Ephorus HKBP: Keberadaan RSU Tarutung Taput tak Terpisahkan dengan Sejarah HKBP

topmetro.news, Medan – Ephorus HKBP Pdt Dr Victor Tinambunan MST menyebut, bahwa RSU Tarutung Taput memiliki sejarah yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan oleh RMG (Rheinische Missionsgesellschaft) yang kemudian dilanjutkan HKBP.

Hal ini disampaikan pucuk Pimpinan HKBP tersebut, melalui relis tertulis, yang sampai ke meja redaksi topmetro.news, Senin (15/6/2026).

“Menelusuri sejarah, dokumen, dan jejak pelayanan kesehatan yang berlangsung lebih dari satu abad, Rumah Sakit Umum Tarutung memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan pelayanan kesehatan yang dirintis oleh badan zending Jerman, Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), dan kemudian dilanjutkan oleh Huria Kristen Batak Protestan (HKBP),” sebut Ephorus HKBP dalam relis tertanggal 15 Juni 2026 tersebut.

Disebutkan, bahwa sebagaimana Rumah Sakit HKBP Balige yang saat ini dikelola oleh HKBP, RSU Tarutung juga memiliki keterkaitan sejarah yang kuat dengan pelayanan kesehatan HKBP. Berdasarkan dokumen-dokumen historis yang dimiliki HKBP, rumah sakit tersebut merupakan bagian dari warisan pelayanan RMG yang kemudian diserahkan kepada HKBP.

“HKBP memiliki sejumlah dokumen yang menjadi dasar historis atas keyakinan tersebut. Di antaranya adalah dokumen penyerahan rumah sakit dari RMG kepada HKBP, serta dokumen penyerahan dari Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Kesehatan pada tahun 1954. Dalam proses penyerahan tersebut, termasuk Rumah Sakit HKBP Balige yang hingga saat ini tetap berada dalam pengelolaan HKBP,” tulis Pdt Dr Victor Tinambunan.

Ia menyebut, bahwa dokumen-dokumen tersebut menjadi bagian penting dalam melihat perjalanan sejarah pelayanan kesehatan yang telah dibangun sejak masa pelayanan para misionaris dan diteruskan oleh HKBP bagi masyarakat luas.

“Selain dokumen yang tersimpan di HKBP, terdapat pula berbagai catatan sejarah yang masih tersimpan di perpustakaan VEM di Jerman. Catatan-catatan tersebut memuat jejak sejarah mengenai keberadaan RSU Tarutung sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang sebelumnya dikelola oleh RMG dan kemudian diteruskan oleh HKBP,” sebutnya.

Menurut Ephorus, bagi HKBP, RSU Tarutung bukan sekadar persoalan tanah dan bangunan. Rumah sakit ini merupakan bagian dari sejarah pelayanan kasih, sebuah warisan yang mencerminkan pengabdian panjang dalam bidang kesehatan, kemanusiaan, dan pelayanan sosial kepada masyarakat tanpa membedakan latar belakang suku, agama, maupun golongan.

“Hal tersebut diperkuat dengan nota kesepahaman awal antara Pimpinan HKBP, Ketua Komite Aset HKBP dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara bersama DPRD Kabupaten Tapanuli Utara pada tanggal 11 Februari 2016,” jelasnya.

Pdt Dr Victor Tinambunan menuliskan, bahwa selama lebih dari satu abad, pelayanan kesehatan yang lahir dari semangat melayani telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di wilayah Tapanuli dan sekitarnya. Karena itu, lanjutnya, sejarah, dokumen dan fakta-fakta yang ada, perlu ditempatkan secara objektif dalam upaya menemukan kebenaran dan keadilan.

Ia pun menegaskan komitmen HKBP untuk terus memperjuangkan status kepemilikan dan pengelolaan RSU Tarutung melalui mekanisme hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia.

Upaya ini, senutnya, bukan semata-mata tentang kepemilikan sebuah aset. melainkan tentang penghormatan terhadap sejarah dan warisan pelayanan yang telah dibangun melalui pengorbanan, dedikasi, dan pengabdian panjang HKBP bagi masyarakat.

“Dengan menghargai sejarah dan berdasarkan bukti-bukti yang ada, HKBP berharap seluruh pihak dapat bersama-sama melihat persoalan ini secara jernih, mengedepankan kebenaran, keadilan, serta penghormatan terhadap nilai pelayanan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi,” tutup Ephorus HKBP.

sumber | RELIS

Related posts

Leave a Comment