topmetro.news, Jakarta – PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, meraih Apresiasi Minerba 2026 Bidang Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilan program Martabe Chicken Farm (MCF), sebuah program agribisnis terintegrasi yang menghubungkan petani jagung dengan peternakan ayam petelur di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Penghargaan diserahkan dalam penutupan Minerba Convex 2026 di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno, menegaskan bahwa keberhasilan sektor pertambangan tidak hanya diukur dari besarnya produksi, volume, maupun penerimaan negara, tetapi juga dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, program pemberdayaan masyarakat harus menjadi investasi sosial berkelanjutan, bukan sekadar kewajiban perusahaan atau bantuan sesaat. Sementara itu, Director External Relations PT Agincourt Resources, Sanny Tjan, menyebut penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas kerja keras petani, peternak, dan masyarakat Tapanuli Selatan dalam membangun kemandirian ekonomi.
Program Martabe Chicken Farm menerapkan sistem contract farming yang menghubungkan petani jagung secara langsung dengan peternakan ayam petelur tanpa melalui tengkulak. Melalui pola ini, petani memperoleh kepastian pasar dan harga, sedangkan peternakan mendapatkan pasokan bahan baku pakan lokal. Hasilnya, delapan petani mencatat produksi jagung sebanyak 13.845 kilogram sepanjang Januari hingga September 2026, dengan pendapatan meningkat 31 persen menjadi Rp90,43 juta. Pada periode yang sama, peternakan MCF menghasilkan 188.366 butir telur dengan pendapatan penjualan mencapai Rp327,41 juta.
Manager Community Development PT Agincourt Resources, Rohani Simbolon, menjelaskan bahwa MCF dibangun sebagai model bisnis terpadu yang menggabungkan sektor pertanian, peternakan, dan pengolahan limbah. Sebanyak 42 orang terlibat dalam ekosistem program tersebut, mulai dari petani jagung, pengelola peternakan, siswa SMK pertanian hingga petani milenial. Program ini juga menerapkan ekonomi sirkular dengan mengolah sekitar 29,3 ton kotoran ayam menjadi pupuk organik untuk 17,5 hektare lahan pertanian selama Januari hingga Juni 2026. Pemanfaatan energi surya turut mendukung operasional peternakan dan berpotensi menurunkan emisi hingga 6,02 ton CO₂e per tahun.
Berdasarkan analisis Social Return on Investment (SROI), investasi sebesar Rp582 juta dalam program MCF menghasilkan nilai manfaat ekonomi mencapai Rp717,74 juta, dengan rasio SROI 1,23. Artinya, setiap Rp1 investasi menghasilkan manfaat senilai Rp1,23. Ke depan, PT Agincourt Resources menargetkan peningkatan jumlah petani yang terlibat dari 20 menjadi 56 orang dalam lima tahun mendatang, sementara produksi telur diproyeksikan mencapai 2,55 juta butir per tahun pada tahun kelima. Program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dapat direplikasi dan tetap berjalan secara mandiri, bahkan setelah kegiatan pertambangan berakhir.
Penulis: Erris/ril

