Aksi Mengamen di Lapangan Merdeka Medan, Musisi: Pak Walikota Kami Juga Berhak Dapat Hidup Layak Sesuai Amanat UUD 1945

musisi Kota Medan
Advertisement

topmetro.news – Sejumlah musisi Kota Medan yang sempat mengalami pengusiran oleh Lurah Kesawan saat melakukan aksi mengamen di Jalan Balai Kota/Lapangan Merdeka, mengucapkan rasa terima kasih kepada Pemko Medan.

Para musisi mengaku, hingga saat ini, aksi mengamen yang mereka lakukan terlaksana dengan nyaman, aman, dan tenteram. Sesuai protokol kesehatan.

Meskipun, aksi yang bertujuan menghibur para pengendara serta pengunjung lokasi wisata kuliner seputar Lapangan Merdeka Kota Medan tersebut, tak lain juga para musisi mengharapkan adanya rezeki untuk menghidupi keluarga mereka dirumah.

Salah satu musisi, Syahid ahmad, Ketua Rockers Community yang ditemui Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Medan Bobby O Zulkarnain, didampingi Sekretaris Budo Dharma SH, Jumat (17/9/2021) menceritakan bahwa harapan mendapat rezeki untuk menghidupi keluarga sejumlah musisi jauh dari apa diharapkan.

“Alhamdulillah. Kami dapat Rp200.000. Start pukul 16.00 WIB usai Shalat Adzhar sampai pukul 18.00 WIB sebelum Adzan Maghrib berkumandang. Kami bagi berlima hari ini. Kadang mau sampai enam atau tujuh orang. Artinya minimal Rp30.000- Rp40.000 per orang setiap kali mengamen,” ujar Syahid dengan lesu.

Cerita Syahid, meskipun nominal yang mereka dapat sangatlah minim, tidak menjadikan mereka lupa bersyukur dan berterima kasih kepada Pemko Medan. Karena pemko telah memberikan kesempatan kepada mereka mencari rezeki dengan cara mengamen.

Perhatian Walikota Medan

Akan tetapi, pentingnya perhatian Walikota Medan Bobby Nasution terhadap solusi kehidupan bagi para musisi yang terdampak pandemi serta penerapan PPKM hendaknya segera terealisasi.

“Kami sangat berharap suatu keputusan dan solusi yang bijaksana dari Walikota Medan Bobby Nasuiton terhadap nasib kami dan keluarga para musisi. Sehingga kami benar-benar warga masyarakat yang dalam UU Dasar 1945. Kami beserta keluarga memiliki hak mendapatkan kehidupan yang layak,” jelas Syahid.

Sudah memasuki 3 tahun, lanjut Syahid Ahmad, dampak Pandemi Covid-19 para musisi rasakan. Belum ada suatu kebijakan, serta perhatian yang mereka irasakan secara khusus dari Pemko Medan.

“Pak Walikota kami yang masih muda, milenial, kami fikir sangatlah mengerti tentang kami para musisi ini. Yang mendapatkan rezeki dari prilofesi serta skill kami bermain musik. Tolong Pak perhatikan kami. Berikan solusi kepada kami. Agar keluarga, istri dan anak-anak kami juga bisa merasakan apa itu hidup yang layak,” harap Syahid.

Di lokasi yang sama, Ketua SMSI Medan Bobby O Zulkarnain merasa tersentuh dengan pengalaman para musisi akibat dampak pandemi. “Miris rasanya, mendengar pernyataan para teman-teman musisi. Hanya bisa membawa Rp40.000 maksimal ke rumah mereka yang belum tentu setiap harinya,” ujar BOZ, sapaan akrabnya Bobby O Zulkarnain.

Cermati UUD 1945

Menurut BOZ, ada gebrakan serta solusi bijak Pemko Medan lakukan bersama para anggota DPRD terhadap keberlangsungan hidup para musisi. “Kiranya, sinergritas antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif itu berjalan. Cobalah, wujudkan ada yang menjadi cita-cita negara yang tertulis dalam UU Dasar Negara 1945,” katanya.

“Coba cermati isi undang-undang. Ada cita-cita negara kita di alinea ke-4. Di antaranya, melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh Tumpah Darah Indonesia. Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. Melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,” jelas Bobby.

Artinya, katanya, ada tanggungjawab pemerintah terhadap warga masyarakatnya. “Bagaimana cita-cita negara itu tercapai, jika untuk kebutuhan pokok saja, ada warga masih sulit mendapatkan,” sebutnya.

“Belum lagi kebutuhan pendukung para anak-anak musisi. Baik vitamin serta biaya pendidikan. Ayolah. Pemko Medan terbukalah memberikan pandangan serta maksimalkanlah perhatian terhadap masyarakat Kota Medan secara adil dan merata,” pungkas Bobby.

Aksi Lurah Kesawan

Berita sebelumnya, tindakan pengusiran oleh Lurah Kesawan terhadap para musisi saat melakukan aksi ngamen di Jalan Balaikota, tepatnya Lapangan Merdeka Medan, Jumat (3/9/2021), viral dan menuai kecaman sejumlah elemen masyarakat serta tokoh pemuda di Kota Medan.

Pasalnya, aksi mengamen di jalan oleh para musisi Kota Medan tersebut bertujuan untuk mendapatkan rezeki untuk menghidupi keluarga di tengah Pandemi Covid-19.

Kegiatan menghibur para pengendara di jalan tersebut, menjadi pilihan terakhir para musisi. Itu mereka lakukan, ketika sejumlah usaha resto dan cafe yang menyediakan fasilitas live musik merupakan mata pencaharian sehari-hari, tutup terdampak Covid-19 serta pelaksanaan PPKM

“Kita sayangkan. Lurah yang terkesan membenturkan PPKM dalam membungkam kreatifitas para kaum muda dalam mengekspresikan diri serta mengharapkan rezeki dari pengendara,” ujar Ketua Panggung Musisi Kota Medan Budi Dharma SH.

Papar Budi Dharma, sikap Lurah Maswan Harahap terkesan mencari muka ke Walikota Medan sangat buruk. Seharusnya, jika ia memiliki wawasan, arif dan bijaksana serta benar-benar menunjukkan loyalitas, maka manfaatkan momen aksi mengamen para musisi. Menaikkan nama baik dengan merangkul serta mengapresiasi kegiatan tersebut.

“Jangan kesannya ingin menjilat malah membuat nama baik Walikota Medan Buruk di mata kaum muda serta musisi Kota Medan. Seharusnya, lurah memberikan apresiasi. Serta mendata para musisi untuk ia sampaikan kepada pimpinannya,” jelas Budi Dharma yang juga Sekretaris SMSI Medan ini.

sumber | RELIS

Advertisement
Advertisement

Related posts

Leave a Comment