Recovery Korban Gempa Pijay Terkendala

Advertisement

TOPMETRO.NEWS – Proses rehabilitasi dan rekonstruksi (recovery) Pidie Jaya (Pijay) pascagempa, 7 Desember 2016 hingga kini terkendala karena Presiden belum menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) pembangunan Pijay.

Wakil Bupati Pijay Said Mulyadi melaporkan hal itu saat acara diskusi dan penggalangan dana efek gempa Pijay, yang diselenggarakan Ikatan Alumni (IKA) Unsyiah Jakarta di Hotel Koetaradja Amazing Jakarta, kemarin.

“Saya sudah telusuri ke Kementerian PUPR, ternyata kementerian belum menerima Keppres, sehingga pembangunan kembali tidak bisa dilakukan. Kata pejabat di PUPR, mereka belum bisa bekerja karena belum ada regulasinya,” kata Said Mulyadi.

Ia mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan seluruh rencana aksi pembangunan kembali Pijay setelah gempa jauh-jauh hari. “Rencana ini membutuhkan anggaran Rp 2,7 triliun,” tukas Said Mulyadi.

Sejumlah tokoh Aceh dan anggota Parlemen di Senayan, Muhammad Nazar, Ghazali Abbas Adan, M Nasir Djamil, Teuku Syafli Didoh, Azwar Abubakar, dan lain-lain mengaku kaget karena belum terbitnya regulasi recovery Pijay.“Padahal Presiden sudah dua kali ke Pijay, tapi ternyata pekerjaan rehabnya belum berjalan. Saya akan bantu telusuri masalah ini,” kata senator Ghazali Abbas Adan. Ia berjanji menghubungi sekretariat negara untuk mempertanyakan hal ini.

Anggota DPR RI asal Aceh, Nasir Djamil juga mengatakan hal serupa. “Sangat kita sayangkan. Padahal kalau tidak salah, perintah Presiden masjid-masjid yang rubuh harus sudah difungsikan pada Ramadhan ini. Namun melihat kenyataan, rasanya tidak terkejar, karena Ramadhan tinggal tiga bulan lagi,” kata Nasir Djamil, politisi PKS di Komisi III DPR.

Sedangkan mantan Wagub Aceh Muhammad Nazar mengingatkan pemerintah jangan terlalu lamban merealisasikan recovery Pijay. “Kita harus ingatkan Pusat terus menerus soal ini, melalui cara dan langkah kita masing-masing. Harus dilakukan advokasi,” kata pria asal Ulim, Pijay ini.

Pada kesempatan yang sama, IKA Unsyiah Jakarta mengumumkan telah membangun klinik terbuat dari kontainer. “Sudah dua kontainer yang selesai dari 16 kontainer yang direncanakan. Kita akan kejar penyelesaian pembangunan klinik kontainer ini,” kata Ketua IKA Unsyiah Jakarta, Ismail Rasyid.

Kelak, klinik ini akan menyediakan 40 tempat tidur pasien, ruang dokter, dan ruang operasi. Klinik kontainer tersebut nantinya bisa dipindahpindahkan sesuai kebutuhan lapangan. “Jadi akan sangat membantu penanganan kesehatan di daerah bencana,” ujar Ismail.

Pembangunan rumah sakit kontainer tersebut membutuhkan anggaran 1,2 miliar. “Kita sudah kumpulkan 40 persen anggarannya, tinggal yang kurang 60 persen. Tapi kita akan galang dana untuk menutupi kekurangannya,” ujar Ismail Rasyid, pengusaha bidang transportasi.Pada malam itu berhasil terkumpul sumbangan 102 juta dan tambahan biaya dari Rektor Unsyiah Rp 200 juta. (TMN)

Advertisement

Related posts

Leave a Comment