Pemkab Batubara Berutang Puluhan Miliar, 2 Kelompok Massa Unjuk Rasa di Hari yang Sama

TM Gemkara menggelar aksi unjukrasa di depan Gedung DPRD Batubara Jalan Perintis Kemerdekaan Kelurahan Limapuluh, Kecamatan Limapuluh, Kabupaten Batubara, Selasa (4/9/2023), sekira pukul 11.00 WIB.

topmetro.news – Aliansi masyarakat yang tergabung dalam Tunas Muda Gerakan Masyarakat Menuju Kesejahteraan Batubara (TM Gemkara) menggelar aksi unjukrasa di depan Gedung DPRD Batubara Jalan Perintis Kemerdekaan Kelurahan Limapuluh, Kecamatan Limapuluh, Kabupaten Batubara, Selasa (4/9/2023), sekira pukul 11.00 WIB.

Awalnya sekitar seratusan massa yang datang dengan mengendarai mobil pick-up terlebih dahulu menggelar orasi unjuk rasa di halaman Kantor Sekretariat Daerah (Setda). Juga di depan Kantor Bupati Batubara yang lokasinya hanya berjarak 10 sampai 20 meteran saja dari Gedung DPRD Batubara.

Dalam aksi itu, terungkap pinjaman Pemkab Batubara sebanyak Rp139 miliar ke PT SMI (Sarana Multi Infrastruktur). Pinjaman ini sendiri dilakukan pada Tahun Anggaran (TA) APBD 2020 setelah sebelumnya Pemkab Batubara batal meminjam ke pihak yang sama dengan nilai Rp220 miliar sebab tidak disetujui oleh mayoritas fraksi di DPRD Batubara.

Namun terkait pinjaman Rp139 miliar tersebut pun, dikabarkan tidak terealisasi disebabkan tidak mendapat rekomendasi dari Menteri Keuangan alias ditolak. Jika seandainya terealisasi, pinjaman itu sejatinya bertujuan guna mempercepat pembangunan.

Pembangunan Jalan

Sebagaimana rapat pembahasan KUA-PPAS R-APBD TA 2020 bersama Dinas PUPR Batubara, yaitu untuk pembangunan jalan. Seperti pembangunan ruas jalan Simpang Gambus menuju Kedai Sianam, Jalan Ujung Kubu menuju Kwala Sikasim, Jalan Simpang KR menuju Perbatasan Asahan, Jalan Sei Simujur menuju Kandangan, Jalan Tanjung Kubah, Jalan Kampung Kedah menuju Desa Benteng, Jalan Tanah Merah menuju Titi Pagok dan Jalan Sumber Padi menuju Empat Negeri.

Di depan Gedung DPRD Batubara, tampak Ketua DPRD Batubara M Safi’i bersama Ketua Komisi I Rizal Syahreza, anggota Fraksi Golkar Rizky Aryetta, anggota Fraksi Keadilan Sejahtera Citra Muliadi Bangun, juga beberapa anggota dewan lain, menyambut para pengunjuk rasa.

Menjawab tuntutan pendemo, M Safi’i bersama anggota DPRD lain, menyatakan siap menindaklanjuti aspirasi TM Gemkara. “Terimakasih atas aspirasi yang disampaikan. Kami akan menindaklanjuti aspirasi dan tuntutan yang disampaikan. Untuk itu kami minta lima utusan untuk ikut ke ruang Komisi 1,” ajak Safi’i. Namun massa meminta agar yang masuk 10 utusan.

Tuntutan TM Gemkara

Ketika berada dalam Ruang Komisi 1 DPRD Batubara, 10 perwakilan pendemo pun menyampain poin-poin yang menjadi tuntutan mereka. Beberapa di antaranya adalah meminta Bupati Batubara untuk bertanggungjawab atas lahan tanah milik pemkab di PT Kuala Gunung seluas 350 hektar.

Meminta Bupati dan DPRD Batubara bertanggungjawab mengklarifikasi atas kebenaran utang sebesar Rp139 miliar dari PT SMI. Meminta Pemkab Batubara transparan atas sertifikat lahan 50,15 hektar pertapakan kantor bupati. Kemudian agar memanggil Kepala BPKAD terkait pembayaran lahan eks PT Socfindo sebesar Rp9,5 miliar serta bukti pencariran sesuai SP2D. Minta DPRD untuk menolak pengajuan pinjaman uang ke Bank Sumut karena merugikan rakyat.

Demo Emak-Emak

Di hari yang sama, dengan jam berbeda atau sekira pukul 14.00 WIB, tiba-tiba serombongan emak-emak menggeruduk masuk ke halaman utama Gedung DPRD Batubara. Kedatangan puluhan emak-emak itu bertujuan mendukung kebijakan Pemkab Batubara dalam berutang di Bank Sumut.

Emak-emak itu pun spontan menggelar orasi lengkap dengan sepanduk bertuliskan macam-macam tudingan kepada oknum yang tidak jelas. Bahkan di spanduk ada tertulis sebuah tudingan adanya pihak yang menjadi penghambat pembangunan di Batubara.

Sedangkan di spanduk lain tertulis soalnya ada benalu. Demikian pula satu spanduk lain yang berukuran lumayan besar. Ada tertera ‘RA’ merupakan inisial oknum yang katanya sebagai anak koruptor. Tapi sayangnya, sempat berhembus isu bahwa aksi emak-emak itu, sebelumnya tidak ada laporannya ke Polres Batubara.

Terkait soal aksi ‘bodong’ emak-emak itu sempat diakui salah seorang oknum perwira dari Satuan Intelkam Polres Batubara ketika ditanya salah seorang wartawan. Bahwa aksi emak-emak tersebut pemberitahuannya hanya melalui lisan. Namun sewaktu wartawan ingin mempertegas lagi, oknum perwira polisi itu eketika mengalihkan pembicaraan dengan alasan ada telepon masuk.

Sementara itu, guna menyahuti aspirasi emak-emak itu, Ketua DPRD Batubara bersama Ketua Komisi I Rizal Syahreza, Rizky Aryetta dan Citra Muliadi Bangun mencoba mengajak beberapa perwakilan pendemo. Namun emak-emak itu menolak dan tetap bertahan ingin mendengar jawaban di depan pintu gedung DPRD saja.

Sama seperti saat menjawab kelompok pendemo TM Gemkara, Mhd Safi’i pun berjanji akan menampung semua aspirasi para pengunjuk rasa. Namun berbeda dengan Rizky Aryetta, anggota DPRD Batubara anak mantan Bupati OK Arya Zulkarnain ini menjawab dengan sikap terbawa perasaan.

Permainan Bupati

Pasalnya Rizky Aryetta merasa dirinya lah oknum berinisial ‘RA’ yang dituliskan emak-emak pendemo dalam baleho yang mereka bawa. “Saya anak koruptor. Mulai saat ini akan bungkam. Saya ikuti saja permainan yang diinginkan Bupati Batubara,” teriaknya seraya dengan mata berkaca-kaca.

Selanjutnya usai pernyataan Rizky Aryetta itu, massa emak-emak pun langsung bubar. Terlihat kepulangan emak-emak pun ke arah berbagai penjuru mata angin. Termasuk oknum yang mengaku sebagai koordinator emak-emak langsung menghilang bagai tertelan Bumi.

reporter | Bimais Pasaribu

Related posts

Leave a Comment