Stop Kekerasan Terhadap Wartawan: Berantas Bisnis Ilegal

pengeroyokan terhadap wartawan
Advertisement

topmetro.news – Ketua Gerakan Perjuangan Pers Sehat Sutrisno Pangaribuan berterimakasih dan memberi apresiasi kepada personil Sat Reskrim Polrestabes Medan dan personil Polsek Medan Tuntungan yang telah berhasil menangkap komplotan pelaku penyiraman cairan kimia, air keras terhadap Persada Sembiring, wartawan jelajahperkara.com.

Menurutnya, keberhasilan tersebut akan semakin meningkatkan kepercayaan sekaligus harapan masyarakat terhadap polisi dengan tagline, PRESISI. “Polisi menunjukkan profesionalitas menangani kasus kekerasan terhadap wartawan. Meskipun polisi sedang mendapat tugas tambahan, yaitu mengamankan PPKM Darurat/Level 4. Dan juga pengamanan terhadap distribusi vaksin, juga program vaksinasi di berbagai tempat,” katanya.

Ia pun menyoroti fakta dalam oleh Dirkrimum Polda Sumut Kombes Pol Tatan D Atmaja dan Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Hadi Wahyudi, bersama Kapolrestabes Medan Kombes Pol Riko Sunarko, Senin (2/8/2021). Bahwa komplotan lima tersangka menyusun rencana hingga eksekusi penyiraman air keras ke bagian wajah korban akibat sakit hati. Korban membuat berita yang mengusik dan mengganggu bisnis ilegal pelaku, yaitu judi.

“Dari rangkaian peristiwa tindak kekerasan yang dialami wartawan, ditemukan fakta bahwa pelaku bisnis ilegal terusik dan terganggu akibat pemberitaan. Maraknya bisnis ilegal, seperti judi, narkoba, miras, prostitusi, illegal logging, minyak, gas, dan pupuk oplosan, di berbagai tempat, memaksa wartawan harus ‘bertarung’ untuk mendapatkan berita. Keselamatan menjadi taruhan di saat mencari, menggali hingga memberitakan kegiatan bisnis ilegal,” urainya.

Bisnis Ilegal vs Wartawan

Lanjutnya, pebisnis ilegal menjadikan wartawan sebagai sasaran kekerasan karena aktifitas jurnalistik mereka anggap mengganggu bisnis. “Pebisnis ilegal menganggap wartawan ‘tidak bisa diatur’. Sehingga berujung pada aksi kekerasan. Masih hangat dalam ingatan kita bagaimana alm Mara Salem Harahap berakhir secara tragis. Mengapa bisnis ilegal masih marak? Karena masih banyak ‘oknum’ pemangku kepentingan yang ‘bisa diatur’,” katanya.

Oleh karena itu, sebut Sutrisno, tugas utama bersama bukan hanya mengungkap dan menangkap para pelaku kekerasan terhadap wartawan. “Kita semua harus bergotong-royong memberantas semua bisnis ilegal. Karena selama masih ada bisnis ilegal, maka selama itu pula kita akan dapat suguhan berita kekerasan terhadap wartawan,” tegasnya.

Menurutnya, seluruh bisnis ilegal sudah pasti sebagai tindakan melawan hukum. Maka polisi menjadi garda terdepan dalam pemberantasannya. “Oleh sebab itu, kita meminta polisi serius dan bekerja keras untuk memberantas seluruh bisnis ilegal di Provinsi Sumatera Utara. Gotong royong polisi bersama seluruh pemangku kepentingan akan mengoptimalkan upaya pemberantasan bisnis ilegal. Ketika bisnis ilegal berhasil kita berantas, maka kekerasan terhadap wartawan pun akan berhenti,” paparnya.

Di sisi lain, Sutrisno mendorong peningkatan kapasitas dan kualitas wartawan melalui berbagai pelatihan peningakatan kapasitas yang berkesinambungan. “Kita juga meminta pengalokasian anggaran yang bersumber dari APBN dan APBD dalam bentuk belanja iklan di media pers. Sehingga pers kita semakin berdaya dan sehat,” imbuhnya.

“Dengan terpenuhinya hak- hak pekerja pers dan wartawan, kita akan menciptakan iklim yang sehat bagi kehidupan pers. Kita semua bertanggung jawab mewujudkan pers yang sehat dan kuat. Sehingga demokrasi kita semakin berkualitas. Mari kita bergandengan tangan, bergotong-royong untuk mewujudkan pers yang sehat, kuat dan berkualitas. Bebas dari kekerasan, intimidasi, dan persekusi,” tutupnya.

penulis | Erris JN

Advertisement
Advertisement

Related posts

Leave a Comment