You are here
Kenaikan Peringkat Utang Berdampak Positif Ekonomi & Bisnis 

Kenaikan Peringkat Utang Berdampak Positif

Topmetro.news – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kenaikan peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional Moody’s akan berdampak positif. Kenaikan peringkat utang ini mendorong pertumbuhan industri jasa keuangan dan stabilitas perekonomian di Indonesia.

Menurut Rizal Ramli, ekonom senior dan mantan Menko Ekuin, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi tidak akan banyak berubah hingga 2019, yaitu di kisaran 5% saja.

“Ekonomi kita dua tahun terakhir mandek di 5%, dan akan berlanjut kemandekan ini sampai 2019 karena kebijakan makro ekonominya sangat konservatif,” tutur Rizal dalam diskusi kebangsaan yang diselenggarakan di Bandung, kemarin.

Kebijakan Perekonomian

Mantan Menko Ekuin itu beranggapan, kebijakan perekonomian yang super konservatif, seperti yang digunakan pemerintah saat ini adalah kebijakan yang dibuat sekadar mengamankan pembayaran pokok dan bunga utang saja. Untuk pembayaran pokok dan bunga utang yang jatuh tempo pada 2018 saja, mencapai Rp 840 triliun.

“Dan itu sama dengan dua kali dari anggaran infrastruktur, sehingga tidak aneh ekonomi mandek di 5%,” ujarnya.

Dengan begitu, lanjutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pun tidak akan pernah menembus dua digit jika pemerintah masih bersikeras dengan kebijakan super konservatif yang menggunakan pakem ekonomi neoliberal ala Bank Dunia. Dia pun menegaskan jika kebijakan ini harus diubah untuk menyelamatkan kondisi perekonomian Indonesia.

Kebijakan Pemerintah tak Berubah

Rizal mengaku kerap menanyakan langsung kondisi perekonomian dan kehidupan rakyat dalam setiap kesempatan kunjungannya di berbagai daerah di Indonesia. Kebanyakan masyarakat, menurut dia, menjawab jika kondisi hidup mereka akan tetap sulit tanpa adanya perubahan kebijakan dari pemerintah.

“Kami khawatir dan kami tanya tadi di sini kira-kira bakal baik tidak nasib di tahun yang akan datang? Kami tanya di Sumatera Utara, Ternate, Tidore mengenai apakah rakyat di dua tahun atau tujuh tahun lagi akan lebih baik nasibnya? Mereka menjawab tidak yakin akan lebih baik,” tutur dia.

Terhadap realitas itu, Rizal mengingatkan pemerintah untuk mawas diri dan bisa berlapang dada melakukan intropeksi. Kalau tidak mampu memperbaiki nasib rakyat lebih baik sudahi saja. Jangan malah sibuk memoles diri agar terpilih kembali di Pilpres mendatang.
“Kecuali mampu ada kejelasan programnya, strateginya apa yang mau dilakukan ke depan. Tapi kalau nggak saya kira cukup, kasihan rakyat.”(tmn)

sumber: neraca

151 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment