakan?
Apakah birokrasi masih ramah atau justru berjarak?
Apakah kebijakan dibuat dengan mendengar atau hanya memerintah?
Kedewasaan pemerintahan diuji bukan saat dipuji, tetapi saat dikritik.
Kedewasaan kepemimpinan terlihat bukan dari seberapa tinggi baliho berdiri, tetapi dari seberapa rendah hati ia bersikap.

Di usia 22 tahun ini, Kabupaten Samosir membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara struktur, tetapi hangat secara hati. Pembangunan yang tidak hanya mengejar citra, tetapi menyentuh jiwa warganya.

Karena pada akhirnya, daerah tidak diukur dari megahnya panggung perayaan, melainkan dari seberapa adil ia memperlakukan rakyatnya.

Selamat Hari Jadi ke-22 Kabupaten Samosir.
Semoga kuasa dijalankan dengan nurani, dan jabatan selalu diingat sebagai amanah — bukan singgasana. (Penulis adalah jurnalis di Kabupaten Samosir)

Related posts

Leave a Comment